PADANG – Puluhan rumah di Komplek Wahana 2 Sungai Lareh, Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat diterjang banjir akibat luapan air sungai di sekitar kawasan tersebut, Sabtu (10/10/2026). Ketinggian air bervariasi antara 60 cm hingga satu setengah meter.
Yulia, warga setempat yang rumahnya paling terendam di antara rumah lainnya mengatakan, setiap hujan, sungai di belakang rumah mereka selalu meluap. Tak hanya menggenang di halaman, tapi juga masuk ke rumah. “Di atas rumah saya lebih 60 cm, kalau di halaman setinggi dada saya atau sekitar 150 cm,” kata perempuan dengan tinggi 170 cm itu.
Warga Blok D itu menyebutkan, sejak dia dan keluarganya tinggal di Wahana 2 Sungai Lareh pada tahun 2016 lalu, air bah dari luapan sungai sering melanda kawasan itu.
Yulia menyebutkan sudah tak terhitung air bah melanda komplek tersebut. Terdasyat pada November 2025. Bahkan kala itu, dia harus dioperasi sebanyak dua kali pada kakinya yang robek akibat terperosok di jembatan kecil depan rumah. “Hampir setiap tahun, kawasan ini diterjang air bah. Beberapa kali sangat dahsyat, diantaranya yang terjadi pada Agustus 2018, November 2025, 20 Juli 2026, 3 Agustus 2026 dan 10 Oktober 2026 ini,” sebutnya.
Seringnya luapan sungai menerjang kawasan itu membuat mereka trauma. “Kami selalu khawatir kalau hujan turun. Takut air bah datang,” risaunya.
Warga lainnya juga menyatakan hal senada. Setiap hujan, air datang sangat deras dari arah sungai. Datangnya kencang dan sangat cepat, sehingga kawasan itu langsung tergenang air bercampur lumpur yang sangat coklat. “Airnya datang sangat deras. Begitu kencang,” kata Ella, warga lainnya.
Warga Wahana 2 Sungah Lareh lanjutnya, telah mengirimkan proposal untuk penanggulangan dan pengaman sungai kepada Balai Wilayah Sungai Sumatra V. “Sudah dua kali di survei. Pertama pada Sabtu, 12 September 2026. Kemudian Selasa, 6 Oktober 2026. Tapi belum ada tindaklanjut,” sebut keduanya.
Surat tak hanya ditujukan kepada BWS Sumatra V, tapi juga telah diteruskan ke instansi terkait lain, seperti Dinas PU Padang, Dinas Sumber Daya Air Sumbar, BPBD Kota Padang dan Sumbar, bahkan juga telah diterima oleh Wali Kota Padang Fadly Amran dan Gubernur Sumatra Barat, H. Mahyeldi.
“Kami berharap, penanganan sungai ini disegerakan, karena kami selalu was-was setiap kali hujan. Dulu sungai itu sangat kecil, tapi belakangan terus melebar,” terang Yulia.
Besar harapan mereka diberi perhatian, terutama untuk penanggulangan sungai di sekitar kawasan tersebut. ()












