Menanti Sinyal Palapa Ring di Puncak Dilan

oleh
Anak-anak muda eksis di dunia digital berkat program wifi murah dari PT Telkom. Hendri nova

 

 

 

 

Hendri Nova

Wartawan topsatu.com

“Abang sudah sampai.”

Saya langsung menekan tombol kirim, seusai mengetik pesan yang rutin saya kirim ke istri saya, begitu saya sampai di tempat tujuan. Pesan dengan bunyi yang sama ini, selalu saya ulang setiap saya keluar kota. Kali ini, saya dapat tugas ke daerah Pancuang Taba Pesisir Selatan Sumatra Barat.

Namun setelah sekian menit menunggu, pesan saya tak kunjung sampai. Saat itulah saya baru memperhatikan penanda sinyal yang tidak ada sama sekali. Saya pun terperangah, karena di layar juga tertulis tidak ada layanan.

Begitu sampai ke penginapan, saya pun bertanya ke pemilik penginapan perihal sinyal di daerah ini. Dari merekalah saya tahu, jika daerah Pancung Taba ini belum terjangkau sinyal telekomunikasi dari operator manapun juga.

Terbayang oleh saya, istri yang mulai cemas karena saya tidak juga mengirim kabar. Maklumlah, daerah ini masuk kategori daerah terpencil. Untuk sampai ke sini, rombongan para wartawan harus melewati hutan di bukit-bukit dengan jalan yang tidak bisa dilewati oleh dua mobil.

Tak jarang mobil berhenti dan saling beringsut maju, saat ada mobil yang berpapasan. Daerah yang berada di balik bukit kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) ini, memang masih butuh sentuhan pembangunan.

Jaraknya dari kota Padang lebih kurang 150 Km dengan masa tempuh lebih kurang lima jam. Ada 300 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami daerah ini.

Sambil menunggu waktu shalat Isya masuk, saya pun kembali membuka smartphone. Mata saya tertuju ke Whatsapp (WA) dengan puluhan pemberitahuan.

Alangkah terkejutnya saya, ketika mendapati pesan dari humas Bank Indonesia (BI). Humas meminta saya hadir jam 08.00 WIB untuk wawancara dengan kepala BI yang baru.

Kepanikan langsung melanda pikiran saya. Bagaimana saya hendak membalas pesan WA ini, sinyal di sini tidak ada sama sekali.

Pemilik penginapan kemudian memberikan solusi pada saya. Pagi nanti selepas shalat Subuh, ia akan menemani saya ke Puncak Dilan. Hanya di Puncak Bukit Dilan ini ada sinyal telekomunikasi.

Warga Pancung Taba yang ingin terhubung dengan keluarganya dimanapun berada, akan mendaki puncak ini, agar bisa saling bertukar kabar. Warga enggan mengambil alternatif kedua, dengan menempuh jarak tiga kilometer ke nagari tetangga.

Harapan ini sedikit menenangkan hati saya. Saya pun berharap agar pagi cepat datang, agar kabar ini bisa saya sampaikan segera.

Paginya, seusai shalat Subuh, saya pun menunggu janji pemilik penginapan. Saya kemudian dicarikan ojek saudaranya yang sudah terbiasa membawa warga mendaki ke Puncak Dilan dengan sepeda motornya.

Setelah minta izin pada pemilik penginapan, saya pun di bawa ke Puncak Dilan. Bayangan saya waktu itu, kawasan ini memiliki akses jalan yang nyaman. Namun itu sirna, begitu saya berhadapan dengan kenyataannya, 10 menit dari penginapan di Pancung Taba.

Jalan ke Puncak Dilan hanya berupa jalan beton selebar satu meter. Pendakiannya sangat tajam, dengan ancaman jurang terjal di sampingnya.

Hati saya bergidik ngeri, begitu motor mulai mendaki. Saya pun tak berani menoleh ke samping kiri dengan jurang yang menganga lebar.

Dari tukang ojek bernama Indra ini saya mendapat informasi, jika jalan ini sudah banyak memakan korban. Sudah tak terhitung motor yang terguling ke dalam jurang. Namun syukurnya, semua selamat hanya lecet dan luka-luka ringan.

Meski begitu warga Pancung Taba, terutama yang muda-muda, tidak kapok untuk mendaki kembali. Mereka tidak mau menempuh jarak 3 Km ke daerah tetangga, demi mengingat harga BBM yang mahal di daerahnya.

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 15 menit tersebut, kami berpapasan dengan motor warga lainnya. Gemericik bunyi rem cakram menambah ngilu di jantung saya.

Lidah dan hati saya tak putus-putus berdoa, agar Allah SWT menyelamatkan saya dalam perjalanan ini. Sungguh saya tidak akan mendaki Puncak Dilan ini lagi dengan motor, untuk kedua kalinya. Biarlah saya bayar mahal untuk menempuh jarak 3 Km, jika nanti kembali bertugas di daerah ini.

Tangan dan kaki saya bertambah dingin. Bukan hanya karena udara perbukitan yang dingin, tapi juga karena rasa ngeri dalam hati saya.

Akhirnya kami sampai di Puncak Dilan. Indra kemudian memarkir motornya di tempat yang agak datar. Beberapa warga yang sudah selesai menelepon menyapa kami berdua dan segera minta izin untuk turun kembali.

Smartphone saya langsung berbunyi sahut-sahutan. Beberapa panggilan tak terjawab langsung terlihat di layar. Dengan sabar, saya pilih dulu nomor yang paling penting.

Saya pun menelepon istri, mengabarkan saya telah sampai sejak Maghrib di lokasi. Karena sinyal tak ada, makanya saya harus bertaruh nyawa pagi ini mengabarinya.

Darinya saya ketahui, jika tiga anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) harus izin tak sekolah hari itu. Tukang ojek yang sudah saya pesan jauh-jauh hari, bahkan sudah diingatkan setiap hari, tidak datang menjemput.

Saya pun menelepon pihak sekolah, memintakan izin untuk anak-anak. Setelah semua beres, saya kemudian menelepon pihak humas BI.

Alhamdulillah humasnya mau mengerti dan memaklumi ketidakhadirin saya untuk wawancara Sabtu (5/8/2017). Meski begitu, saya akan minta rekaman wawancaranya nanti, pada rekan wartawan yang hadir.

Kelegaan langsung melingkupi hati saya, karena masalah yang ada sudah berhasil didapat solusinya. Teman sesama wartawan yang sudah saya hubungi, menyatakan siap berbagi info dengan saya. Barulah selepas itu, saya bisa menikmati udara segar Perbukitan TNKS yang hijau.

Indra kemudian menunjukkan pada saya daerah Pasar Baru Bayang Pesisir Selatan Sumbar, sebagai asal dari sinyal yang didapat di Puncak Dilan. Dari sini, daerah Pasar Baru hanya seperti perkampungan kecil yang berada di balik rimbunan pohon hijau.

Karena waktu acara tanam demplot padi organik kelompok Petani Organik Pacung Taba (POPT) asuhan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Sumbar akan segera dimulai, saya pun minta diantarkan kembali ke penginapan.

Nyali saya kembali ciut, karena untuk turun dari Puncak Dilan, tantangannya jauh lebih mengerikan daripada mendaki. Ketajaman jalannya kadang membentuk sudut 45 derajat.

Bengkolan patahnya bisa membuat rem blong dan tabrakan tak kan bisa dihindarkan dari lawan arah. Kembali saya melapazkan doa tak putus-putus, agar bayangan liar mengerikan di benak saya menjadi hilang.

Tak seperti waktu mendaki, waktu menurun Indra lebih banyak berhenti membetulkan posisi duduk yang kadang terlalu mendesak ke bagian depan. Indra mengaku, untuk jasanya ini bertaruh nyawa membawa penumpang, hanya mengambil uang jasa Rp25.000 saja.

Bagi warga sekitar, harga ini sudah dirasa wajar, bahkan agak mahal. Karenanya mereka hanya ke Puncak Dilan sekali dalam seminggu atau sekali dalam dua minggu. Paling lama, sekali dalam satu bulan.

Begitu sampai di penginapan, saya hargai jasa Indra alhamdulillah lebih dari yang ia terima dari warga umum. Meski waktu itu, uang yang ada di kantong pas-pasan pula.

Berharap Tower

Menurut pemilik penginapan, bukannya warga tidak pernah menyalurkan aspirasi pada wakil rakyat, maupun pada siapapun pejabat yang sudah datang ke Pancung Taba. Mereka sangat berharap didirikan tower telekomunikasi dari operator mana saja, agar mereka juga bisa menggunakan smartphone yang sudah dibeli.

Selama ini, smartphone yang mereka punya lebih banyak berfungsi sebagai game bot, begitu mereka jauh dari jangkauan sinyal. Mereka hanya bisa main macam-macam game, ataupun berselfie-selfie dan kemudian di unggah ke media sosial, begitu kembali ke Puncak Dilan.

Dengan 300 KK, asumsi satu KK dihuni lima anggota keluarga, maka pengguna smartphone di Pancung Taba mencapai 1.500 jiwa. Warga Pancung Taba rata-rata memiliki smartphone, karena ekonomi mereka lumayan mapan.

Di sini banyak ditemui rumah-rumah bagus, bertingkat, dan sulit ditemui warga dengan rumah gubuk. Selera mereka sudah tinggi, terbukti dengan adanya parabola di masing-masing rumah.

Jadi setiap kemajuan dunia apalagi smartphone, mereka ikuti dengan seksama. Sama dengan warga kota, mereka yang kaya, smartphonenya dari merek yang mahal punya.

Saat hal ini kami tanyakan pada Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni yang didaulat pertama kali menanam padi organik, ia mengaku akan berusaha lagi agar tower telekomunikasi bisa ada di Pancung Taba. Rumah warga yang banyak bertingkat, mungkin akan memberi kemudahan kecepatan untuk membangun tower.

“Kita akan desak lagi operator telekomunikasi, agar segera membuat tower di Pancung Taba. Selama ini mereka cuma survei-survei saja, tapi belum juga membuat towernya,” katanya.

Jika akses telekomunikasi lancar, maka daerah yang dilindungi pepohonan hijau TNKS ini, bisa dieksplorasi keindahannya. Ia akan menjadi destinasi wisata alam yang menyenangkan dan sangat mengesankan.

Apalagi warga setempat sudah mulai merancang tempat wisatanya dengan keberadaan rumah pohon di atas awan. Disebut begitu, karena disini, jika dilihat pagi hari, kita seperti berada di negeri atas awan.

Awan-awan lembut yang seumpama salju, berada di bawah telapak kaki kita. Hal itu, seperti membuat keberadaan kita berada di negeri antah berantah.

Oleh karena itu, warga sangat berharap, agar ada operator telekomunikasi yang segera datang dan mewujudkan keinginan warga yang haus akan telekomunikasi. Yakinlah, siapa yang berhasil mendirikan tower duluan, akan membawa rasa militansi dalam dada warga.

Mereka hanya tinggal mengganti kartu, karena smartphonenya sudah ada. Tentu bisa dibayangkan, tambahan pelanggan yang cukup signifikan.

Jika 1.500 warga memakai layanan data Rp20.000 per bulan saja, maka operator sudah dapat masukan Rp30 juta per bulan. Apalagi jika mereka membeli paket Rp50.000 per bulan, maka sudah ada pemasukan Rp75 juta per bulan.

Belum lagi dari pendapatan layanan voice maupun SMS. Tentu jumlahnya akan lebih meningkat lagi.

Oleh karena itu, kawasan potensial ini sangat rugi sekali jika tak segera dimasuki akses telekomunikasi. Apalagi dengan banyaknya warga Pancung Taba yang merantau ke Padang dan provinsi lainnya di Indonesia, berpotensi menambah jumlah pengguna kartu lebih banyak lagi. Anak Pancung Taba, sama dengan anak Minang lainnya, banyak yang hobi merantau.

Yakinlah. jika tower sudah berdiri di Pancung Taba, maka keuntungan akan diraih kedua belah pihak. Warga merasa beruntung karena bisnis rempah-rempahnya berupa kayu manis, pala, dan lainnya, bisa langsung terhubung ke pengumpul di Padang dan daerah lainnya. Hubungan dengan sanak keluarga di rantau juga makin lancar.

Sementara bagi operator seluler, keuntungan dari segi materi akan bertambah. Tak hanya di daearah Pancung Taba saja, namun juga bagi perantau Pancung Taba di seluruh Indonesia. Jadi tunggu apalagi, segeralah buat tower di Pancung Taba.

Diharapkan dengan adanya Program Palapa Ring yang sudah digagas Menkominfo, juga bisa menyentuh daerah terpencil ini. Bagaimanapun juga hak mendapatkan akses telekomunikasi, adalah hak semua anak bangsa. Maka dari itu Pemerintah harus merespon dengam cepat.

Tindakan ini, sekaligus menyelamatkan banyak nyawa warga Pancung Taba. Mereka tentunya tak usah bertaruh nyawa lagi, untuk sekedar mendapatkan sinyal di Puncak Dilan. (*)

 

 

 

Loading...