PADANG – Angin di Kelurahan Limau Manis siang itu terasa berbeda bagi Mulyadi Syafi’i. Di tangannya, sebuah kunci logam terasa dingin namun menghangatkan harapan yang sempat layu selama belasan tahun.
Setelah 15 tahun berteduh di bawah atap pondok sawah yang serba terbatas, kini pria paruh baya itu resmi memiliki hunian layak.
Mulyadi bukanlah orang yang asing dengan kerja keras. Sebagai buruh tani, hari-harinya dihabiskan dengan mencangkul dan merawat tanaman, baik di lahan sendiri maupun milik orang lain.
Penghasilan yang pas-pasan membuat impian membangun dinding bata yang kokoh bagi ketiga anaknya terasa seperti mimpi yang digantung terlalu tinggi.
Pondok sawah yang lama mereka tinggali bukan sekadar tempat berteduh, tapi saksi bisu perjuangan Mulyadi dan istrinya, Yetti Wilda.
Di sana, mereka melawan dinginnya malam dan tempias hujan demi memastikan anak-anak mereka tetap bisa tumbuh.
Baginya, kenyamanan adalah kemewahan yang tidak pernah sanggup ia beli dengan upah buruh tani.
Momen haru pecah saat Nurwan, Staf TJSL PT Semen Padang, menyerahkan kunci rumah baru itu kepadanya.
Mata Mulyadi tampak berkaca-kaca saat melihat bangunan baru yang berdiri kokoh.
Rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan simbol martabat baru bagi keluarganya yang selama ini hidup dalam keterbatasan fisik bangunan.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur kepada Allah SWT. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Semen Padang dan semua pihak,” ujar Mulyadi dengan suara yang sedikit bergetar.
Baginya, bantuan ini adalah jawaban atas doa-doa panjang yang dipanjatkan di sela-sela waktu istirahatnya di pematang sawah.
Menariknya, rumah baru Mulyadi dibangun dengan teknologi masa kini. Material yang digunakan adalah bata interlock inovasi terbaru dari Semen Padang, yaitu Sepablock.
Teknologi ini tidak hanya membuat proses pembangunan lebih cepat, tetapi juga memberikan kesan estetika dan kekokohan yang menjamin keamanan keluarganya.
Pembangunan rumah ini menelan dana CSR sebesar Rp50 juta yang dikelola secara transparan oleh Forum Nagari. Namun, bagi Mulyadi, nilai rumah ini jauh melampaui angka tersebut.
Gotong royong warga sekitar yang ikut menyumbangkan tenaga dan swadaya membuat rumah ini terasa memiliki jiwa dan rasa kepedulian yang tinggi.
Kini, Mulyadi dan Yetti Wilda bisa menatap masa depan dengan lebih tenang. Tidak ada lagi kekhawatiran atap bocor saat badai datang menerjang Limau Manis.
Rumah ini menjadi titik balik kehidupan mereka, sebuah awal baru untuk membesarkan ketiga buah hatinya di bawah naungan atap yang benar-benar layak disebut rumah. (*)












