Kisah Dua Pemuda Tentang TV Analog Migrasi ke TV Digital

PADANG – “Saya membeli Set Top Box (STB), karena televisi di rumah gambarnya sudah tak jelas lagi,” ucap Syafiq, warga Jati ketika ketemu Singgalang, di Toko Aneka Elektronik Pasar Raya Padang.

Syafiq segera membeli perangkat STB yang bisa digunakan untuk TV Analog agar tetap bisa menonton siaran TV Digital.

“Mama saya sering mengeluh televisi di rumah tidak jelas lagi gambarnya. Kebetulan, Minggu lalu saya melihat iklan di salah satu channel televisi yang menyebutkan jika ingin gambar bersih dan jernih, gunakan STB. Sebab, terhitung 2 November, siaran televisi Analog akan dihentikan serentak (Analog Switch Off/ASO) dan beralih TV digital,” cerita Syafiq panjang lebar tentang keinginan membeli STB.

Dikatakan Syafiq kalau sang mama suka menonton televisi melihat perkembangan informasi dari berbagai daerah di Indonesia. Terkhusus, tentang dunia politik.

“Mama saya ngefans sama Karni Ilyas. Sementara papa saya, melihat cara Najwa Shihab berdiskusi dengan narasumber di salah satu televisi swasta,” jelas Syafiq yang merasa kasihan ketika sang mama tetap juga menonton televisinya walaupun gambarnya sudah tak bersih lagi.

Selepas menerima gaji, Syafiq pun bergegas ke toko elektronik untuk membeli perangkat STB.

“Saya membeli STB saja. Kondisi televisi saya masih bagus. Sayangnya, televisi saya tak bisa menangkap siaran digital. Agar TV Analog bisa dimanfaatkan menjadi TV Digital, harus mengunakan STB,” ucap Syafiq yang mengetahui dengan pasti jika STB adalah alat untuk mengkonversi sinyal digital menjadi gambar dan suara yang dapat ditampilkan di TV Analog biasa.

“Set Top Box ini sudah mendukung digital video broadcasting-second generation terrestrial (DVB-T2), standar TV Digital di Indonesia. Set Top Box tidak memerlukan parabola khusus dalam menerima sinyal digital, cukup menggunakan antena televisi UHF-VHF,” jelas Syafiq mengulang perkataan iklan di televisi yang dia dengar.

Lain halnya Hamzah, putra dari Roslaini. Ia memilih membelikan sang ibu smart televisi.

“Ibu saya sudah lama ingin membeli televisi. Sebab, televisi saya sudah lama rusak,” kata Hamzah seraya memilih televisi di salah satu mall di Kota Padang.

Ketika melihat harga televisi yang cocok dengan budgetnya, akhirnya pilihan jatuh kepada smart televisi.

“Yang penting ibu bisa menonton televisi. Sebab, ibu saya sangat suka sinetron,” kata Hamzah seraya menyebutkan kalau ia baru sempat mengabulkan keinginan orang tuanya tahun ini.

“Sepulang menerima gaji saya langsung ke mall. Membawa ibu memilih televisi keinginannya,” ucap Hamzah melirik televisi pilihan sang ibu.

Dikatakan Hamzah, sebelum pilhan jatuh ke smart televisi, ia sudah membaca keunggulannya terlebih dahulu.

“Smart TV atau Android TV bisa langsung digunakan untuk menyaksikan siaran digital tanpa tambahan STB,” ucap Hamzah.

Lalu setelah memilih televisi keinginan sang ibu, ia pun pulang. Dengan tak sabar, menunggu televisi baru tersebut.

“Kini ibu bisa menonton sinetron kesukaannya,” kata Hamzah seraya menghidupkan televisi barunya.

Kisah dua pemuda tentang migrasi TV digital, bisa menjadi pelajaran. Keinginan keduanya membahagiakan orangtua cukup besar. Dan, tidak akan ada lagi cerita siaran televisi yang layarnya bergoyang, keluar titik, bagaikan semut berjalan ataupun seperti hujan di layar kaca.

Persoalan keduanya teratasi di tengah kebijakan pemerintah menghentikan siaran TV Analog dan beralih TV digital. Ayo dukung program pemerintah migrasi ke TV digital.(Lenggogeni)