Opini  

Imunisasi Bukan Suntik Mati

Oleh Charlie Ch. Legi

SEPANJANG bulan Januari tahun 2022 lalu, sudah empat kali Dewi bolak-balik ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Anaknya, Faruq mengalami sakit. Awalnya Faruq terkena sakit difteri. Beberapa hari kemudian terkena cacar. Dewi pusing tujuh keliling. Waktunya tersita oleh anak.

Memasuki bulan Maret, Dewi kembali mengunjungi rumah sakit setempat. Kali ini anak keduanya, Heru yang mengalami sakit. Penyakit yang diderita anak keduanya sama dengan yang diidap oleh anak pertamanya. Dewi pun mengeluh.

“Awalnya kakaknya yang sakit, sekarang adiknya, menangis saya,” lirih Dewi saat memboyong anaknya ke rumah sakit yang letaknya terbilang jauh dari rumahnya.

Ketika di rumah sakit, Dewi ditagih dokter, memperlihatkan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Saat diperlihatkan, dokter pun geleng-geleng kepala. Kedua anak Dewi rupanya belum pernah sekalipun mendapatkan imunisasi. Kecukupan gizi dan berat badan anaknya pun mendekati garis merah.

Masalah yang diderita Dewi, segendang seirama dengan yang dialami Ayu. Ayu yang memiliki satu anak kini harus menerima kenyataan pahit. Anak lelakinya mengalami lumpuh layuh. Setelah diperiksa dokter setempat, anaknya mengalami polio. Sesekali anaknya mengalami kesulitan dalam bernafas. Ayu pun pasrah dengan keadaan.

“Saya belum pernah membawa anak imunisasi di Posyandu,” aku Ayu.

Dewi dan Ayu selama ini memang abai dalam kesehatan anaknya. Pekerjaan membuat mereka lalai membawa anaknya ke Posyandu. Anaknya yang harusnya mendapatkan imunisasi lengkap, tak terpenuhi secara keseluruhan. Padahal, hampir setiap waktu kader Posyandu dan pihak Puskesmas mengajak ibu dan balita agar datang untuk melakukan imunisasi.

“Iya, saya selalu lupa membawa anak ke Posyandu,” sebut Ayu.

Ayu dan Dewi merupakan gambaran ilustrasi dari sejumlah kaum hawa di Tanah Air. Saat ini masih saja ada ibu yang enggan membawa anaknya ke Posyandu terdekat. Padahal Pemerintah terus mengajak kaum ibu untuk membawa anaknya ke Posyandu. Mendapatkan imunisasi lengkap.

“Saya sebenarnya takut membawa anak ke Posyandu, melihat anak menangis karena disuntik, seperti akan disuntik mati,” ujar Ayu.

Berawal saat Pandemi Covid-19.