Kepala Daerah Belajarlah dari Dampak Bencana Palu

oleh
Wakil Gubernur SUmbar, Nasrul Abit meninjau salah satu titik kawasan yang terkena dampak gempa stunami Palu. Humas Pemprov

 

PADANG-Tujuh kepala daerah di wilayah pesisir di Sumbar harus melihat kondisi alam Palu, Donggala dan sekitarnya pasca dilanda bencana hebat gempa, tsunami dan likuifaksi. Tujuannya, agar para kepala daerah itu mempersiapkan segala sesuatu, guna meminimalisir dampak dari bencana yang datang tanpa diduga.

Begitu disampaikan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, pada pemberian bantuan alat tangkap ikan bagi nelayan di Muaro Anai, Kamis (11/10).

“Daerah kita khususnya tujuh daerah yang berada di kawasan pesisir sangat berpotensi terjadinya gempa dan tsunami. Karena itu setiap kepala daerah harus datang ke Palu, Donggala dan daerah terkena dampak bencana, sebagai pembanding,” sebut Nasrul Abit, yang selama beberapa hari belakang melakukan kunjungan kerja ke Palu, Donggala dan daerah terdampak gempa, tsunami dan likuifaksi.

Dari sana para kepala daerah tidak akan berpikir ulang dalam memberikan pendidikan kebencanaan, termasuk penganggaran alokasi kesiapsiagaan bencana di daerah masing-masing.

Disebutkan Nasrul Abit, kondisi Palu, Donggala dan sekitarnya, benar-benar memprihatinkan. Sebab gempa, tsunami dan likuikasi atau tanah bergerak memporakporandakan semuanya.

“Bencana yang menimpa masyarakat Palu, Donggala dan sekitarnya benar-benar luar biasa. Jalanan, perumahan dan bangunan lainnya ada yang terangkat, bertimbun, terbenam. Pemandangan di sana benar-benar mengerikan,” cerita Nasrul.

Disebutkannya, bencana alam yang menimpa masyarakat Sulawesi Tengah, harus membuka mata dan teling masyarakat Sumbar, pemerintah kabupaten/kota serta pihak terkait lain. Untuk itu dalam waktu dekat pemerintah provinsi akan menggelar rapat tentang kesiapsiagaan bencana.

“Kita sekarang harus terus meningkatkan kewaspadaan. Sebab bencana itu waktunya tidak bisa ditebak. Ketika gempa besar, masyarakat yang berada di pinggir pantai harus segera mencari daerah ketinggian. Jangan menunggu waktu dulu setengah jam pasca gempa, sebab tsunami di Palu datangnya dua menit setelah gempa besar. Sebab pusat gempa sangat dekat dengan Palu,” bebernya.

Untuk nelayan yang sedang melaut, Nasrul Abit berpesan ketika terjadi tsunami mereka diminta terus melaju ke tengah laut. Sebab risiko terhempas gelombang tinggi tersebut sangat kecil. Sedangkan warga yang tidak sempat lari jauh ke lokasi ke tinggian bisa memanjat pohon tinggi yang besar atau bangunan tinggi yang masih kokoh atau tidak rusak terkena gempa.

Menurutnya, hal yang mesti disiapkan pemerintah ke depan di antaranya mempersiapkan jalur evakuasi, membangun shelter yang lebih banyak. Untuk bangunan tinggi harus dirancang ramah gempa, sebab potensi gempa besar di Sumbar sangat tinggi.

Rendang

Sementara selama di Sulteng, Wagub Nasrul Abit masuk ke posko pengungsi menyempatkan diri membagikan beberapa rendang yang ada dalam mobilnya. Kedatangannya disambut bahagia para pengungsi sebab mereka belum mengecap rendang kiriman pemerintah provinsi Sumbar tersebut.

Dijelaskannya, 1,8 ton randang yang dikirim untuk Palu dan sekitarnya memang tidak akan pernah cukup untuk semua masyarakat yang tertimpa bencana gempa dapatkannya. Bagi masyarakat yang berkeinginan makanan randang harus datang ke posko utama seperti yang disampaikan Gubernur Sulteng Longki Djanggola.

“Kebijakan pemerintah Sulteng, rendang dibagikan di dapur umum, posko utama rumah jabatan gubernur dan dapur umum Dinas sosial Prov. Sulteng. Jika ada masyarakat Sumbar yang berkeinginan mengirimkan bantuan randang, kami akan bantu mengirimkan kembali ke Sulteng ini, karena begitu heboh di medsos” ujar Nasrul Abit.

Sementara berdasarkan data sementara jumlah perantau Minang yang telah terdata sekitar 300 orang. Delapan orang meninggal dunia, 36 unit rumah rusak berat dan hilang,  4 unit rumah tersapu tsunami, rumah rusak sedang dan ringan 105 unit. (107)

Loading...