PULAU PUNJUNG – Sejumlah tokoh masyarakat Dharmasraya menyayangkan Wakil Bupati Dharmasraya, Leli Arni ikut mengomentari postingan media sosial tentang isu terhadap mantan bupati Dharmasraya H.Marlon Dt Rang Kayo Mulie. Leli Arni dinilai tidak pantas ikut dalam isu-isu kotor yang dikembangkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang hingga kini tidak terbukti.
Raja Kerajaan Pulau Punjung, Daulat Abdul Haris Tuanku Sati mengaku kecewa dengan sikap Wakil Bupati Leli Arni.
“Sebagai pejabat BA 2 V, tidak seharusnya Buk Leli ikut berkomentar terkait isu kotor terhadap Bupati Dharmasraya 2005-2010 H.Marlon Dt Rang Kayo Mulie. Selain eks bupati, H. Marlon juga Pangulu Kaum di Pulau Punjung dan isu tersebut masih sebatas isu yang tidak terbukti,” kata Tuanku Sati bersama tokoh masyarakat lainnya kepada wartawan saat diskusi di salah warung di kawasan Pulau Punjung, Senin (27/10/2025)
Tuanku Sati mengatakan, Leli Arni tidak bisa membaca keadaan sosial. Sehingga Leliarni terpancing untuk ikut-ikutan dalam permainan orang yang tidak ingin Dharmasraya kondusif.
“Saya jadi ragu, apakah Wakil Leli Arni ini tidak tahu keadaan atau sengaja. Atau jangan-jangan ada kepentingan pribadi yang diharapkan?,” tambah Rajo Pulau Punjung Tuanku Sati.
Tuanku Sati mengaku tidak terima dengan pembusukan terhadap salah satu pangulu dengan isu asusila yang belum terbukti tersebut. Dia meminta agar Leli Arni intropeksi diri dan meminta maaf kepada masyarakat secara terbuka, karena Leli Arni juga secara terang-terangan ikut mendukung isu asusila tersebut di media social dengan ikut menertawakannya. Sebagai seorang mantan pamong senior apakah layak seperti itu? Atau ada kepentingan lain yang diharapkan?
Senada, Tokoh Dharmasraya dari Nagari Sungai Dareh, Taufik Sukur juga menilai Leli Arni berlebihan.
“Sebagai wakil bupati. Leli Arni tidak pantas bermain-main dalam politik praktis yang bisa menganggu stabilitas sosial. Apalagi itu nyata hanya isu belaka dan dikembangkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” tegas Taufik Sukur.
Taufik Sukur meminta agar wakil bupati menjadi mitra bupati dalam memimpin daerah ini ke arah yang lebih baik.
“Bukan membuat gerakan-gerakan yang tidak jelas, apalagi memainkan politik-politik yang bisa merugikan. Seharusnya Leli Arni membantu bupati sesuai aturan dan tupoksi wakil bupati,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat dari Nagari Koto Baru, Mulyadi S.Ag juga mengaku kecewa dengan Leli Arni. Menurutnya, Leli Arni harus bisa menjadi perwakilan daerah selatan untuk menunjukkan politik yang beradab.
“Sebagai sesama warga Koto Baru, saya mengharapkan Buk Leli bisa menunjukkan bahwa adab di atas segalanya. Sebagai pemimpin jangan sampai memberi contoh yang tidak baik dalam dunia politik. Apalagi Buk Leli termasuk birokrat dan politisi senior. Semestinya Buk Leli bisa menghindari hal-hal yang merugikan dirinya atau orang lain,” kata Mulyadi.
Mulyadi merasa malu sebagai warga Koto Baru atas perilaku Leli Arni yang ikut bermain dalam ranah isu yang menyudutkan pihak lain. Mulyadi meminta agar Leliarni fokus pada pengabdian untuk membangun daerah ini.
“Tinggalkanlah sesuatu yang baik untuk dikenang, jangan mau diperalat yang kemudian merugikan diri sendiri dan banyak orang,” tutupnya.
Kemudian, Wakil Bupati Periode 2016-2020, Amrizal Dt Rajo Medan pun menyanyangkan sikap Leli Arni terhadap kondisi yang berkembang. Menurutnya, seorang wakil bupati seharusnya atau wajib menjaga stabilitas daerah dengan tidak terlibat dengan hal- hal yang mengarah atau yang berujung pada kisruh di tengah- tengah masyarakat.
“Saya juga pernah menjabat sebagai wakil bupati, dan saya berusaha untuk menjaga harmonisasi dengan bupati. Kalau pun ada isu yang akan menyebabkan menganggu kenyamanan daerah dan masyarakat, saya justru turun kelapangan untuk mendiamkan. Bukan menambah” minyak”,” tegasnya.
Ia menambahkan, menjadi seorang wakil juga mesti pandai menempatkan diri sebagai wakil atau menciptakan suasana nyaman di jajaran birokrasi dan masyarakat.
“Jangan ambil bagian dari isu yang tidak jelas,” pungkasnya.
Wakil Ketua DPRD Dharmasraya, Ade Sudarman juga mengaku kaget dengan sikap Leli Arni yang ikut menanggapi isu sensitif, ikut berkomentar dan ketawa di Facebook. Komentar itu tentunya menjadi multi tafsir, bahkan menjadi negatif. Apalagi isu ini menyangkut nama seorang datuk.
” Sebagai seorang politik dan eks birokrat seharusnya tidak ikut memperkeruh suasana. Kalau tidak bisa menjernihkan, alangkah baiknya diam,” kata Politisi PAN ini.
Menurutnya, sikap seorang wakil itu mestinya memberi kenyamanan terhadap isu sensitif yang menyangkut nama baik daerah.
“Jangan ikut memancing atau memperkeruh suasana,” pungkasnya.
Sebelumnya, Leliarni ikut berkomentar di postingan facebook ” Tutup muko Supayo Ndak Malu Hahaha ” tulisnya. Komentar ini sehubungan dengan isu asusila yang dituduhkan kepada H. Marlon Dt Rang Kayo Mulie. Keikutsertaan Leliarni dalam komentar di postingan tersebut membuat banyak orang terkejut. Seolah Leliarni ingin menyampaikan pesan bahwa dia mendukung untuk mengembangkan isu asusila yang dituduhkan kepada H. Marlon tersebut. ( roni)












