Iptek Nuklir Harapan Pembangunan Berkelanjutan

Kabar telah dibukanya Arab Saudi untuk jamaah umrah asal Indonesia, bagaikan angin surga di telinga Mia yang beberapa waktu lalu terpaksa batal terbang untuk umrah, karena Arab Saudi tiba-tiba melakukan lockdown karena pandemi Covid-19.

Ia yang waktu itu berangkat dari Jakarta bersama anak-anaknya, terpaksa menelan pil pahit dan memutuskan kembali pulang ke Padang. Sejak saat itu ia selalu berdoa, agar diizinkan Allah untuk bisa umrah ke Tanah Suci.

Tak di sangka, November 2020 menjadi kabar gembira dan menjadi jawaban atas doa-doa yang telah ia panjatkan. Pemerintah Arab Saudi sudah membuka kembali kesempatan untuk beribadah umrah.

Mia pun telah mengontak biro travel yang kemaren gagal memberangkatkannya, akan tanggal pasti ia dan anak-anaknya bisa diberangkatkan. Jawaban dari pihak travel memintanya bersiap-siap saja, jika kesempatan datang maka akan segera dihubungi.

Mia mulai menyusun kembali pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan selama umrah. Tidak lupa ia mulai mencari rendang yang bisa dibawa ke Arab Saudi.

Kalau urusan makanan ini, Mia memang tidak bisa makan lauk selain lauk yang khas Padang. Pengalamannya pada umrah pertama yang percaya saja akan kata pihak travel, bahwa masakan di Arab Saudi masakan nusantara, lumayan membuatnya kecewa.

Selera makannya hilang dan amat tergantung pada mie instan yang ia bawa dari Indonesia. Saat ada jamaah dari Padang lainnya yang memberinya rendang kala itu, sungguh menjadi masakan terlezat bagi dirinya, setelah lima hari patah selera makan.

“Saya akan membeli rendang yang sudah diiradiasi, karena bisa tahan selama satu bulan lebih. Kalau saya buat sendiri, paling tahannya dua hari saja, setelah itu harus dipanaskan dan ini satu hal yang merepotkan selama di Arab Saudi,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia pun pergi ke toko oleh-oleh khas Minang, karena di sana sudah tersedia rendang yang tahannya sampai satu bulan lebih. Teknik iradiasi yang diterapkan pada rendang tersebut, telah membuat rendang tambah enak.

“Rendang akan membuat saya lebih tenang saat makan, karena selera saya memang cocoknya pedas dengan bumbu asal Padang. Selain itu, saya juga beli dendeng dan lainnya,” ujarnya.

Rendang Iradiasi

Apa yang diungkapkan Mia memang benar adanya. Kini rendang sudah tahan lama, sehingga bisa diekspor ke berbagai negara.

Rendang memang sudah terkenal di dunia dan dinobatkan menjadi makanan terenak di dunia. Tak tanggung-tanggung, sejak tahun 2011, rendang menduduki peringkat pertama sebagai makanan terenak di dunia dalam World’s 50 Most Delicious Foods versi CNN International.

Selama delapan kali berturut-turut, rendang terus bertahan di peringkat pertama hingga tahun 2019 ini. Tahun 2018 lalu, rendang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu dari lima kuliner nasional Indonesia.

Makin terkenalnya rendang di seluruh dunia, tentu membutuhkan usaha untuk menjangkau penggemarnya di seluruh dunia. Oleh karena itu, rendang yang biasanya hanya tahan dua hari dalam suhu kamar, harus bisa bertahan sampai satu bulan lebih.

Maka dari itu, campur tangan ilmu pengetahuan teknologi (iptek) sangat dibutuhkan terutama terkait iradiasi makanan yang bisa mengawetkan makanan tanpa bahan kimia, rasa khasnya terjaga, sehingga makin membuat nikmat saat memakannya.

Untuk ini, pengusaha rendang kemasan sangat butuh campur tangan Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) yang menjadi satu dari dua institusi yang melayani jasa iradiasi gamma.

Terhadap daya tahan rendang yang sudah diiradiasi ini, telah dibuktikan pada tahun 2015 saat pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada para korban gempa Nepal. Dikutip dari cnnindonesia.com, Bantuan itu dikirim dalam bentuk makanan siap saji, seperti rendang dan semur daging yang sebelumnya diiradiasi gamma di fasilitas milik BATAN.

Dengan teknik iradiasi gamma, makanan siap saji ini mampu bertahan dalam perjalanan yang panjang dan penyimpanan minim menuju wilayah terdampak bencana. Sumbangan ini pun diapresiasi oleh Badan Tenaga Atom Nasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) dalam Sidang Umum IAEA pada tahun yang sama.

Tak hanya makanan, berbagai produk di bidang pangan dan lainnya juga bisa tahan lama hingga 18 bulan menggunakan teknik iradiasi gamma. Menariknya, teknik ini tidak memiliki efek kesehatan sama sekali dibanding menggunakan bahan pengawet yang terbuat dari zat kimia.

Saat ini, iradiasi gamma pangan telah disetujui oleh lebih 50 negara dan telah banyak diterapkan secara komersil selama puluhan tahun di Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.

Baca Juga  Riza Falepi: Geothermal dan Pariwisata Masa Depan Sumbar

Di Indonesia, BATAN menjadi satu dari dua institusi yang melayani jasa iradiasi gamma. Sampai saat ini, BATAN melayani produk pangan 60 perusahaan yang hendak diekspor ke berbagai negara.

Teknik sterilisasi iradiasi rendang daging sapi seperti dikutip dari jlppi.or.id, akan membuat produk rendang daging sapi dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpannya sampai 1,5 tahun pada suhu kamar (28-30oC).

Keuntungan lainnya adalah kandungan nutrisi yang diiradiasi pada dosis steril tidak berubah, bahkan kapasitas antioksidan dan cita rasanya cenderung meningkat. Berdasarkan beberapa kelebihan dari teknologi radiasi ini, produk rendang daging sapi steril iradiasi dapat direkomendasikan kepada pasien yang memiliki imunitas rendah (immunocompromised).

Di samping itu, rendang steril iradiasi dapat pula dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di daerah yang terisolir (remote spots), korban bencana alam, ransum militer, jamaah haji atau umroh yang ingin merasakan cita rasa produk rendang di tanah suci, para mahasiswa/aparatur sipil negara yang memiliki tugas belajar/training/workshop di luar negeri, serta masyarakat dengan aktivitas di luar rumah lainnya (outdoor activities).

Dikutip dari republika.co.id, riset yang dilakukan BATAN pada sejumlah penggemar rendang mengungkapkan rendang lebih enak setelah dilakukan radiasi. Hal ini diungkapkan Prof Dr Siti Zubaidah Irawati, pakar radiasi produk pangan BATAN, saat menggelar kuliah umum ‘Standarisasi Pangan Olahan Siap Saji dengan Teknik Radiasi Berbasis Pangan SNI Iradiasi’, di Aula Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya.

BATAN, kata Siti, telah mengkaji makanan rendang. Kajian dilakukan bersama beberapa instansi terkait seperti BPOM, Kementrian Kesehatan, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Perdagangan, BAPETEN, IAEA, WHO dan FAO. BATAN juga telah melakukan sampel pada korban bencana alam di Jawa Tengah dan gempa bumi Nepal, April 2015 lalu.

“Terbukti dari 200 sample yang kami ambil datanya di Jawa Tengah, para korban yang kami beri rendang dengan teknik radiasi menyatakan lebih enak daripada rendang tanpa teknik radiasi,” kata Siti.

Dengan demikian teknik ini dapat diterapkan pada korban bencana alam, industri makanan, terlebih menjelang MEA seperti sekarang ataupun meningkatkan gizi pasien. Berkat masa simpannya yang panjang, teknik radiasi ini juga berguna pada distribusi makanan.

“Harus kita bedakan dahulu antara irradiation food dan food radiation. Irradiation Food adalah produk pangan yang teradiasi sementara food radiation adalah prosesnya, dimana suatu produk pangan akan diradiasi terkontrol untuk memperpanjang masa simpannya sekaligus memperbaiki keamanan pangannya,” kata Siti.

Jadi tidak salah kiranya pada 14 Desember 2017 lalu, BATAN dan Pemprov Sumatera Barat memperkuat kerjasama dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesejahteraan masyarakat (batan.go.id).
Kesepakatan ini diwujudkan dengan penandatanganan naskah kerja sama oleh Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto dengan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno di Ruang Auditorium Gubernur Sumatera Barat.

Usai penandatanganan naskah kerja sama, Djarot mengatakan bahwa kerja sama antara BATAN dengan pemerintah provinsi Sumatera Barat telah berlansung sejak lama. “Yang mendasari kerja sama antara BATAN dengan Pemerintah Sumatera Barat adalah sejarah kerja sama yang sudah ada sejak tahun 2004, namun saat itu tanpa MoU,” ujar Djarot.

Pemprov Sumatera Barat tertarik dengan fasilitas iradiator, sebuah fasilitas yang berfungsi sebagai pengawetan bahan makanan, obat herbal dan sterilisasi alat kesehatan. Bagi Peprov Sumatera Barat, iradiator sangat berfungsi untuk mengawetkan makanan khas Sumatera Barat yakni rendang. Dengan memanfaatkan iradiator, rendang akan lebih awet dan tidak cepat rusak.

Terkait dengan ketertarikan Pemprov Sumatera Barat membangun iradiator, menurut Djarot BATAN siap membantu asalkan terdapat anggaran untuk membangunnya.

Iptek Nuklir Untuk Pembangunan Berkelanjutan

Pemanfaatan iptek nuklir seperti dalam rilis resmi BATAN, dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. BATAN melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), berkomitmen terus mengembangkan penelitiannya di kedua bidang ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini disampaikan Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan pada jumpa pers di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta, Kamis (22/10). Di kedua bidang ini, BATAN telah ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai collaborating center untuk wilayah Asia Pasifik.

“IAEA telah menunjuk BATAN sebagai collaborating center di bidang pemuliaan tanaman dan uji tak merusak. Ini artinya BATAN sudah diakui oleh internasional dalam penguasaan dan pemanfaatan iptek nuklir,” kata Anhar.

Baca Juga  DPRD Kota Padang Dorong Digitalisasi Retribusi dan Penguatan Layanan Publik di KUA-PPAS 2026

Pada Rencana Strategis (Renstra) 2020-2024, ungkap Anhar, BATAN akan lebih difokuskan pada peningkatan penguasaan science dan hasil litbang yang dapat dihilirkan kepada masyarakat. Produk-produk litbang di bidang pertanian dan industri akan lebih didorong untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat menjelaskan, pada Renstra 2020-2024, fokus kegiatan PAIR di bidang pertanian adalah menghasilkan varietas baru dengan produktivitas yang tinggi “Dalam Renstra PAIR, target pemuliaan tanaman dibagi menjadi dua, yaitu pemuliaan tanaman nasional dan lokal daerah dengan tujuan meningkatkan produksi tanaman padi, tahan hama, dan tidak mudah rebah,” kata Totti.

Untuk pemuliaan varietas tanaman padi nasional, ditekankan pada kualitas hasil, sedangkan untuk padi lokal penekanannya pada rasa yang tetap disukai oleh masyarakat setempat. Pengembangan varietas padi lokal telah dilakukan PAIR melalui kerja sama dengan berbagai pemerintah daerah seperti Kabupaten Kerinci, Musi Rawas, Klaten, Sijunjung, Solok, Tabanan, Buleleng, dan Landak.

“Hingga saat ini telah didapat berbagai galur mutan harapan di masing-masing daerah. Ada juga varietas yang sudah dilepas yakni varietas Rojolele SriNuk dan Rojolele SriNar dari Klaten, varietas Lampai Sirandah dari Sijunjung. Ada juga yang masih dalam proses evaluasi akhir galur mutan harapan dari kabupaten Musi Rawas dan Tabanan,” tambahnya.

Sesuai dengan Renstra BATAN, jelas Totti, PAIR juga didorong untuk mengembangkan penelitiannya di bidang pertanian pada tanaman kedalai yang berumur super genja, adaptif pada lahan marginal, dan kedelai hitam. Tak hanya itu, PAIR juga mengembangkan varietas tanaman serealia yaitu sorgum sebagai pengganti pangan, pakan ternak, dan menghasilkan bioetanol, serta tanaman hias yaitu tanaman krisan yang adptif di dataran rendah dan tahan penyakit karat.

Selain bidang pertanian, iptek nuklir juga banyak termanfaatkan di bidang industri, salah satunya adalah uji tak rusak yakni sebuah pengujian terhadap peralatan/fasilitas atau infrastruktur yang bertujuan untuk mengetahui adanya kerusakan tanpa harus menghentikan proses produksi yang sedang berjalan. Pengujian ini dikenal dengan istilah non destructed investigation (NDI).

Menurut Totti, dalam hal pemanfaatan iptek nuklir untuk kegiatan NDI telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai industri. “Kegiatan NDI mempunyai banyak cakupan kegiatan, yaitu teknik radiografi, gamma scanning, gamma tomografi dan radiotracer yang telah aplikasikan di berbagai perusahaan, seperti industri kimia, petrokimia, pengolahan logam/ automotive/alat berat, perminyakan, energi, tambang emas, penerbangan, dan konstruksi bangunan,” katanya.

Dikatakan Totti, tim NDI BATAN saat ini tergabung dalam konsorsium Program Riset Nasional sebagai bentuk kontribusi BATAN dalam pembangunan nasional. Kontribusi ini berupa peralatan portable standar industri berupa teknik radiografi, teknik gamma scanning, teknik gamma tomografi dan teknik radiotracer untuk pengujian struktur bangunan tahan gempa tahan api.

“BATAN juga akan menyiapkan prototipe struktur bangunan yang dilapisi bahan polimer dan diradiasi untuk menambah kekuatan struktur bangunan dan lebih tahan terhadap lingkungan yang berair,” tambahnya.

Totti berharap pemanfaatan iptek nuklir khususnya di bidang pertanian dan industri dapat menjadi solusi terhadap permasalahan di tengah masyatakat. Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap iptek nuklir semakin meningkat.

“Harapannya, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh para user, terutama untuk bidang pertanian dan industri di Indonesia. Pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang dapat membawa negara Indonesia mandiri, berdaya saing didasari dengan jiwa gotong royong,” harap Totti.

BATAN Harapan UKM

Apa yang dilakukan BATAN tentu menjadi harapan terbesar bagi pelaku UKM, terutama yang bergerak di bidang kuliner. Apalagi nanti jika sudah terwujud di Sumbar sebuah fasilitas iradiator, maka beragam kuliner Sumbar bisa menembus pasar internasional.

Produk seperti keripik, sambalado tanak, palai, dan beragam kuliner asal Minang lainnya akan membanjiri seluruh negara di dunia. Maka dari itu tak berlebihan kiranya, jika fasilitas iradiator di bangun di Sumbar.

Tentu efeknya nanti tidak hanya pada kuliner khas Sumbar, juga pada buah-buahan asal Sumbar yang rasanya dimonopoli oleh alam Sumbar, seperti bengkuang, markisa, dan lainnya.

Buah-buahan ini khas asal Sumbar dengan monopoli rasa dari alam. Dalam arti kata, daerah lain yang memiliki buah serupa, rasanya tidak seenak yang berasal dari Sumbar.

Maka dari itu, dengan adanya Iptek nuklir ini, akan mendukung pembangunan berkelanjutan di segala bidang. Maka dari itu, harus didukung penuh agar manfaatnya bisa dirasakan oleh semua orang yang ada di dunia. (*)

Hendri Nova
Wartawan: topsatu.com