Padang, Topsatu.com – CSR (Corporate Social Responsibility) bagi PT Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG), bukan saja sebentuk kewajiban perusahaan dalam melunasi aturan perundang-undangan negara, tapi juga cara mereka menebar kebaikan dan kemanfaatan.
Sudah satu dekade, PT. TBIG lewat CSR-nya membangun empat pilar. Dari kesehatan, pendidikan, lingkungan dan budaya. Empat hal yang memang masih menjadi problem di negara ini.
Program-program di empat pilar PT. TBIG ini kemudian berkembang dan tumbuh seiring waktu. Selain menyasar semakin banyak kawasan dan jumlah penerima, program CSR perusahaan juga telah membuat terobosan yang tak saja berdampak, tapi juga mampu menginspirasi.
Salah satu yang paling menarik adalah program CSR TBIG dengan Kurikulum Unggulan-nya. Di program ini, PT. TBIG memberikan pelatihan, akses hingga kesempatan bekerja bagi siswa SMK.
“Ini inovasi program CSR PT TBIG. Kurikulum Unggulan ini kita mulai sejak 2017. Ke tiga sekolah di Jawa. Dua Jawa Timur, satu di Semarang,” ujar Fahmi S Alatas, Head of CSR Department PT TBIG dalam Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025, Jumat (26/9).
Dia pun mengaku tidak sembarangan memilih program bagi siswa SMK ini. Setidaknya sudah melewati hasil pemetaan sebelumnya. Selain juga pihaknya melihat adanya kebutuhan dan keterbatasan tenaga kerja berkualitas terutama di bidang fiber optik.
“Ada yang disampaikan untuk keilmuan SMK pada umumnya. Namun materi yang disampaikan tidak ada di silabus SMK,” kata Fahmi menerangkan proses program CSR TBIG hingga kemudian muncul Rumah Belajar TBIG yang memfasilitasi siswa SMK untuk mendalami pengetahuan soal fiber optik.
Fahmi mengatakan kalau di program satu ini, pihaknya tidak memberi bantuan uang tapi berupa akses yang bisa dipergunakan dan dimanfaatkan oleh guru dan siswa SMK. Apalagi juga program yang diberikan oleh TBIG ini juga kemudian membuka peluang kerja bagi siswa yang lolos mengikuti program ini.
“Sekolah diberi kesempatan dengan mengirimkan surat untuk kunjungan industri. Kemudian akan kita berikan pelatihan, membuka kesempatan untuk guru juga, hingga kini sudah 50 guru yang ikut pelatihan,” kata Fahmi.
Hingga kini, setelah berjalan delapan tahun, alumni program Kurikulum Unggulan ini sudah menembus dua ribu orang.
“(Dari jumlah alumni) 92 terserap untuk magang, 54 terserap menjadi tenaga kerja,” sebut Fahmi.
Rafi Ryan Sadewa, lulusan SMK 11 Maret Jakarta menjadi salah satu penerima manfaat CSR TBIG yang beruntung kemudian kini sudah bekerja sesuai ilmu yang dia pelajari selama pelatihan.
“Saya bersyukur, kini sudah bekerja dengan penempatan sebagai petugas maintenance, jaringan wifi, perbaikan, mengganti perangkat-perangkat. Saran untuk yang nanti ikut program ini lebih giat mempelajari jaringan, lebih teliti lagi,” kata Rafi.
Dia pun senang bisa ikut dalam program CSR TBIG ini, yang menurutnya, selain mendapatkan ilmu juga berpeluang mendapatkan pekerjaan yang layak. Dia pun berharap TBIG bisa menambah kuota murid untuk ikut program ini selanjutnya.
Sementara itu, Guru SMK Angkasa 1 Margahayu, Asep Sopandi mengapresiasi program ini. Menurutnya materi dalam Kurikulum Unggulan ini sangat dibutuhkan sekali saat ini. Terutama bidang fiber optik. Asep merasa beruntung bisa ikut program pelatihan serat optik teoritis dan praktis serta Fiber to the Home (FTTH) ini.
Setelah mengikuti pelatihan, kini bagaimana proses signal di jaringan fiber optik saya jadikan referensi dalam proses pembelajaran selama di sekolah, dan alhamdulilah, siswa termotivasi lagi,” kata Asep.
Menurutnya, keilmuan soal fiber optik ini juga menjadi keilmuan yang masih jarang, yang belum banyak yang mengetahui secara mendalam. Dengan adanya kesempatan yang disediakan TBIG tentu menjadi sebuah penguatan skill buat lulusan SMK, apalagi mereka juga berpeluang untuk memanfaatkan pekerjaan di bidang tersebut.
Seperti diketahui, TBIG didirikan pada tahun 2004 dan berkantor pusat di Jakarta, yang merupakan Induk perusahaan dari anak-anak perusahaan Tower Bersama Group. TBIG merupakan salah satu perusahaan menara terbesar di Indonesia yang menyediakan penyewaan jangka panjang atas ruang menara fisik kepada operator jaringan telekomunikasi untuk pemasangan peralatan transmisi sinyal. (W)












