Kampung Ekonomi, Mengedepankan Kearifan Lokal Sebagai Potensi

oleh
Menyisir lingkungan KBA Tabek disebuah petang, Wakil bupati Solok Yulfadri Nurdin bersama rombongan menemukan rasa nyaman diantara semilir angin menepis bunga warna-warni dan daun tebu, Kamis (15/11) lalu. – rusmel -

Rusmel

Wartawan Topsatu.com

Terasa telah begitu lama tidak mengunjungi nagari Talang Babungo ketika melihat lekuk pinggang Bukit Barisan semakin menawan duduk dihamparan sawah. Laksana wadah bunga diruang terbuka, tanaman flora dengan beragam jenis bunga warna warni di jorong Tabek seolah memunculkan energi baru untuk kemajuan kecamatan Hiliran Gimanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Dengan tetap megedepankan potensi lokal, komoditi Tebu, jorong Tabek telah bermertamarfosa menjadi Kampung ekonomi. Tanaman tebu yang selama ini dikenal sebagai bahan baku gula merah, terus bertahan menonjolkan kearifan lokal. ” Gula merah jorong Tabek tetap bertahan menjadi ikon ekonomi masyarakat, meski sistim pengolahan dari tebu menjadi gula telah mengalami rekayasa tekhnologi,” ungkap Ketua Koperasi Serba Usaha Ekonomi Desa (KSU-ED) Tabek, Yenimira.

Keberadaan koperasi KSU-ED Tabek disamping menjadi sokoguru perekononian bagi warga setempat, tidak melulu melakukan rekayasa teknologi dari sistim konvensional ke semi modern, KBA Tabek juga mengembangkan produk gula merah menuju gula semut. ” Selama bertahun-tahun, masyarakat memproduksi gula merah secara manual dan konvensional. Kini dengan sentuhan perusahaan Astra, koperasi KSU-ED Tabek mulai mengolah gula memakai mesin penggilingan tebu semi modern,” ucap Yenimira, belum lama ini.

Meski hanya menggunakan satu unit mesin sebagai langkah modernisasi produksi gula tebu, setidaknya telah meningkatkan produktivitas anggota Koperasi sebanyak 672 orang. Sistim pengolahan dari manual, penggilingan tebu menggunakan tenaga kerbau untuk menghela dan memutar poros penggiling. Kini petani didorong berpikir maju. Dengan memakai jasa mesin penggiling, praktis mengurangi pemborongan waktu dan tenaga, termasuk memotong biaya produksi yang relative tinggi.
Jika di olah secara tradisional, biaya produksi bisa mencapai 50 persen dari sisa hasil usaha. Tetapi sejak ‘campur tangan’ PT Astra International Tbk tahun 2016 untuk menjadikan jorong Tabek sebagai kampung berseri, sekaligus dilakukan modernisasi usaha. Pabrik industri Gula Tebu Koperasi Serba Usaha (KSU) Tabek mampu menghemat biaya produksi hingga 70 persen.

Astra bahkan tengah menyiapkan proses pengolahan gula tebu merah menjadi gula semut agar bisa masuk ke pasar internasional. “Setiap hari ada sekitar 10 orang yang bekerja untuk mengdihasilkan 200 kg hingga 500 kg gula merah setiap harinya,” kata Yenimira di KSU-ED Tabek, Nagari Talang Babungo, belum lama ini.
Pihak Astra memberikan bantuan mesin pengilan tebu yang sudah disempurnakan melalui program Kampung Berseri Astra (KBA). Dengan mesin itu, petani bisa mengolah tebu lebih cepat dan tidak lagi berpanas-panasan berdiang di tungku lebih lama.

Perubahan proses produksi ini sangat membantu. Ampas tebu juga diolah menjadi makanan ternak dan kompos sebagai pupuk organik. “ Tetapi hingga kini masih ada juga petani yang mengolah tabu secara tradisional. Dilakukan di rumah sebagai produksi rumah tangga, ” ungkap Ketua KBA (Kampung Berseri Astra) Jorong Tabek, Kasri Satra.

Sebagian besar warga Jorong Tabek memang menggantungkan hidup dari tetesan air tebu yang diolah menjadi gula. Luas lahan budidaya tebu masyarakan di Talang Babungo mencapai 1.000 hektare.”Kampung ini termasuk penghasil gula tebu terbesar di Sumbar. Sudah puluhan ton keluar produksi gula tebu setiap bulan dari sini,” kata Zulfitriadi.

Soal kenapa jorong Tabek menjadi pusat perhatian perusahaan Astra, menurut Zulfatriadi, Wali Nagari Talang Babungo, tentu karena potensi kearifan lokal yang masih ‘Hijau” dengan hamparan budidaya kebun tebu. Nuansa klasik dengan mengedepankan nilai-nilai budaya sebagai kultur asli Minangkabau, masih sanagat kental di kawasan yang dulu menjadi pusat pemerintahan desa Tabek sebelum akhirnya dimekarkan menjadi jorong dalam sistim pemerintahan Nagari.

Program KBA dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan empat pilar kegiatan, yakni Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan, telah menjadi energi baru bagi Nagari Talang Babungo yang memiliki 7 Jorong dengan jumlah penduduk lebih dari 8 ribu jiwa.
Jorong Tabek kini menjadi sorotan “dunia”. Tapi tentu bukan bidang wirausaha fokusnya. Melalui program Kampung Berseri Astra, masyarakat Tabek berkolaborasi mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Alasan itu menguatkan langkah Astra membenahi MIS Muallimin serta TK Al-Makmur di bidang pendidikan. Revitalisasi Posyandu Kecubung dilakukan pula untuk menjamin infrastruktur kesehatan. Pada lingkungan sekitar, KBA menjadikan jorong Tabek sebagai pemukiman asri dengan dengan mengandalkan tanaman bunga warna-warni. “ Budidaya tanaman bunga dilakukan untuk membangun citra jorong Tabek dari image kampung kumuh ditengah semak belukar ,” sebut Wali nagari Zulfitradi.

Sebagai stimulan, pengembangan KBA dibantu dengan bibit bunga. Masyarakat kemudian bergotoroyong menanam, memelihara dan menata letak bunga, sekaligus mencarikan tempat-tempat bunga yang menarik pandangan. Hasil nyata program empat pilar KBA ini telah membuka mata masyarakat yang semula merasa sangsi, akhirnya berdecak kagum dan lantas menerima program KBA sebagai kebutuhan. Bahkan hari ini, pegiat KBA Jorong Tabek mencapai 413 orang.

Tong Sampah Menggandeng Halte

Yang menarik untuk disimak adalah teknis pengelolaan KBA itu sendiri. Ketua KBA membentuk empat koordinator sesuai empat pilar program KBA. Kasri Sastra membagi wilayah kerja masing-masing penggerak. Itu dilakukan agar memudahkan menggerakkan kegiatan. Paling tidak, ada 11 zona yang dibentuk di Jorong Tabek.

Setiap zona membawahi sekitar 40 KK.”Dengan sistim zona, kegiatan yang kita lakukan berjalan serentak dan terarah. Sekarang kampung ini sudah lazim sebut tinggal di zona satu, empat, delapan,” jelas Ketua KBA Tabek.
Pada setiap zona, memiliki dua sampai tiga halte dan tong sampah. Halte terbuat dari bambu dengan arsitektur Minang klasik, bergonjong. Dibangun secara swadaya. Setiap halte tersedia tong sampah. Halte diperuntukkan untuk berteduh dari kehujanan, berlindung dari kepanasan, atau pelepas lelah saat jeda selesai menyusuri jalan lingkungan KBA Tabek. “ Halte tidak untuk menunggu bis. Hanya untuk tempat rehat, berteduh atau tempat berdiskusi ringan, “ kata Riyan, salah seorang pemuda setempat.

Keberadaan tong sampah sekaligus mengajarkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan. Kalau ada kelihatan sampah mengotori kawasan kampung, kemungkinan besar itu bukan dilakukan warga Tabek. Warga sekitar akan memungut sampah yang dibuang, kemudian memasukkannya ke tong sampah terdekat.
Ihwal digulirkannya program KBA di Jorong Tabek, menurut Wali Nagari setempat, Zulfitriadi, bermula dari peristiwa kebakaran besar yang menghanguskan 27 unit rumah warga Nagari Talang Babungo, kecamatan Hiliran Gumanti, Kabuapten Solok, pada 2015 silam.
Dampak kabakaran, praktis menyulut empati semua kalangan. PT Astra Padang termasuk yang ikut berkunjung ke Talang Babungo kala itu. Oleh pemerintah wali nagari Talang Babungo kedatangan pihak Astra adalah momentum. Wali Nagari Zulfitriadi tanpa sungkan menanyakan program yang bisa diarahkan untuk kemajuan kampung tersebut. “ Pihak Astra mengaku ada dana CSR (Corporate Social Responsibility) dengan program KBA yang bisa disalurkan dengan sejumlah syarat sebagai ketentuannya,” kata Zulfatriadi.
Dua pekan berikutnya, tim survei Astra dari Jakarta benar-benar datang. Tim memaparkan tentang kriteria nagari akan dijadikan KBA. ” Ternyata yang di survei tim Astra di Sumbar tidak kami saja. Tapi Alhamdulillah, Astra tertarik dengan Jorong Tabek dan menyatakan Jorong Tabek terpilih sebagai desa binaan,” beber Zulfitradi.
Jorong Tabek dipandang memenuhi kriteria sebagai syarat KBA. Soal peradaban dan pola kehidupan masyarakat masih tradisional, belum terpengaruh gaya hidup modern, sampai ke budaya gotoroyong yang menjadi simbol kebersamaan, masih kental. Semua menjadi instrumen pendukung ditetapkannya jorong Tabek menjadi KBA.

Astra, Bunga-bunga Pendidikan

Kalau peradaban manusia tak makin meningkat seiring dengan merangkaknya masa, memang boleh jadi keterbelakangan kian menghambat dari abad ke abad. Tetapi bukan berarti jorong Tabek harus selalu mengikuti perputaran roda zaman. Faktanya, masyarakat disini semakin kuat komitmennya untuk setia merawat keelokan desa dengan mengkompilasikan kultur perkebunan tebu yang awalnya terkesan awut-awutan, menjadi sebuah perladangan rakyat yang indah.

Maka tak ayal, awal mula kehadiran KBA di Jorong Tabek bukan tanpa penolakan. Ada sejumlah warga yang sangsi menerima program sosial CSR Astra akan berdampak negatif terhadap kampung yang masih kuat menjaga peradaban dan kultur.” Kami tetap jalan, karena pemerintah nagari sangat mendukung. Saya terus berjuang bagaimana kampung ini bisa berkembang,”tutur Ketua KBA Tabek Kasri Sastra.

Ia memandang, kehadiran Astra dengan program Kampung Berseri Astra (KBA) tahun 2016, adalah energi bagi peningkatan pembangunan secara komprehensif. Apalagi Jorong Tabek merupakan satu-satu KBA di wilayah Provinsi Sumbar, atau KBA ke 75 dari 77 yang dibimbing Astra di Nusantara.
Kini dan masa yang akan datang, Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok adalah satu pemukiman yang kukuh mempertahankan peradaban. Hebatnya, warga Tabek tidak kaku kepada kultur. Penduduk bahkan menyukai pembaharuan dengan menyulap semak belukar menjadi kampung taman bunga.

Jorong Tabek luasnya hampir 5.000 meter persegi. Jalan kampung disini hanya berupa coran semen dengan lebar sekitar 2,5 meter. Sebagian diantaranya masih berupa jalan tanah. Bergelombang dan naik turun, mengikuti geografis kawasan yang berada di bukit-bukit kecil. Rumah-rumah penduduk kebanyakan masih sederhana, ada yang semi permanen. Namun menjadi pembeda, setiap halaman rumah dan ruas jalan lingkungan bertabur ratusan macam jenis bunga. ” Diantara jenis bunga yang dibudidayakan, masyarakat lebih cenderung menanam bunga jenis piladang merah,” kata Kasri Satra,(40 tahun), tokoh masyarakat sekaligus ketua KBA Tabek.

Kata orang bijak, perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Sekurangnya pribahasa itu dibuktikan oleh guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muallimin Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok itu. Belasan tahun mengabdi tanpa pamrih, mempertahankan dan sekaligus meningkatkan kualitas sekolah demi mendidik anak bangsa di pelosok melalui Madrasah, kehadiran KBA Tabek telah memberi warna dalam kehidupan Kasri dan gugur-guru MIS Muallimin lainnya.
Padahal sebelumnya, masalah infrastruktur, memang menjadi persoalan yang tidak habis-habisnya dibidang pendidikan. Namun dengan semangat dan keihlasan untuk membangun madrasah, hasilnya tidak mengingkari perjuangan. “ Sekarang MIS Mualimin telah memiliki 22 guru, empat orang PNS dengan jumlah siswa 192 orang,” kata Murniati.

Madrasah yang berdiri tahun 2000 silam, awalmnya identik dengan kandang kuda karena wajah bangunan dan lingkungan yang kotor. Berbilang tahun dengan semangat juang pendidikan dari tokoh masyarakat dan guru-guru setempat, MIS Mualimin kini muncul sebagai madrasah sehat yang dinobatkan sebagai pelopor penerima Adiwiyata. Lompatan kemajuan semakin signifikan ketika program KBA Tabek juga menyentuh sekolah berbasis keagamaan itu.

Hampir semua infrastruktur pendidikan telah dilengkapi. Sebuah gedung indah dengan fasilitas modern dibangun. Ada ruang UKS disisinya, ruang majelis guru, ruang tata usaha, ruang kepala madrasah, musala dengan fasilitas tempat wudhu’. Semua lega. Pelajar menjadi enak, guru mengajar semakin nyaman. Warga makin mencintai Madrasah.

Suasana itu sengaja dibangun untuk menumbukan kemandirian terhadap Nagari yang dipilih. ” Melalui pola edukasi, pelatihan, dan sokongan dana untuk pemenuhan konsep yang diusulkan, pada waktunya nagari Talang Babungo akan berkembang,”
Papar Koordinator KBA Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo Nur Imansyah Tara.

Bidang pendidikan misalnya, KBA membantu kelengkapan sarana sekolah. Mulai dari MCK, UKS hingga infokus, laboratorium dan besiswa. “Pilar kesehatan, lingkungan, pendidikan dan kewirausahaan itu masing-masing kita edukasi. Semangat dan kebersamaan untuk menerapkannnya tetap berada di diri masyarakat,” kata Nur Imansyah Tara, belum lama ini.

Menurutnya, manajemen Astra sendiri akan terus memberikan pendampingan berlanjut kepada Nagari (desa) terpilih sebagai objek KBA, hingga kelak betul-betul mandiri. Tetapi untuk wilayah Sumbar, KBA yang diprioritaskan baru Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo.

“Sekarang fokus mewujudkan kemandirian Jorong Tabek dulu. Mungkin kedepannya jumlah KBA untuk wilayah Sumbar ditambah,” tutur Nur Imansyah yang juga Kepala Cabang Auto 2000 Khatib Sulaiman Padang itu

Destinasi Wisata Budaya

Berbading lurus dengan kemajuan MIS Mualimin, Lingkungan yang asri dengan prasarana kesehatan berupa Posyandu Kecubung, juga telah meningkat menjadi fasilitas berharga bagi kesehatan.

Kegiatan posyandu, berupa kelas ibu hamil dan posyandu lansia, secara regular dilaksanakan saban bulan. Teratur dan terjadwal. Sejak Astra memberikan alat timbangan balita, ibu hamil dan untuk lansia, kegiatan posyandu bahkan makin diminati.
Fenomena jorong Tabek yang makin mempesona, membangkitkan inspirasi pemerintah nagari Talang Babungo untuk menjadikan Kampung Berseri Astra Talang Babungo sebagai destinasi wisata budaya.

Dalam konsepnya, ujar wali nagari Zulfitriadi, paket wisata yang akan ditawarkan kelak menyangkut tradisi Kemingkabauan yang kini jarang dijumpai di lokasi objek wisata Sumbar.
Pihaknya kini tengah menyiapkan paket wisata berbeda dengan daerah lain. Semuanya berasal dari objek yang original laksana Minangkabau tempo doeloe.” Biarkan zaman kian maju, kami tetap memegang konsep Keminangkabauan,” ucap Zulfatriadi yang mengaku tengah menyiapkan sedikitnya 40 homestay untuk mendukung program kepariwisataan tersebut.

Semua tentu mendorong agar gagasan yang masih bermain dalam imajinasi wali nagari ini, diimplementasikan dalam bentuk program kepariwisataan. Pemerintah Kabupaten Solok, dalam konteks ini, juga terus memotivasi nagari setempat. Wakil bupati Solok Yulfadri Nurdin bahkan merasakan suasana nyaman ketika ikut mengitari KBA Tabek pada 15 September 2018 lalu.

Ia lantas mensuport agar KBA berkembang menjadi KBA Wisata untuk lebih meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Pihak Astra diharapkan terus memperkuatnya dengan kebijakan-kebijakan yang kontruktif untuk mewujudkan KBA Tabek menjadi kawasan agrowisata dengan mengandalkan kuktur dan budidaya tanaman tebu dan  produksi gula sebagai ikonnya.**

Loading...