Menapak Jejak Syiar Islam: Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Fishum UPGRISBA Sambangi Surau Gadang Syekh Burhanuddin

OLEH : DR. ZULFA

PADANG PARIAMAN,,- Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun di atas kertas, melainkan ruh yang bersemayam dalam struktur bangunan dan tradisi. Prinsip inilah yang membawa 50 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fishum Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) melakukan kunjungan edukatif ke Situs Cagar Budaya Surau Gadang Syekh Burhanuddin di Ulakan, Padang Pariaman, Selasa 12 Mei 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari kuliah lapangan ini bertujuan untuk membedah lebih dalam peran Syekh Burhanuddin sebagai pionir penyebaran Islam di Minangkabau, sekaligus mengamati arsitektur surau yang masih kokoh berdiri sebagai saksi bisu peradaban abad ke-17.

Simbol Akulturasi Budaya

Setibanya di lokasi, para mahasiswa disambut oleh kemegahan arsitektur Surau Gadang yang khas. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol perlawanan terhadap zaman. Dengan atap tumpang dan ukiran khas Minang, surau ini merepresentasikan harmoni antara ajaran Islam dengan kearifan lokal.
> “Melihat langsung struktur bangunan dan mendengarkan sejarah lisan dari pengelola situs memberikan perspektif yang jauh berbeda dibanding hanya membaca buku teks di kelas,” ujar salah satu mahasiswa peserta kunjungan.
>

Baca Juga  Jadi Pembina Upacara di SMA Adabiah, Miko Kamal Sampaikan Kisah Sukses mantan Perdana Menteri Singapura

Menyelami Pemikiran Sang Ulama
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga berdiskusi mengenai tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin setelah berguru kepada Syekh Abdurrauf as-Singkili di Aceh. Diskusi ini menjadi krusial bagi mahasiswa pendidikan sejarah untuk memahami bagaimana Islam masuk ke pedalaman Minangkabau melalui pendekatan kultural yang damai.

Dosen pendamping lapangan Kaksim, juliandri, Meldawati dan Zulfa menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen Prodi Pendidikan Sejarah UPGRISBA untuk mencetak calon pendidik yang memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan warisan budaya lokal.
“Kita ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penghafal sejarah, tapi juga penjaga ingatan kolektif bangsa. Surau Gadang ini adalah laboratorium hidup,” ungkapnya.
### Pelestarian Cagar Budaya
Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa melakukan observasi terhadap kondisi fisik bangunan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tersebut. Langkah ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi situs bersejarah di tengah gempuran modernisasi.
Melalui tulisan ini, diharapkan masyarakat luas, khususnya generasi muda, kembali menaruh perhatian pada situs-situs bersejarah seperti Surau Gadang Syekh Burhanuddin. Karena dari sanalah, identitas dan jati diri masyarakat Minangkabau (Zulfa, Fakultas Pascasarjana UPGRISBA)**