PADANG- Fenomena clickbait di media siber menjadi salah satu hal yang tidak saja membuat pembaca tidak mendapatkan isi berita sesuai dari judul sensasional yang dibuat, tapi juga semakin menurunkan kualitas jurnalisme itu sendiri.
Dalam beberapa contoh banyak kita lihat penggunaan judul bombastis, sensasional dan memancing keingintahuan pembaca ini menjadi cara agar link konten berita itu diklik oleh pembaca, yang pada akhirnya hanya menciptakan kekesalan karena apa yang disebutkan di judul berita ternyata tak demikian di isi berita, atau malah memang tak sedikitpun mengulas tema sesuai judul.
Erna (29), pegawai swasta, mengaku sering kesal ketika menjumpai berita-berita model clickbait ini. Ketika sedang browsing atau scroll media sosial dia seringkali terpancing untuk mengklik tautan berita dengan judul yang sensasional. Yang ketika diklik, isi berita tidak sesuai dengan judul tersebut.
“Kalau saya menilai clickbait ini semacam penipuan. Sama seperti membeli barang palsu. Buang-buang kuota internet,” kata Erna.
Hal yang sama juga diungkapkan Erto (35). Saking seringnya dia menemukan berita model clickbait, Erto malah jadi skeptis dengan pemberitaan yang ada di dunia maya.
“Kalau judulnya terlihat bombastis dan semacamnya, saya sudah tidak mau klik. Kadang memang ada rasa penasaran juga, tapi lama-kelamaan saya harus menahan diri untuk tidak mengklik link berita yang saya kira hanya clickbait,” katanya.
Melihat fenomena ini, pengamat komunikasi Universitas Andalas (Unand), Dr. Elva Rona Ningroem, M.Si menilai, pemakaian judul dan narasi sensasional untuk menaikkan atensi publik, meskipun isi beritanya sendiri tidak memberikan bukti konkret, pada akhirnya publik hanya disuguhi rumor yang berpotensi menyesatkan, memperkeruh situasi, dan merugikan pihak yang disebut.
Elva menyebutkan satu contoh berita yang terjadi baru-baru ini, soal Ahmad Syahroni dan Nafa Urbach. Pemberitaan soal mereka, kata Elva, lebih banyak mengandung unsur clickbait dibandingkan fakta yang sudah terverifikasi.
“Judul-judul berita yang muncul menggunakan istilah provokatif seperti ‘flashdisk putih’, ‘video 7 menit’, atau ‘hubungan khusus’ untuk menarik rasa penasaran publik. Padahal, hingga kini tidak ada bukti nyata maupun konfirmasi resmi yang memperlihatkan bahwa video tersebut benar-benar ada atau berisi seperti yang digambarkan,” ulasnya.
“Isu Ahmad Sahroni ini memang menarik perhatian publik, dan karena belum ada data atau klarifikasi yang benar-benar jelas, media kemudian menulisnya dengan berbagai sudut pandang. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika muncul judul-judul yang terkesan sensasional untuk menarik perhatian pembaca. Namun, perlu diingat bahwa sering kali isi beritanya lebih banyak mengutip rumor dan spekulasi daripada fakta yang sudah terverifikasi. Jadi, situasi ini membuat isu tersebut mudah dijadikan bahan pemberitaan yang ramai, meski kepastian informasinya masih terbatas, kata dosen FISIP Unand ini.
Menurut Elva, fenomena clickbait yang menjalar menjadi dumbing down memang jadi tantangan serius di era digital. Media seolah terdorong hanya mengejar klik, sehingga kualitas informasi berisiko menurun karena yang ditonjolkan lebih banyak sensasi daripada substansi.
“Memang judul yang menarik itu penting, tapi seharusnya tetap bisa dibuat tanpa menyesatkan. Saya melihat pengendaliannya bukan hanya lewat regulasi, tapi juga komitmen redaksi menjaga kredibilitas serta literasi media masyarakat agar lebih kritis dan tidak mudah terjebak judul provokatif,” pungkasnya.
Sementara itu, Anggota Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas, Fransiskus Surdiasis mengatakan, ada keprihatinan pada kualitas jurnalisme saat ini, yang dengan berkembangnya jurnalisme digital membawa
serta fenomena yang menonjol, yaitu clickbait.
Menurut Frans, clickbait itu hanya praktek yang ada dalam jurnalisme, dan sebaiknya hal itu tidak disebut sebagai genre jurnalisme.
“Clickbait memiliki kecenderungan pada sensasional. Menjanjikan sesuatu tapi tidak dipenuhi,” katanya.
Dengan fenomena ini, Frans menilai perlu menyegarkan kembali jurnalisme
dengan memperkuat perannya dalam
menyediakan informasi yang bermakna bagi khalayaknya.
“Salah satunya dengan menguatkan kembali jurnalisme data di kalangan wartawan,” kata pria yang juga menjabat sebagai tim ahli di Indeks Keterbukaan Informasi Publik, Komisi Informasi ini.
Menurutnya, dengan penggunaan data, fokus pekerjaan wartawan bergeser dari ‘orang pertama yang melaporkan suatu kejadian’ menjadi orang yang menyampaikan ‘apa makna dari sebuah kejadian’ bagi pembaca atau pemirsanya.
“Dari information seeking ke information management. Kapasitas yang
diperlukan dari seorang wartawan bukan lagi terutama mencari informasi,
melainkan mengelola informasi,” kata Frans.
Terkait clickbait ini, wartawan senior, Merdi Sofansyah dalam kelas daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025, Senin (15/9), merincikan ada tiga poin yang membedakan antara jurnalisme berkualitas dan clickbait.
Merdi menyebutkan, jurnalisme berkualitas itu berbasis bukti, yang dalam isi pemberitaannya wajib memiliki data 5W+1H. Kemudian, jurnalisme berkualitas juga menggunakan judul yang sesuai isi dan tidak berlebihan. Selain itu, ada konteks baik berupa angka, waktu ataupun perbandingan.
Sedangkan untuk clickbait, konten berita yang ditulis hanya mengejar klik, bisa dengan menggunakan judul yang bombastis dan ambigu. Kemudian, kebanyakan berita model clickbait ini juga malah menahan info penting, misalnya dengan pemakaian link baru dalam berita yang ditulis ‘cek disini’ dan sejenisnya.
“Berita gaya clikbait ini juga memiliki isi tipis atau menyimpang dari janji judul,” kata Merdi yang kini aktif di tvOne AI ini.
Menurutnya, ada tiga poin yang membuat media siber mudah tergoda untuk menggunakan gaya clickbait ini, pertama adalah target Pageview dan CPM sempit dan FOMO tren.
“Topik yang meledak pasti diikuti, tapi tidak mengulas,” katanya.
Kemudian, keterbatasan sumber daya, tim kecil, waktu sempit dan SOP belum solid juga menyebabkan media tergoda untuk menggunakan model clickbait dalam pemberitaan.
“Yang ketiga adalah tekanan komersial. Tekanan komersial (native
ads/kerja sama) kadang kabur
labelnya,” ujar Merdi.
Penggunaan gaya clikbait di satu media tentu juga memiliki dampak bagi media tersebut. Menurut Mardi ada beberapa dampak yang akan terjadi pada perusahaan media yang selalu menggunakan gaya clickbait ini dalam pemberitaan, selain distribusi turun, SEO jeblok, retensi dan loyalitas turun sehingga membuat orang enggan balik, turunnya kepercayaan yang membuat monetisasi seret dan meningkatkannya risiko sengketa. (wy)












