BUKITTINGGI – Persoalan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia tampaknya masih menjadi “pekerjaan rumah” yang tak kunjung usai. Dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Persatuan Terapis Gigi dan Mulut Indonesia (PTGMI) ke VIII Sumatera Barat di Hotel Royal Denai View Bukittinggi, Sabtu (2/5), Ketua Umum DPP PTGMI, Asep Supriadi, AMKG., SKM.,M.Tr. A.P mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru, angka permasalahan gigi dan mulut di Indonesia mencapai 56,9%. Mirisnya, angka ini hanya turun sebesar 0,9% dalam kurun waktu lima tahun jika dibandingkan dengan data tahun 2018. Di Sumatera Barat sendiri, angkanya bahkan berada di atas rata-rata nasional, yakni mencapai 58%.
Asep menyebutkan rendahnya kesadaran masyarakat menjadi pemicu utama tingginya angka karies gigi.
“Masyarakat kita cenderung menganggap masalah gigi tidak berbahaya. Mereka baru datang ke tenaga medis saat sudah merasa sakit,” ujarnya.
Selain faktor kesadaran, pola makan atau gizi juga disorot sebagai penyebab utama di wilayah Sumatera Barat. Budaya konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat (kurang sayur dan buah) disinyalir memperparah kondisi kesehatan gigi masyarakat setempat.
Menanggapi situasi tersebut, PTGMI mendorong perubahan paradigma pelayanan bagi para anggotanya. Terapis Gigi dan Mulut (TGM) diminta untuk tidak lagi “terkurung” melakukan pelayanan kuratif di dalam gedung Puskesmas atau rumah sakit.
Sementara walikota diwakili Kepala Dinas Kesehatan, Ramli Andrian menekankan pentingnya peran terapis gigi dan mulut dalam mewujudkan kesehatan gigi masyarakat yang optimal.
Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan kompetensi dan profesionalisme para terapis gigi dan mulut melalui pelatihan dan kegiatan peningkatan kualitas diri. Dengan kualitas yang mumpuni, diharapkan para terapis gigi dan mulut dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan efektif kepada masyarakat.
Musda PTGMI Sumbar ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi strategis untuk memperkuat peran terapis gigi dan mulut dalam sistem kesehatan nasional. Selain itu, Musda ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan kerjasama antar sesama terapis gigi dan mulut di wilayah Sumbar.
Sebelumnya Ketua Pelaksana Musda, Eka Sukanti, menjelaskan bahwa acara ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai elemen organisasi. Tercatat ada delegasi dari 16 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di seluruh Sumatera Barat, kecuali Kepulauan Mentawai yang saat ini anggotanya masih bergabung dengan DPC lain karena jumlah personel yang terbatas.
Selain DPC, hadir pula pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dari unsur dewan pertimbangan hingga seluruh anggota, serta perwakilan organisasi profesi mitra dan institusi pendidikan seperti Poltekkes Kemenkes Padang Jurusan Kesehatan Gigi.
Ketua DPP PTGMI yang turut hadir menekankan bahwa Musda ini bukan sekadar ajang seremonial. Ia mendorong para peserta di sidang komisi untuk menyusun program kerja yang berbasis data.
Hingga saat ini, telah muncul tiga kandidat kuat dari total tujuh nama yang diusulkan oleh DPC-DPC. Sesuai aturan, seorang calon ketua minimal harus mendapatkan dukungan dari tiga DPC.
”Harapan kami, ketua baru nanti bisa memberikan semangat baru dan melakukan percepatan-percepatan dalam mendukung pembangunan kesehatan, khususnya di bidang kesehatan gigi dan mulut di Sumatera Barat,” ujar perwakilan DPP PTGMI. (gd0)












