Menjemput Kejayaan Dharmasraya Dimasa Lalu Untuk Masa Kini

Seorang balita terlihat di pintu masuk Kawasan Candi Padang Roco, Kabupaten Dharmasraya.(yuke)

Ketika ditanya, apa Pemkab Dharmasraya telah melakukan pelestarian peninggalan peradaban masa lalu?

“Sudah mulai terlihat. Salah satunya dengan melakukan ekskavasi berbagai situs sejarah yang ada. Begitu pula untuk kesadaran kolektif juga sudah mulai terbentuk,” tutupnya.

Keseriusan Pemkab Dharmasraya untuk melestarikan kejayaan masa lalu terlihat dalam Festival Pamalayu yang berlangsung awal 2019. Festival yang diselenggarakan pemerintahan Sutan Riska tersebut merupakan kegiatan yang dulunya ada, sempat terhenti kini dibangkitkan kembali.
Kemeriahan Festival Pamalayu kian terasa, tatkala peringatan Hari Maritim Nasional dilangsungkan di Sungai Batang Hari Dharmasraya. Melalui festival itu masyarakat kembali dibawa ke masa lalu, dimana kapal-kapal besar pernah bersandar di sungai terpanjang di Sumatera, Indonesia tersebut.

Meski tak sempat menyaksikan secara langsung kemeriahan Hari Maritim Nasional yang digabungkan dalam kegiatan Festival Pamalayu, namun lewat tayangan berbagai vidio yang telah ditayangkan di media sosial, saya seakan tersihir. Kemeriahan dan ramainya lalu lintas perkapalan hari masa lalu kembali hadir hari itu.

Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan, S.E dalam situs festivalpamalayu.com menjelaskan Festival untuk menjemput tuah. Pembukaan Festival Pamalayu digelar pada hari Kamis, 22 Agustus 2019 di Museum Nasional, Jakarta, tempat Amoghapassa kini berada.

“Festival Pamalayu membangkit batang tarandam,” katanya.

Dijelaskannya, kerajaan Dharmasraya jauh lebih tua dibanding Majapahit. Literatur tertulis tentang Dharmasraya tersua dalam kitab Niti Saramuscaya, yang hingga hari ini diakui sebagai naskah melayu tertua di dunia.