Gelinjang ‘Emmahaven’ di Denyut Nadi Perekonomian Nasional

oleh
Proses bonglar muat di pelabuhan Teluk Bayur,  Senin (5/11).  Dengan adanya transformasi digitalisasi menggunakan sistem ITOS-NBS (New Billing System) dalam aktivitas bongkar muat peti kemas menjadi lebih real time dan terkoneksi ke kantor pusat dan Kementerian Perhubungan. (givo alputra) 

Wartawan Topsatu.com

Rusmel

Setelah pabrik semen di Indarung, ‘pusaka’ Belanda yang menjadi ikon ranah Minang (Sumatera Barat) adalah pelabuhan Teluk Bayur. Sebuah dermaga nomor dua tertua setelah Tanjung Priok yang berada di teluk pantai Barat Sumatera, memiliki peran penting dalam geliat perekonomian Nasional.

Sama dengan pabrik semen, kini dan masa yang akan datang, eksistensi pelabuhan Teluk Bayur adalah kebanggaan, bahkan harga diri publik Sumatera Barat. Begitu urgens dan populernya pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) ini, pada masanya, pernah menjadi sumber inspirasi bagi pekerja seni hingga tercipta lagu Telur Bayur yang dinyanyikan Erni Johan. Teluk Bayur bahkan sempat menjadi latar cerita film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck atau masuk dalam alur cerita film klasik Sengsara Membawa Nikmat.

Dari sudut operasional usaha, antara perusahaan semen Indarung dan pelabuhan Teluk Bayur memiliki korelasi tinggi dengan mengedepankan prinsip multisimbiosisme. Meski soal nasib relatif berbeda. Bahkan ketika zaman bergerak maju berbarengan dengan berkembangnya pelabuhan di Selat Malaka, aktivitas perdagangan di Teluk Bayur mengikuti trend penurunan transportasi.

Teluk Bayur bahkan sempat kehilangan pamor ditengah tingginya mobilitas angkutan darat dan udara. Pelabuhan yang berdiri sejak tahun 1858 itu, justru sempat disangsikan tenggelam diantara riuh populeritas dan kemajuan tekhnologi.

Teluk Bayur yang awalnya identik dengan pelabuhan angkutan orang, sempat pula menjadi sandaran bagi moda transportasi massal nasional dan internasional. Emmahaven, nama lain pelabuhan kapal terbesar yang berada di depan Bukit Air Manis dan Gunung Padang itu, tidak terbantahkan ketika dicatat sebagai satu dari lima pelabuhan besar tersibuk di Indonesia sejak era perang dunia kedua.” Kami ingin kembalikan kejayaan pelabuhan dengan semangat Teluk Bayur bangkit,” demikian tekad General Manager (GM) IPC Teluk Bayur, Armen Amir, pekan lalu.

Suara GM Pelindo II itu begitu jelas menggambarkan sebuah komitmen dan optimisme untuk merubah ‘greget” pelabuhan kelas satu dengan modal sertifikat ISO 9002 yang diperoleh tahun 2013. Bahkan setelah beberapa kali mengalami peremajaan infrastruktur, dengan aroma inovasi tinggi, manajemen pelabuhan Teluk Bayur juga memiliki modal sosial berupa penghargaan dari Kementrian Perhubungan dalam soal layanan prima transportasi publik untuk peti kemas dan curah cair. Dengan modal itu, Pelindo II Cabang Teluk Bayur ingin mambangkik batang tarandam sebagai implementasi filosofi “Teluk Bayur bangkit”.

Tanda tanda kebangkitan Teluk Bayur semakin mengkristal dengan membangun Terminal Peti Kemas (TPK). Terminal ini diharapkan bisa mendongkrak ekonomi masyarakat menyusul makin mudahnya lalu lintas barang dari dan ke Sumatera Barat serta daerah sekitar. Karena alasan itu, sangat wajar kalau sepanjang periode 2011–2016, PT Pelindo II telah berani menanamkan investasinya sekitar Rp 1,76 triliun.

Pengembangan terminal peti kemas ini menjadi denyut transformasi bagi tubuh Pelindo II/IPC Cabang Teluk Bayur. Terminal ini akan berpengaruh kepada waktu sandar kapal yang sebelumnya tanpa kepastian jadwal . Dampak lain terjadi pada peningkatan arus barang perdagangan, serta arus keluar masuk kapal dan perkembangan ekspor impor.

Bersama pengoperasian terminal peti kemas, aneka fasilitas modern juga dilengkapi, terutama untuk melayani pelayaran industri seperti pupuk, semen, batu bara dan minyak Sawit. .” Investasi terbesar berada di pengembangan Terminal Peti Kemas (TPK) dengan total Rp 250 miliar,” sebut Armen Amir.

Sepanjang tahun 2018 ini, Pelindo II Teluk Bayur kembali menanamkan investasi mencapai Rp1 triliun. Di antaranya untuk pembangunan gudang A dengan nilai investasi sebesar Rp 39,6 miliar. Pembangunan workshop dengan nilai investasi Rp 6,1 miliar, berikut sejumlah kebutuhan pelabuhan modern, termasuk pembangunan pool truk dengan nilai investasi Rp 2,4 miliar.

Peningkatan infrastruktur pelabuhan tidak melulu meremajakan peralatan, pihak Pelindo II Cabang Teluk Bayur juga akan membangun gedung baru IPC Teluk Bayur, pembangunan Kantor Lurah Teluk Bayur, Kantor KSOP, Kantor Koperbam Teluk Bayur, dan Masjid Muhammadiyah Teluk Bayur dengan nilai investasi sebesar Rp 35 miliar.

Optimisme Armen tampak makin menyala ketika jelang tutup 2018, laba pengelolaan pelabuhan Pelindo II Cabang Teluk Bayur diprediksi melebihi target. Ia memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh hingga akhir tahun bisa mencapai Rp40 miliar.” Kita terus berbenah agar semua pengguna jasa pelabuhanan dapat terlayani dengan baik, biaya aktivitas pelabuhan bisa berkurang,” paparnya.

Sejarah pelabuhan Teluk Bayur, sama panjangnya dengan usia dermaga yang dibangun pada 1888 dan selesai tahun 1893 itu. Banyak cerita dan kenangan yang mengikuti perkembangan pelabuhan yang pernah ‘mengadopsi’ nama Ratu Belanda, Emmahaven, yang konon berkunjung pada tahun 1916 silam.

Dalam catatan sejarah pelabuhan yang memiliki bentangan dermaga sepanjang 1,4 km di kawasan seluas 82,64 hektar ini, awalnya merupakan pelabuhan samudera yang melayani kegiatan perdagangan internasional. Fungsi utama pelabuhan Emmahaven, kala itu, adalah sebagai pintu gerbang antar pulau, baik untuk penumpang maupun hasil bumi.

Pelabuhan yang berada di kelurahan Teluk Bayur Selatan, Kecamatan Padang Selatan Kota Padang ini, terus menyimpan banyak potensi ketika ia berkembang sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor dari dan ke Sumatera Barat.

Banyak harapan menggantung di Teluk Bayur, sama tingginya dengan persaingan moda transportasi itu sendiri. Bila aktivitas pelabuhan telah bangkit dan bersaing, Teluk Bayur diyakini memberi kontribusi bagi Sumbar dan bangsa Indonesia.” Setiap eksport dari Teluk Bayur berdampak pada perekonomian masyarakat Sumbar,” ungkap Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, baru baru ini.

Pelindo II Cabang Teluk Bayur juga mengusahakan membuhul konektifitas dengan enam pelabuhan lain di Sumbar. Pelabuhan Muaro Padang, Pelabuhan Panasahan Painan, Pelabuhan Teluk Tapang Pasaman Barat, dan tiga pelabuhan yang menyatukan pulau Mentawai, akan mengintegrasikan dengan pelayaran menuju Teluk Bayur. Apabila ini disatukan dampaknya luar biasa sekali. Sumatera Barat bakal punya infastruktur pelabuhan yang besar dibandingkan dengan daerah lain di dunia.

Dalam skemanya, pihak Pelindo II Cabang Teluk Bayur ingin menginisiasi mengintegrasikan lima pelabuhan yang sebelumnya ada di Sumbar. Teluk Bayur sebagai poros, menjangkau pelabuhan Teluk Tampang di Pasaman.” Insya Allah tahun 2019 sudah diakokasikan anggaran Rp 68 miliyar untuk revitalisasi pelabuhan Teluk Tampang,” ungkap Armen Amir.

Program integrasi pelabuhan itu sekaligus untuk merealisasikan komitmen Sumbar menuju 5 juta eksport dengan lima perusahaan CPO. Bahkan ketika hasil produksi lima komoditas Sumbar menuju pasar dunia, pelabuhan TeluknBayur akan menjadi semakain berarti. Melalui pelabuhan Teluk Bayur CPO asal Sumbar dikirim ke India, Bangladesh, Thailand, USA, Mesir dan Kenya. Cangkang biji sawit ke Jepang dan Korea Selatan, Bukil pakan ternak ke Newzeland dan Korea Selatan. Semen ke Bangladesh, Maladewa dan Srilanka dan Batubara kita ke India.

Konektifitas itu, berbanding lurus dengan program kepariwisataan di Sumatera Barat. Diuntungkan oleh geografis Teluk Bayur, maka pelabuhan ini akan terintegrasi menjadi satu dengan seluruh pelabuhan di Sumatera Barat, sehingga memunculkan potensi lain di bidang pariwisata.

Teluk Bayur, yang berada di teluk dan berdampingan dengan perbukitan gunung Padang, menjadikan pesona pelabuhan sangat menakjubkan. Pemandangan Samudera Hindia akan terlihat dari bukit sekitar Teluk Bayur.
Untuk mempertegas Teluk Bayur sebagai destinasi wisata sejarah, Pelindo II cabaTeluk Bayur berencana akan membangun Pusat Maritim Center di kawasan Batang Arau.

Gedung Pusat Maritim Center itu akan menyajikan informasi mengenai sejarah, layanan di pelabuhan, laboratorium, sumber informasi kemaritiman, serta wahana edukasi bagi masyarakat. ” Keberadaan Maritim Center menjadi salah satu upaya mengembalikan kejayaan Pelabuhan Teluk Bayur. Ini juga belum ada pelabuhan lain di Indonesia,” ungkap Armen.

Hakiki pelabuhan harus diarifi sebagai salah satu mata rantai penting dalam perekonomian nasional. Menyikapi itulah mungkin, pada era baru pelabuhan, pengelola pelabuhan Teluk Bayur berkomitmen memberikan kemudahan bagi pengguna jasa, baik dalam pelayanan operasional dengan modernisasi alat-alat bongkar muat maupun kemudahan dalam transaksi keuangan.

Sebaris dengan mimpi menuju era baru pelabuhan dengan fasilitas serba digital untuk memudahkan pelayanan, akan semakin terasa gelinjang Emmahaven di Dalam Denyut Nadi Perekononian Nasional. Teluk Bayur, teruslah bangkit menuju pelabuhan yang permai.***

Loading...