Mengarusutamakan Isu Pendidikan untuk Cerdaskan Kehidupan Bangsa

CEO PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat

PADANG – Program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Batch 3 yang digagas oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan didukung oleh PT Paragon Technology and Innovation resmi berakhir, Kamis (30/12/2021). FJP Batch 3 ini sendiri digelar selama tiga bulan sejak September hingga 30 Desember 2021 diikuti 15 wartawan terpilih dari seluruh Indonesia.

Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari mengatakan, Fellowship Jurnalisme Pendidikan mengatakan GWPP mengusung misi “mengarusutamakan isu-isu pendidikan dalam liputan dan pemberitaan media.”

Gerakan ini lahir atas dasar kesadaran konstitusional betapa penting dan strategisnya pendidikan sebagai salah satu sokoguru utama mewujudkan cita-cita luhur “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.

“Kita dihadapkan pada realitas yang mengisyaratkan isu-isu pendidikan kalah pamor dan kurang seksi di mata media jurnalistik atau pers. Bahkan media-media dari kelompok besar pun belum memiliki rubrik/halaman/kanal khusus pendidikan. Liputan isu-isu pendidikan ditangani oleh desk atau tim redaksi yang juga menangani isu-isu lain,” kata Nurcholis saat Pelepasan Peserta Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 3 yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting pada Kamis (30/12/2021).

Berangkat dari kondisi seperti itulah GWPP menginisiasi program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP).

“Alhamdulillah, atas dukungan personal dan institusional Chief Salman Subakat, program Fellowship Jurnalisme Pendidikan ini telah sukses terselenggara sebanyak tiga angkatan dan Insyaa ALLAH akan dilanjutkan angkatan berikutnya,” ujarnya.

Baca Juga  Rekonstruksi Kasus Pembunuhan di Dharmasraya, Pelaku Peragakan 15 Adegan
Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemendikbud Prof Ir Nizam (kiri atas) dan Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari (kanan bawah).

Kegiatan FJP GWPP mencakup tiga aspek, yakni pelatihan, praktik, dan pendampingan (dalam bentuk coaching & mentoring) dari lima wartawan senior yang punya reputasi dan pengalaman jurnalistik panjang di media-media terkemuka, nasional maupun internasional.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilaksanakan secara intensif via daring. Adapun praktik liputan dan penulisan artikel dilakukan secara hybrid, kombinasi offline-online atau luring dan daring.

Materi pelatihan mencakup pengetahuan dan keterampilan jurnalistik, termasuk aspek etika dan hukum pers. Selain itu, para peserta juga mendapatkan pengayaan materi non jurnalistik terkait dengan pendidikan dan kebangsaan. Total ada 13 sesi pelatihan jurnalistik dan 14 sesi pengayaan materi non jurnalistik selama berlangsungnya program FJP Batch III.

“Total narasumber yang dihadirkan mencapai 27 orang dari kalangan praktisi media, guru, dosen, mahasiswa/mahasiswi, pelajar, aktivis/komunitas penggerak pendidikan, pengelola lembaga pendidikan, pejabat bidang pendidikan, dan pemangku kepentingan terkait pendidikan,” jelasnya.

Selama September – Desember 2021, total karya jurnalistik yang ditulis para peserta mencapai 546 artikel. Jika dirata-rata, per peserta menghasilkan lebih dari 36 artikel (tiga artikel per pekan) tentang pendidikan, termasuk feature, profil tokoh atau lembaga, dan laporan berkedalaman atau indepth reporting. Artikel itu ditulis dan dipublikasikan, baik sebagai hasil penugasan liputan mandiri maupun liputan bersama. Khusus untuk liputan bersama, tema yang diangkat ialah Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Baca Juga  Lenggah Saat Parkir, 25 Juta Raib dalam Sekejap

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemendikbud Prof Ir Nizam mengapresiasi program yang dibuat oleh GWPP dan PT Paragon Technology and Innovation ini.

“Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan jurnalis yang peduli pendidikan. Insyaa Allah, kita bisa membangun sumber daya manusia melalui pengembangan pendidikan,” ujarnya.

Sedangkan itu, CEO PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat mengatakan, Fellowship Jurnalisme Pendidikan sudah seperti laboratorium hidup untuk mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia.

“Mudah-mudahan ini juga menjadi model dan pengarusutamaan atau mungkin ada yang bilang laboratorium hidup atau komunitas atau paguyuban yang karena ditulis jadi mudah diikuti. Sehingga efek amal jariyah dan efek dominonya jadi lebih besar,” paparnya.

Salman mengatakan, dirinya banyak belajar melalui program Fellowship Jurnalisme Pendidikan.

“Saya juga banyak belajar di sini sehingga jadi pakai hati dan berhati-hati kalau menulis. Saya lebih berterima kasih dan hanya bisa support secukupnya, dan pahlawan-pahlawan sebenarnya adalah teman-teman semua,” lanjutnya. (benk)