Jamban Aman, Air Sehat, Pengeluaran Hemat

  • Whatsapp
Salah satu jam warga Kuranji, dibuat di sepanjan aliran sungai. Jambannya ada yang sudah dibeton seperti yang ada di depan mobil dalam gambar, ada juga yang dbuat seadanya dengan berdinding dan beratapkan seng bekas. hendri nova

 

Hendri Nova
Wartawan topsatu.com

Indra pedagang pecah belah di Belimbing Padang, pagi itu tampak sibuk memindahkan sebagian barang dagangannya ke sisi lain kedainya. Ia dibantu dua karyawannya, bahu membahu membersihkan dan kemudian menggepel keramiknya sampai bersih.

Saat ia sibuk beres-beres, satu mobil bak terbuka berhenti membawa seperangkat alat air minum isi ulang. Tak menunggu lama, alat itu sudah berpindah di tempat yang ia bersihkan tadi. Setelah semua beres, ia membayar upah dan petugas pengantar itupun pergi.

Hanya selang lima menit saja, di depan tokonya berhenti pula tangki air minum asal Gunung Talang Solok. Petugas dengan cekatan memindahkan isi tanki ke tanki penampun milik Indra.

Setelah selesai dan Indra membayar uang air, petugas itu pun berlalu. Indra tampak menghela nafas lega, karena hari itu bisnis barunya menjual air isi ulang segera dimulai.

“Bisnis air isi ulang saat ini sangat menjanjikan. Hampir 80 persen warga Belimbing minum pakai air galon sekarang,” katanya.

Apa yang diungkapkan Indra benar adanya. Dari semua warga Belimbing, yang masih minum air sumur biasanya warga asli. Sementara yang tinggal di perumahan, rata-rata minum dari air galon.

“Banyak pertimbangan yang membuat warga pindah ke air galon. Selain karena air tanah mereka yang sudah tidak layak konsumsi, juga waktu untuk mengolah air minum,” tambahnya.

Pertimbangan warga juga pada Bahan Bakar Minyak (BBM) ataupun gas yang akan digunakan untuk memasak air. Jika dibandingkan dengan minum air galon dengan harga sekitar Rp5.000 per galon, maka biaya yang dikeluarkan jadi jauh lebih hemat.

Sanitasi Tak Sehat

Pilihan warga Perumahan Belimbing untuk pindah ke air galon, sangat beralasan. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya yang tidak sampai 10 meter, membuat air tanah rawan rembesan septik tank yang tidak sehat.
Apalagi tidak semua warga memiliki kesadaran membangun septik tank layak, apalagi sehat dan tingkat aman.

Mereka ada yang hanya membeli satu cincin, lalu tak memberi tapak di bawahnya, sehingga tinjanya merembes mencemari air tanah.

“Saya pernah menggali sumur untuk mendapatkan air tanah. Sudah sampai empat cincin, airnya masih hitam seperti air selokan. Akhirnya saya tutup lagi karena menurut hemat saya air tanah di rumah saya tidak sehat untuk dipakai sehari-hari,” kata Isman, salah seorang warga Belimbing.

Akhirnya ia meminta PDAM memasang sambungan ke rumah, untuk keperluan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK). Sementara untuk minum, ia berlangganan pada pemilik usaha air minum isi ulang terdekat dengan rumah.

“Dalam seminggu keluarga saya bisa menghabiskan 7 (tujuh) galon. Itu berarti Rp35.000 seminggu dan menjadi Rp140.000 per bulan dan menjadi Rp1.680.000 per tahun,” tambah Isman.

Meski terasa besar, ia rela demi dapat konsumsi air sehat. Untungnya saja pengeluarannya bisa dilakukan per hari, sehingga tak terasa jumlahnya sangat besar saat sudah disetahunkan.

Apa yang terjadi di Perumahan Belimbing Padang, menurut Sr Urban Sanitation Specialisf, I Nyoman Suartana, seperti dikutip dari tribunlampung.co.id, merata di seluruh Indonesia.

“80 persen masyarakat Indonesia saat ini lebih mengandalkan air galon sebagai sumber air minumnya,” terang I Nyoman.

Menurutnya, tingginya ketergantungan masyarakat Indonesia pada air galon, pertanda air tanah yang tidak aman lagi untuk digunakan. Fakta kondisi sanitasi di Indonesia saat ini, ada 14 ribun ton tinja per hari mencemari badan air. 75 persen sungai di Indonesia tercemar dan 70 persen air tanah juga tercemar limbah tinja.

Fakta Sanitasi Dunia

WaterAid seperti dikutip dari tempo.co menyebutkan, lebih dari 40 persen penduduk di 16 negara tidak memiliki akses terhadap fasilitas air, bahkan sumur sekalipun. Komunitas marginal harus mengumpulkan air dari kolam dan sungai serta menghabiskan sebagian besar pendapatan harian mereka untuk membeli air bersih.

Studi WaterAid juga menunjukkan Papua Nugini memiliki persentase penduduk tanpa air bersih tertinggi. Ada 4,5 juta orang atau 60 persen warga terpaksa hidup tanpa akses air bersih, seperti keran publik, sumur, penampungan air hujan, atau saluran air dalam pipa ke permukiman.

Orang miskin di Papua Nugini menghabiskan 1,84 pound sterling atau lebih dari separuh pendapatan harian mereka, untuk menikmati air dengan jumlah sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Adapun orang-orang miskin di Madagaskar, menghabiskan hampir separuh pendapatan harian mereka untuk mendapat air bersih dalam jumlah cukup. India menjadi negara dengan penduduk terbanyak yang tak bisa mengakses air bersih.

WaterAid menyebutkan hampir 76 juta warga India hidup dengan pasokan air seadanya. Sementara Indonesia ternyata juga masuk daftar tersebut di peringkat ke-6 dari 10 negara. Ada sekitar 32 juta orang di Indonesia hidup tanpa air bersih.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan ketersediaan dan distribusi air yang cukup bisa mengubah hidup seseorang. Air berpengaruh besar terhadap perkembangan manusia, lingkungan, dan perekonomian. Menurut Ban, orang-orang yang sulit memperoleh air dan sanitasi biasanya tidak memiliki akses layanan kesehatan dan pekerjaan yang stabil.

“Pemenuhan dasar atas air, sanitasi, dan layanan yang bersih di rumah, sekolah, dan tempat kerja membuat ekonomi menguat karena ditopang oleh populasi dan tenaga kerja yang sehat dan produktif,” kata Ban.

WaterAid, lembaga nirlaba Inggris ini menyebutkan, sulitnya mendapat air bersih yang layak dan murah, menjadi masalah utama untuk mengentaskan kemiskinan dan wabah penyakit. Akibat tak tersedianya air bersih, risiko gangguan kesehatan hingga potensi kelahiran prematur dapat meningkat.

Satu Dari Lima Bayi Wafat

The Independent memperkirakan satu dari lima bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka, karena sepsis atau infeksi, masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah dengan air bersih dan pola hidup higienis.

Diperkirakan 42 persen dari semua rumah sakit di wilayah Sub-Sahara Afrika tak memiliki akses air bersih.
Secara global, penyakit diare akibat mengkonsumsi air kotor dan sanitasi buruk menjadi pembunuh anak-anak terbesar kedua setelah pneumonia.

Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada 2015 menyebutkan diare membunuh 315 ribu anak setiap tahun. Pekan lalu, UNICEF menyebutkan masalah akses air bersih semakin parah di lokasi konflik bersenjata, seperti Suriah dan Afganistan.

Krisis air bersih paling mencekik kaum miskin. Banyak yang beranggapan kemiskinan membuat mereka tak sanggup membeli air. Ironisnya, dalam kondisi absolut, orang miskin justru membayar jauh lebih mahal ketimbang orang kaya untuk menikmati air.

“Jika Anda hidup di daerah kumuh di Nairobi, Kenya, Anda harus membayar satu meter kubik air lebih mahal ketimbang mereka yang tinggal di Manhattan,” kata Henry Northover, pembuat kebijakan di WaterAid.

Sementara pada tahun 2015, PBB menyetujui 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang akan dicapai pada tahun 2030 yang akan memperbaiki dunia tempat kita tinggal. Salah satunya, negara berkomitmen untuk memastikan akses terhadap air dan sanitasi untuk semua orang.

Fakta Tentang Air

Ada beberapa fakta terkait air yang harus diketahui masyarakat dunia. Dimana sekitar 71 persen permukaan bumi tertutup air, menurut The United States Geological Survey Water Science School. Pasokan air total dunia setara dengan 332,5 juta mil kubik.

Lautan merupakan sekitar 97 persen dari seluruh air Bumi, yang berarti hanya 3 persen air yang tidak mengandung garam. Dari total air tawar dunia, 69 persen dibekukan di es dan gletser dan 30 persen lainnya ada di tanah. Hanya 0,26 persen air dunia ada di danau air tawar. Dan hanya 0,001 persen dari seluruh air kita yang ada di atmosfer.
Pada tahun 2050, populasi dunia akan tumbuh oleh sekitar 2 miliar orang — hampir 10 miliar — meningkatkan permintaan air hingga 30 persen, prediksi PBB.

Lebih dari 80 persen limbah kotor masyarakat mengalir kembali ke ingkungan, tanpa pengolahan atau penggunaan kembali. Sebanyak 71 persen lahan basah alami dunia telah hilang sejak tahun 1900, dan ini adalah kesalahan manusia.

Menurut PBB, 2,1 miliar orang tidak memiliki air minum yang aman di rumah. Dari jumlah tersebut, 844 juta tidak memiliki akses terhadap layanan air minum dasar, termasuk 263 juta orang yang melakukan perjalanan selama lebih dari 30 menit per perjalanan untuk mengumpulkan air.

Dan 159 juta orang masih minum air yang belum terolah dan memiliki risiko kesehatan yang serius dari sumber air permukaan, seperti sungai atau danau. Ada 663 juta orang yang hidup tanpa persediaan air bersih yang dekat dengan rumah.

Sr Urban Sanitation Specialisf, I Nyoman Suartana menilai, pengelolaan sanitasi yang aman sangat penting diwujudkan. Karena mendukung gaya hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat.
“Sanitasi dasar ya bagaimana memiliki akses jamban di rumah tangga. Kalau sanitasi aman itu pengelolaan kotoran rumah tangga sampai pada bagaimana itu disedot dan diolah,” jelasnya.

IPAL Komunal Solusi Masa Depan

Akses jamban sehat apalagi aman, memang menjadi kendala pada masyarakat perkotaan, apalagi yang tinggal di perumahan tipe 36/96. Jarak antara satu rumah dengan satu rumah lainnya yang tidak memenuhi syarat jamban aman, membuat air tanah sekitarnya tercemar.

Oleh karena itu, IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) komunal, sebagai sarana untuk mengolah limbah cair (limbah dari WC, dari air cuci/kamar mandi), bisa menjadi solusi masa depan. Komponen IPAL Komunal terdiri dari unit pengolah limbah, jaringan perpipaan (bak kontrol & lubang perawatan) dan sambungan rumah tangga.
Satu IPAL Komunal menurut Deki Asar, Kabid Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kota Pariaman, satu IPAL Komunal bisa melayani lebih dari 50 Kepala Keluarga (KK). Satu IPAL Komunal membutuhkan lahan minimal satu perumahan ukuran 36/96.

“Hal itulah yang membuat banyak pengembang tidak mau membuat IPAL Komunal yang pastinya merugikan mereka secara bisnis. Kecuali jika Pemda memberikan syarat ini pada mereka, sebagai syarat yang wajib dipenuhi sebelum izin diberikan untuk bangun perumahan,” katanya.

IPAL Komunal paling mudah diterapkan oleh perusahaan besar, instansi milik pemerintah yang menampung banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS), karena regulasinya ada pada pemilik tunggal maupun pemerintah. Satu bangunan sekolah SD, SLTP, SLTA, pondok pesantren, sampai Perguruan Tinggi (PT), membuat IPAL Komunalnya jauh lebih mudah.

Meski begitu, bukan tak ada solusi untuk menyelamatkan air tanah dari pencemaran tinja manusia. Salah satunya dicontohkan Pemerintah Kota Payakumbuh, di mana rakyat kurang mampunya diberi septik tank bertapak anti rembesan, saat mereka membangun rumah.

Untuk mengontrol tinja tidak dibuang sembarangan saat penuh, Pemko Payakumbuh juga menyediakan mobil sedot tinja dengan harga jasa yang lebih murah. Pada akhirnya, masyarakat menjadi lebih terkontrol akses sanitasinya dan air tanah terselamatkan dari pencemaran.

Jika septik tank sudah terjamin tak merembes, lalu biopori perumahan terawat penuh, sehingga air hujan diserap tanah lebih banyak, maka air tanah bisa diselamatkan. Penduduk kembali bisa menggunakan air tanah untuk konsumsi rumah tangga. Pada akhirnya, mereka memperoleh jamban Aman, air lingkungan jadi sehat, dan hasil akhirnya pengeluaran jadi hemat.

Maka dari itu, masing-masing walikota dan bupati harus memasukkan IPAL Komunal dan septik tank bertapak gratis bagi warganya, dalam anggaran tahunan, sebagai tanda cintanya pada air aman konsumsi. Jika semua bupati dan walikota perhatian pada sanitasi, maka amanlah dunia sebagai tempat tinggal dan rakyat bisa mendapatkan air minum aman bagi kehidupan sehari-hari. (*)

Pos terkait