Masalah Macet di Khatib Sulaiman Terpecahkan

oleh
Jalan Khatib Sulaiman sudah diperlebar. Pemerintah setempat akhirnya mampu mengatasi macet di jalur itu meski sempat menjadi polemik dan diprediksi tidak berhasil.(Charlie Ch. Legi)

MASALAH macet di kota besar tak bakal kunjung habis dibahas. Kendaraan roda empat dan roda dua menjadi penyumbang macet terbesar. Tak heran jika di jam tertentu selalu terjadi macet allahurabbi di sejumlah titik.

Macet bukan hal terbilang langka lagi. Terutama di kota dengan penduduk yang padat. Seperti Padang. Kota yang penduduknya mencapai satu juta jiwa ini termasuk paling tinggi tingkat kemacetannya.

Seperti dilansir lembaga riset “Inrix”, Padang berada di tingkat kelima dari sepuluh kota paling macet di Indonesia. Padang justru mengalahkan kota besar lain seperti Medan.

Temuan “Inrix” ini pada 2017 lalu. Ketika itu “Inrix” mengumpulkan data dari 1.360 kota di 38 negara yang mencakup lebih dari 250.000 kilometer persegi jalan dan berfokus pada kemacetan di sepanjang hari dan minggu.

Menurut survey yang dilakukan di Padang, pengendara harus terjebak selama 45 jam dalam setahun di jalanan Padang dengan rata-rata persentasenya 24 persen. Pada jam sibuk, tingkat kemacetan melonjak sampai 29 persen melebihi Jakarta yang hanya 24 persen. Sedangkan di luar jam sibuk, tingkat kemacetan rata-rata 26 persen.

Titik macet memang cukup banyak di Padang. Seperti di kawasan Jati, Gunung Pangilun, depan Basko hingga Tabing, Pasar Raya, Sawahan, Andaleh, Khatib Sulaiman, dan lainnya. Semua titik macet itu selalu ‘crowdid’ pada jam masuk ataupun pulang kantor.

Berlimpahnya kendaraan dan belum bertambahnya jumlah jalan di Padang membuat kota ini masuk kategori kota termacet. Berbagai upaya dilakukan pemerintah setempat untuk memutus mata rantai kemacetan. Seperti menyiapkan jalur dua By Pass, dan memperlebar jalan yang ada.

Solusi yang dianggap tepat dan mangkus yakni pelebaran jalan Khatib Sulaiman. Jalan yang dulunya sempit dan selalu menjadi momok bagi pengendara, kini jauh berubah. Jalan ini diperlebar pemerintah setempat dengan “mengorbankan” median jalan.

Median jalan yang dulunya cukup besar, lantas diperkecil. Median jalan yang diisi tumbuhan bunga dan rumput itu kini hanya memiliki lebar satu meter. Meski median jalan berkurang, akan tetapi ada hal positif yang didapat. Tidak ada lagi kemacetan di jalan tersebut.

Seorang pengendara, Lina mengakui hal tersebut. Menurut wanita satu anak ini, sejak jalan Khatib Sulaiman diperlebar hampir tidak ditemukan macet. Menurutnya, upaya yang dilakukan pemerintah mengatasi macet sudah tepat.

“Sejak diperlebar, saya tidak lagi lama di perjalanan. Biasanya untuk pulang ke rumah butuh waktu hingga setengah jam. Kini hanya lima belas menit saya sudah sampai di rumah,” ungkap pemilik mobil jenis sedan ini.

Tidak hanya Lina. Pengendara lain, Joni, juga mengakui hal yang sama. Lelaki asal Tabing ini dulunya kerap menghindari jalur ini jika ingin pulang ke rumah. Joni lebih memilih jalur lain untuk dapat sampai di rumah.

“Dulu saya memilih lewat Lolong. Kini, sejak Khatib Sulaiman diperlebar, saya memilih menempuh jalur itu,” ungkapnya.

Pemerintah setempat dianggap berhasil mengatasi kemacetan di jalan protokol tersebut. Hanya hitungan bulan, jalan ini diperlebar dan memutus mata rantai kemacetan. Padahal, sebelumnya banyak yang meragukan rencana pelebaran jalan ini. Tak sedikit masyarakat yang mengatakan upaya tersebut sia-sia.

Kini, jalan Khatib Sulaiman sudah bebas macet. Ke depan, pemerintah setempat akan memperlebar jalan lain. Seperti jalan Rasuna Said, dan lainnya. (Charlie Ch. Legi)

 

Loading...