Kisah Aiptu Defri Aziz Sukses Dirikan Pondok Pesantren

oleh -3.426 views
Aiptu Defri Aziz dan isteri di depan asrama santri putri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Al-Falah. (soesilo abadi piliang)

 

PALUPUAH – Di luar kedinasan anggota Polri tak melulu berurusan dengan masalah kriminal, ada pula diantara mereka yang taat beribadah. Bahkan berdakwah di tengah masyarakat untuk menyampaikan ajaran Islam.

Salah satu anggota Polri yang menjadi ustadz itu, yakni Aiptu Defri Aziz,53, Komandan Sentral Pelayanan Kepolisian pada Polsek Palupuah, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam.

Kereligiusan Defri tidak hanya ditunjukkan dengan sikapnya sebagai pecinta masjid dan suka berdakwah, namun juga berhasil mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Al-Falah. Ponpes tersebut dibangun sejak tahun 2004, sebelumnya berlokasi di gedung lama di kawasan Gadut, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, dan tahun ini telah pindah di lahan seluas 8,5 hektare di Nagari Palupuah Nan Tujuah, Palupuah, Agam.

Dalam perbincangannya dengan Singgalang di “markasnya” di Ponpes Darlum Ulum Al-Falah, beberapa waktu lalu, mengisahkan tentang latar belakang ia mendirikan ponpesnya itu.

Defri menuturkan, setiap manusia punya sisi kelam. Demikian pula dirinya. Saat masih lajang dan bertugas sebagai anggota kepolisian pada Polresta Bukittinggi, pada tahun 1995 ia menjajal bisnis sebagai pengusaha di bidang hiburan. Ia menjadi pemilik usaha cafe, diskotik dan karaoke di Gadut, Bukittinggi. Usaha itu menyatu dalam gedung yang cukup megah di jalur trans Suma¬tera Bukittinggi-Medan.

Bisnisnya maju dengan pesatnya, karena banyaknya tamu yang datang untuk minum, berkaraoke dan menghabiskan malam mereka di diskotik, dan untungnya Defri menyadari bahwa bisnisnya itu telah mengundang kemaksiatan.

“Saya mendapatkan banyak rupiah yang tidak sedikit dari bisnis itu. Saya punya banyak uang, dan apa saja bisa saya beli. Tapi apa yang saya peroleh itu tidak berkah,” ucap pria asal Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar.

Di tengah kebimbangannya itu, tanpa diduga dirinya bertemu dengan salah satu warga di Pintu Kabun, Bukittinggi pada awal tahun 2000. Namanya Inyiak Balok. “Beliau itu bertanya kenapa sebagian masjid itu lengang? Dan tidak banyak orang menjadi pecinta masjid,” kata Defri.

Mendengar hal itu dirinya tertegun, dan berupaya mencari jawaban dari persoalan itu. Sejak itulah ia rajin mendatangi masjid dan melihat mengapa sedikit sekali orang meramaikan aktivitas masjid. 

Selanjutnya, ia bergabung dengan kelompok Jamaah Tabligh. Setahun kemudian, saat dirinya dimutasikan ke Polsek Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, belajar mendalami agama Islam, melakukan dakwah dari satu masjid ke masjid yang lainnya.

Dalam satu bulan dirinya minta izin ikut pengajian. Saat itu Kapolres AKBP Bambang sempat meminta intel kepolisian untuk menyelidiki aktivitas dirinya dan para Jamaah Tabligh. “Ya, saya tahu diri saya selalu dimata-matai oleh intel, tapi saya tidak takut karena saya melakukannya (dakwah) di jalan Allah SWT,” ujar Defri.

Dirinya tahu polisi melakukan penyelidikan guna mencari tahu apakah kelompoknya itu merupakan kelompok radikal atau tidak. “Maklumlah, pada saat itu Indonesia tengah diguncang dengan peristiwa Bom Bali 2002 (disebut juga Bom Bali I). Itu adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali.

“Alhamdulillah, karena kami bukan kelompok radikal dan semata-mata berdakwah dan mengajak kebaikan, akhirnya Pak Kapolres Painan AKBP Bambang malah mendukung kegiatan kami,” katanya.

Di tengah semangatnya membumikan ajaran Islam, Defri mengatakan dirinya sempat memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Al Fatah Temboro, di Desa Temboro Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada tahun 2003.

Di tempat ini jualah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Usratul Hasanah, ia juga orang Minang. Kampungnya di Kamang Mudiak, Agam. Defri kemudian menikahi gadis tersebut dan diboyong ke Ranah Minang.

“Karena saya masih bertugas di Pesisir Selatan, isteri saya minta belajar di Pondok Pesantren An Nur di Lunang.

Setelah mendalami agama (Islam), Defri dan isteri hijrah di kawasan Gadut, Agam, dan menyulap gedung bekas kafe, dsikotik dan karaoke itu menjadi pondok pesantren, lembaga pendidikan agama tersebut itu ia beri nama Darul Ulum Al-Falah. Di sana para santri tidak hanya belajar agama dan tahfizd quran, tapi juga mondok.

Pada tahun pertama (2004), murid yang diterima tujuh santri puteri, kemudian menerima santri laki-laki. Saat ini, jumlah santri puteri sebanyak 150 orang dan santri putera sekitar 30-an orang.

“Bagi yang tidak mampu, kami gratiskan biaya pendidikannya,” ungkap 
Defri.

Para santri ini tidak hanya berasal dari kabupaten dan kota di Sumbar, tapi ada juga yang datang dari Batam, Jambi, Pekanbaru, serta Bengkulu.

Saat ini, Ponpes Darul Ulum Al-Falah yang dibinanya bersama isteri tercinta dan sejumlah tenaga pengajar alumnus Pondok Pesantren Al Fatah Temboro, telah mengantongi akreditasi A telah melahirkan lulusan sebanyak 17 angkatan.

Perlu bantuan

Ayah dari delapan ini melihat, keberadaan ponpes-nya perlu pengembangan lahan, dan pada 2014 ia membeli lahan yang hijau-asri, berhawa sejuk, di lingkungan perbukitan yang letaknya dekat jalan 
raya di Nagari Palupuah Nan Tujuah, Palupuah.

”Lahan itu saya beli dengan dana sendiri yang bersumber dari gaji saya, dengan nilai Rp85.000 per hektare. Begitu semangatnya ia telah membuat perencanaan pembangunan ponpesnya, karena keterbatasan dana ia baru bisa membangun dua unit asrama semi permanen untuk santri putri, sedangkan yang untuk putera baru satu bangunan yang terletak di luar kompleks ponpesnya, dan ini pun disewa dari penduduk setempat.

Bangunan itu mulai ditempati pada pertengahan tahun 2019. “Kami membutuhkan dua unit asrama untuk putri lagi, dan juga dua unit asrama untuk putera,” katanya. Selain asrama, saat ini yang begitu mendesak adalah pembangunan musholla dan ruang belajar, serta pengaspalan jalan menuju ponpes.

Khusus jalan, pihaknya menyatakan terima kasih kepada Den Zipur TNI AD Payakumbuh yang telah membantu mendatangkan alat berat untuk meratakakan tanah di areal ponpes tersebut.

”Kami mengimbau masyarakat yang mau jadi donatur, terutama untuk pembangunan musholla yang sedang kami bangun. Semoga semua amalannya dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT,” katanya. (soesilo abadi piliang)

Loading...