Sawahlunto – Desa Lunto Barat, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, pada era tahun 1990-an pernah dikenal sebagai sentra kerajinan sapu ijuk. Namun kini, kerajinan yang pernah menjadi kebanggaan warga itu nyaris tidak terlihat lagi di desa berpenduduk 1.446 jiwa atau sekitar 400 kepala keluarga tersebut.
Kepala Desa Lunto Barat, Hendra A., saat ditemui di kantor desa setempat, Rabu (8/10), membenarkan bahwa dahulu desanya terkenal dengan kerajinan sapu ijuk. Namun, seiring waktu, tidak ada lagi warga yang menekuni usaha tersebut.
“Penyebab utama berhentinya kerajinan sapu ijuk adalah maraknya sapu berbahan plastik. Akibatnya, sapu ijuk kalah bersaing dan akhirnya mati, hingga kini tidak dapat bangkit lagi,” ungkap Hendra.
Meski demikian, Hendra menyebut masih ada kerajinan tenun tradisional yang bertahan, walau jumlah pengrajinnya tidak banyak.
“Masih ada beberapa warga yang menekuni kerajinan tenun, meski jumlahnya sedikit,” ujarnya.
Selain sektor kerajinan, Desa Lunto Barat juga dikenal sebagai daerah surplus beras. Dengan lahan sawah seluas 39 hektare, masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjaga ketahanan pangan desa.
“Untuk menunjang produksi beras, kami bersama masyarakat selalu memelihara saluran irigasi,” kata Kades Hendra.
Tahun 2025 ini, Pemerintah Desa melakukan perbaikan irigasi sepanjang sekitar 86 meter dengan dana Rp83 juta. Namun, Hendra mengakui kebijakan efisiensi anggaran nasional berdampak besar terhadap pembangunan desa.
“Adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat sangat berpengaruh. Untuk tahun 2026 mendatang, kemungkinan besar tidak ada pembangunan fisik, hanya dialokasikan untuk gaji dan operasional kantor saja,” tuturnya.
Hendra berharap pemerintah dapat lebih memprioritaskan anggaran bagi desa, agar program “membangun Indonesia dari tepi” benar-benar terwujud.
“Selayaknya pemerintah memberikan anggaran yang memadai, bukan justru mengurangi dana untuk pembangunan di desa,” tegasnya.
Meski dengan anggaran terbatas, masyarakat Lunto Barat tetap menjaga semangat kebersamaan melalui gotong royong.
“Kendati dana terbatas, kami tetap bergotong royong agar pekerjaan berat terasa ringan,” pungkas Kades Hendra.
(sbd)












