DKP3 Sawahlunto Dapat Bantuan ALSINTAN dari Kementerian Pertanian

Heni Purwansingsih

SAWAHLUNTO – Kendati anggaran terbatas, semangat untuk membangun sektor pertanian tidak boleh kendor. Pemerintah daerah harus terus aktif mencari dukungan dari Pemerintah Provinsi hingga Kementerian di Jakarta melalui Wali Kota Sawahlunto.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sawahlunto, Heni Purwaningsih, saat berbincang dengan wartawan TOPSatu.com, Selasa (12/5).

Menurut Heni, berkat kegigihan menyusun proposal ke Kementerian Pertanian, tahun ini DKP3 Sawahlunto memperoleh bantuan alat dan mesin pertanian (ALSINTAN) sebanyak empat unit berupa traktor bajak sawah dengan nilai sekitar Rp450 juta per unit.

Selain itu, DKP3 juga mendapatkan proyek pembangunan saluran irigasi senilai Rp500 juta dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Bantuan lain juga datang berupa bibit kopi dari pokok pikiran (pokir) DPRD Kota Sawahlunto, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta PT Bukit Asam Tbk.

Baca Juga  Bawaslu Sawahlunto Audiensi dengan Pemko Bahas Kerja Sama

“Kedepannya tanaman kopi menjadi salah satu komoditas yang menjanjikan bagi petani di daerah ini,” ujar Heni.

Saat ini, luas tanaman kopi di Sawahlunto baru mencapai sekitar 102 hektare. Karena itu, pihaknya terus mendorong masyarakat desa untuk memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam kopi.

“Kita dorong masyarakat agar memanfaatkan lahan yang tersedia untuk tanaman kopi,” ajaknya.

Terkait kesehatan hewan kurban menjelang Idul Adha, DKP3 telah membentuk tim khusus yang diketuai drh. Feri dengan anggota sebanyak 30 orang. Tim tersebut nantinya akan disebar ke masjid dan musala yang melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Baca Juga  Hasil Labor, PDP yang Meninggal di Sawahlunto Negatif Korona

“Kami berharap panitia kurban segera menghubungi petugas DKP3 setidaknya satu minggu sebelum penyembelihan dilakukan,” pinta Heni.

Heni juga menyoroti banyaknya lahan sawah yang rusak akibat aktivitas tambang. Menurutnya, pemulihan lahan menjadi sawah produktif kembali membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan perbaikan lapisan tanah pertanian bisa memakan waktu hingga dua tahun.

“Lahan tersebut mungkin bisa dimanfaatkan untuk menanam jagung atau tanaman bermanfaat lainnya,” katanya.

Ia mengajak masyarakat, khususnya para tokoh masyarakat, untuk menjaga keberadaan lahan sawah yang ada agar tidak dialihfungsikan maupun dirusak.

“Masih ada anak cucu kita yang membutuhkan lahan pertanian untuk kehidupan di masa depan,” pungkas Heni. (sbd)