FTI Universitas Bung Hatta Buka Program Studi Rekayasa Energi Terbarukan

  • Bagikan

PADANG – Fakultas Teknologi Industri, Universitas Bung Hatta resmi membuka Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan.

Hal ini berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 109/OT/2021 tentang Izin Pembukaan Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan Program Sarjana Terapan (D-IV) pada Universitas Bung Hatta di Kota Padang yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Bung Hatta.

Penyerahan SK ini diserahkan langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah X, Prof. Herri, M.B.A.

Pendirian program studi ini merupakan tindak lanjut kerja sama Program Studi Rekayasa Energi Terbarukan di FTI Universitas Bung Hatta dengan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan PT Supreme Energy.

“Di Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan, mahasiswa mempelajari berbagai macam energi terbarukan, seperti bahan bakar nabati (biofuel), geothermal, energi proses, energi dari biomassa dan biogas, energi listrik, energi mikrohidro, energi surya, energi angin, pengembangan dan rekayasa energi baru,” sebut Prof. Dr. Reni Desmiarti, M.T., Dekan FTI Universitas Bung Hatta.

Energi terbarukan akan menjadi sumber energi dominan bagi manusia di masa depan karena cadangan sumber energi berbasis fosil semakin berkurang dan akan habis.

Pemanfaatan energi terbarukan lebih ramah lingkungan memperkecil dampak negatifnya terhadap perubahan iklim.

Dalam kesempatan khusus, Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Tafdil Husni, M.B.A mengatakan bahwa di FTI Universitas Bung Hatta terdapat prodi baru, Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan yang merupakan program studi dengan tujuan menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan teknis di bidang teknik energi terbarukan serta memiliki karakter seorang wirausaha yang selalu mempertimbangkan sisi bisnis yang selalu sigap dan tanggap terhadap setiap peluang yang muncul.

“Energi terbarukan memiliki peluang bisnis yang sangat menjanjikan karena pemerintah di seluruh dunia sedang berusaha untuk mengatasi perubahan iklim akibat adanya gas karbon dioksida yang dihasilkan dari pemakaian energi fosil. Perkembangan industri energi terbarukan saat ini sangat pesat di berbagai negara, seperti geothermal, energi surya, energi air, energi angin dan biomassa, menyebabkan kebutuhan sumber daya manusia untuk bidang ini juga meningkat,” imbuhnya.

“Di seluruh dunia, hampir 10 juta orang bekerja dalam bidang energi terbarukan pada tahun 2016. Menurut ONS (statistik pro resmi), 48.000 orang bekerja di bidang energi terbarukan di Inggris pada tahun 2015 – bagian dari 234.000 orang yang bekerja di bidang ekonomi karbon,”timpal Prof. Reni Desmiarti.

Pendirian prodi ini merupakan rekomendasi dari Gubernur Sumatera Barat periode sebelumnya, Prof. Irwan Prayitno dan berkat kerja sama antara Universitas Bung Hatta, PT Supreme Energy Muaro Laboh, serta Institut Fur Angewandtes Stoffstrommanagement (IfaS) Birkenfeld-Germany dalam upaya mendukung pengembangan Energi Terbarukan di Provinsi Sumatera Barat.

Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan menjadi salah satu program studi yang dibutuhkan dan memiliki peranan penting dalam berbagai sektor industri yang memanfaatkan energi terbarukan.

Menyikapi hal tersebut, Gubernur Sumbar saat ini, H. Mahyeldi Ansharullah mengatakan bahwa ini adalah kesempatan baik yang harus segera diimplementasikan dengan baik. Kami berharap Universitas Bung Hatta bersama PT Supreme Energy menjadi stakeholder yang terkemuka dalam menyelenggarakan pendidikan di Sumatra Barat.

Peluang lulusan Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan ini sangat besar dikarenakan Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang berlimpah dan memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan.

Mahasiswa yang memilih Program Sarjana Terapan (S.Tr) ini memiliki beban kredit minimal 144 SKS dan ditempuh dalam waktu 4 (empat) tahun. Rancangan kurikulum terdiri atas 85 SKS teori dan 59 sks praktikum. Pelaksanaan praktikum dilakukan di laboratorium maupun berupa magang di indusri/lapangan.

Proses pembelajaran bahasa asing dilakukan secara intensif. Bila program S-1 (Sarjana) merupakan program pendidikan akademik dan berorientasi pada pengembangan keilmuan dan penelitian, program Sarjana Terapan merupakan program vokasi (terapan) yang bersifat lebih ke arah aplikasi/penerapan prinsip-prinsip keilmuan untuk keperluan praktis dan dengan tujuan agar lulusan yang dihasilkan siap kerja.

Selain kemampuan akademis dan teknis, mahasiswa Sarjana Terapan Teknologi Energi Terbarukan akan dibekali juga dengan kemampuan komunikasi efektif baik secara lisan maupun tulisan dan kemampuan berorganisasi serta soft skill lainnya, seperti kemampuan berbahasa asing, teknologi informasi, memiliki etika & tanggung jawab terhadap profesi, kepribadian berintegritas tinggi, technopreneur, kemampuan memimpin, dan bekerja sama dalam tim.

Mahasiswa Sarjana Terapan Teknologi Energi Terbarukan ini akan dibekali dengan kemampuan bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Jepang dengan memberikan kuliah intensif selama 2 bulan yang dikelola secara professional. (benk)

  • Bagikan