Guspardi Gaus Selamatkan Muka PAN di Sumbar II

oleh -371 views
Guspardi Gaus. (*)

 

PADANG-Guspardi Gaus menyelamatkan muka PAN di Dapil II Sumbar pada Pemilu 17 April 2019, setelah pada Pemilu sebelumnya 2014, PAN kehilangan kursi ke Senayan. Padahal sejak reformasi bergulir 1998 dan Pemilu digelar 1999, 2004 dan 2009, kader PAN tetap ada dari wilayah Sumbar bagian utara.

“Alhamdulillah. Ini adalah kemenangan PAN, kemenangan rakyat Sumbar. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Insyaallah tetap amanah,” sebut Guspardi kemarin.

Guspardi dalam Pileg tersebut, mendapat respon positif dari pemilih di Dapil II Sumbar, mulai Pariaman, Padang Pariaman, Agam, Bukittinggi, Pasaman, Pasaman Barat, Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Raihan suaranya, berdasarkan hasil rekapitulasi hasil penghitungan suara yang diplenokan KPU Sumbar, Minggu (12/5), mencapai 56.365 suara dari total raihan PAN sebanyak 151.476 suara.

Dari enam kursi yang diperebutkan, PAN menempati kursi keempat, setelah Gerindra, PKS, Demokrat. Dan di atas parpol besar sekaliber Partai Golkar dan PPP.  Tapi secara pribadi, Guspardi berada di peringkat tiga setelah Mulyadi  (Demokrat) yang meraih 144, 954 suara   dan Ade Rizki Pratama (Gerindra) yang meraih 104.740 suara).

Pemilu 2014 lalu, PAN hanya berada pada posisi kedelapan, sehingga tak ada tiket untuk ke Senayan, karena hanya ada tersedia enam tiket.  Untung saja di Dapil I Sumbar, PAN masih ada dan mengantarkan kadernya, H. Mhd Asli Chaidir ke Senayan.

Raihan suara PAN pada Pemilu kali ini, cukup mengejutkan. Apalagi sejumlah lembaga survei menyebut, nasib PAN tak jauh beda dengan Pemilu sebelumnya, gagal ke Senayan. Tapi hal ini ditanggapi dengan sikap positif oleh para caleg PAN yang bertanding. Mereka terus bersosialisasi dan terjun ke masyarakat.

Tak heran, jika khusus di PAN ini, kekuatan caleg berimbang dan punya peluang sama untuk meraih suara tertinggi.  Mereka yang disebut-sebut adalah Guspardi Gaus, Taslim dan Ekos Albar akan fight. Fight mereka bukan saling membunuh, tapi mengembangkan sayap sehingga membuahkan hasil signifikan. Tadinya hanya peringkat kedelapan, sekarang peringkat keempat.

Kekuatan yang tadinya disebut-sebut berimbang pula, justru kenyataannya raihan suara Guspardi cukup jauh jaraknya dengan Taslim dan Ekos Albar. Taslim meraih 16.042 suara dan Ekos Albar mendulang 35.854 suara. Kalaupun menang, jaraknya mungkin tak sejauh itu. Guspardi yang semula dianggap biasa-biasanya, ternyata mengejutkan.

Ya, itulah Guspardi. Tak ada dalam kamusnya kata-kata gagal. Gagal menggapai sesuatu bagi Guspardi adalah ujian untuk terus memperbaiki diri. Politisi yang sarat pengalaman ini sudah terlatih. Bekerja profesional, dan  efektif adalah tipikalnya. Apapun diberikan kepercayaan kepadanya, Guspardi akan totalitas mengembannya.

Ketika dia diberi amanah sebagai ketua pelaksana, pelantikan pengurus DPW PAN Sumbar yang dikomandoi H.Mhd Asli Chaidir sekitar 2012, Guspardi dengan sangat baik melakoninya. Begitu pula saat kampanye nasional PAN di Sumbar pada 2014 yang sukses itu, Guspardi yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana.

Totalitas mengemban tugas kepartaian dan rajin menemui konstituen, Guspardi lolos ke DPRD Sumbar dan menjadi wakil ketua DPRD Sumbar. Selama mengemban amanah di sini, akademisi yang juga pengusaha ini, tetap mengedepankan kepentingan partai. Tugas sebagai pimpinan DPRD Sumbar sekaligus kader partai yang juga mesti menjaga hubungan dengan konstituen, dilakoninya dengan baik.

“Di sinilah banyak yang tidak terekspos ke permukaan. Beliau rajin ke lapangan, temui masyarakat. Enak diajak bicara. Meski wawasan dan pengetahuan tinggi, karena pernah menjadi dosen di IAIN (kini UIN)  Imam Bonjol, tapi beliau tidak menonjolkan itu. Beliau biasa-biasa saja dan penuh kekeluargaan. Inilah nilai plus yang menuai simpati dan empati masyarakat,” kata In, seorang tim sukses Guspardi.

Tokoh senior Muhammadiyah ini, sebetulnya pernah mencoba bertarung untuk DPR melalui kendaraan PPP (sebelum bergabung ke PAN pada 2011) pada 2009, setelah 10 tahun sebelumnnya menjadi anggota DPRD Sumbar. Tapi ketika itu, yang lolos ke Senayan adalah M. Iqbal (anak Bachtiar Chamsyah).

Padahal setiap Bachtiar Chamsyah yang ketika itu juga Menteri Sosial ke Sumbar dan road show ke berbagai daerah, terutama Agam dan Dapil II Sumbar umumnya, Guspardi selalu mendampingi Bachtiar Chamsyah. Bisa saja Guspardi mencari alasan sehingga tidak bisa mendampingi sang menteri, tapi Guspardi tak mau. Tetap mendampingi sang petinggi DPP PPP itu meski di sisi lain yang dihalo-halokan sang menteri itu adalah M. Iqbal.

Begitulah Guspardi. Dia lebih mengedepankan amanah yang diberikan kepadanya. Ditugasi partai mendampingi pengurus teras DPP PPP, ya, dilaksanakan secara maksimal. Pantangan bagi Guspardi, kalau amanah atau kepercayaan yang diberikan dilaksanakan ala kadarnya apalagi disia-siakan. Sebab, Guspardi kecil dididik oleh orangtua (alm) H. Gaus, untuk tekun gigih dan wajib memaksimalkan kepercayaan yang diberikan oleh siapapun.

Wajar jika di banyak organisasi mulai Muhammadiyah, ICMI , Kadin, Hippi (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia), Apepi (Asosiasi Pengusaha Emas Permata Indonesia) ,  dan lainnya, nama owner Citra Swalayan ini selalu ada.  Kenapa? Ya itu tadi, setiap diberi amanah dan tanggung jawab, Guspardi selalu melakoni dengan baik. Semoga di Senayan nanti, juga demikian. (pendi)

 

Loading...