Iran menolak usulan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara konflik, Rabu (25/3/2026). Iran malah tetap melanjutkan serangan ke Israel dan sejumlah negara Teluk. Salah satu serangan bahkan menyasar depot minyak di Bandara Internasional Kuwait hingga memicu kebakaran.
Penolakan terhadap rencana gencatan senjata tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi, termasuk serangan udara Israel ke Teheran serta pengerahan pasukan Angkatan Udara dan marinir AS ke kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara yang dikutip dari Associated Press, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam pembicaraan damai dan tidak memiliki rencana untuk bernegosiasi.
Pernyataan itu muncul tak lama setelah media Iran mengutip sumber pejabat yang menyebutkan bahwa Teheran menolak proposal gencatan senjata dari Washington. Iran disebut memiliki syarat sendiri untuk mengakhiri konflik.
Sebelumnya, proposal AS yang disampaikan melalui perantara dari Pakistan memuat sekitar 15 poin, termasuk pencabutan sanksi, penghentian program nuklir, pembatasan pengembangan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, AS juga meminta Iran mengurangi dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan, sebagaimana disampaikan oleh pejabat Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi.
Meski demikian, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa proses negosiasi masih berlangsung. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut pembicaraan tetap berjalan dan dinilai produktif. Ia juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan, Presiden Donald Trump siap mengambil langkah yang lebih keras.
Sejumlah poin dalam proposal tersebut diperkirakan sulit diterima Iran, mengingat sebelumnya Teheran menolak membahas program rudal balistik serta dukungannya terhadap kelompok militan, yang dianggap sebagai bagian penting dari strategi keamanan nasional.
Di sisi lain, Iran melihat kendali atas Selat Hormuz sebagai keuntungan strategis utama. Serangan terhadap infrastruktur energi serta pembatasan jalur tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dunia, sehingga meningkatkan tekanan bagi AS untuk meredakan situasi.
Iran juga menegaskan bahwa perundingan hanya akan dilakukan jika sesuai dengan kehendak mereka dan jika AS menghentikan segala bentuk tindakan yang dianggap merugikan rakyat Iran. Pernyataan ini sekaligus menanggapi klaim Donald Trump yang menyebut kedua negara akan segera kembali ke meja perundingan.
Melalui pernyataan resmi militer, Iran bahkan menegaskan sikap tegasnya untuk tidak bernegosiasi, baik saat ini maupun di masa mendatang, selama syarat-syarat tersebut belum terpenuhi. (rn/*)












