Agam  

Diterjang Banjir Bandang, Sebelum Meninggal Adek Hendra Sempat Sampaikan Pesan Waspada di  WA

Banjir bandang

Agam – Adek Hendra Guci, 40 tahun, merupakan salah satu korban dari banjir bandang lahar dingin yang menerjang Simpang Bukik, Nagari Bukik Batabuah, pada Sabtu (11/5) malam.

Adek, yang merupakan pengamanan pemuda Simpang Bukik, sebelum kejadian ikut rapat dengan pemuda dan masyarakat setempat di mushala atau surau kasiak.

Namun, saat rapat berlangsung, peserta rapat mendengar langsung suara gemuruh air yang disertai dentuman bebatuan dari batang air yang berlokasi di samping surau kasiak tersebut.

Melihat kondisi itu, peserta rapat langsung membubarkan diri, termasuk korban yang langsung bergegas naik ke mobil Avanza miliknya yang diparkir di halaman surau tersebut.

Sebelum meninggalkan lokasi, korban sempat memberitahukan kepada warga dan pemuda yang tergabung dalam grup WhatsApp tentang kondisi air yang sudah membesar dan disertai dentuman serta meluap di jembatan Simpang Bukik.

Ia mengimbau melalui panggilan WhatsApp itu agar masyarakat waspada dan mengharapkan kepada pemuda untuk merapat ke lokasi untuk membantu evakuasi warga.

Tak lama berselang, korban mulai melaporkan dirinya sudah mulai terseret banjir bandang, dan meminta tolong beberapa kali. Sebelum panggilan telepon itu berakhir, korban sempat mengucapkan kalimat zikir dan syahadat beberapa kali.

Nampaknya, panggilan melalui WhatsApp itu menjadi panggilan terakhir bagi korban, karena beberapa saat setelah banjir bandang mulai surut, korban ditemukan sekitar 400 meter dari lokasi awal dengan keadaan meninggal di dalam mobilnya.

Sedangkan pesan yang disampaikan korban di WhatsApp itu juga tersebar luas di media sosial, bahkan tidak sedikit netizen yang mengaku meneteskan air mata mendengar pesan korban di WhatsApp tersebut.

Wali Jorong Kubang Duo, Nagari Bukik Batabuah, Ry Dt Tumamat yang dikonfirmasi Singgalang mengungkapkan bahwa korban selama ini sangat aktif di nagari. Meskipun ia berprofesi sebagai pedagang ayam keliling, namun setiap ada kegiatan nagari, ia selalu aktif.

Korban meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. (gindo)