DI RUMAH TIANG PANJANG RAJA PULAU PUNJUNG; Balimau, Tradisi Warisan Para Leluhur

oleh -354 views
Suasana tradisi balimau di Rumah Tiang Panjang Raja Pulau Punjung. (roni aprianto)

PULAU PUNJUNG – Adat istiadat dan kebudayaan Minangkabau terasa begitu kental di Rumah Tiang Panjang Raja Pulau Punjung, Kenagarian IV Pulau Punjung, Kecamatan Pulau Punjung. Tiga Raja, 12 datuak, dan ratusan masyarakat dari berbagai suku yang ada di wilayah Dharmasraya menyatu di rumah raja setempat dalam rangka balimau menyambut bulan suci ramadhan 1440 hijriah.

Rajo yang dimaksud adalah Rajo Koto Besar, Padang Laweh dan Rajo Siguntur. Kemudian Datuak 12, yakni Dt. Sati, Dt. Mangunyang, Rajo Pangulu, Dt. Kabilangan, Pangulu Bosau, Dt. Sindo, Dt. Labuan, Dt. Rajo Lelo, Dt. Rangkayo Muliah, Dt. Sungguno, Dt. Sati, Dt. Tambah Rajo, Dt. Payuang, dan Dt. Bandaro Sati.

Kegiatan tersebut dikemas apik dan menarik. Suguhan silek basonsong dan lantunan seni musik talempong serta suara beduk menjadikan suasana tradisi balimau terasa semakin kental.

Tradisi menyambut Ramadhan tersebut adalah sebuah budaya yang diwarisi oleh para pendahulu terdahulu dan hingga sekarang balimau tetap dipakai dan dilaksanakan oleh masyarakat Minang Dharmasraya.

Menurut masyarakat setempat, selain sebuah tradisi yang diwarisi dari para pendahulunya, balimau juga diyakini sebagai bentuk mensucikan diri dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

“Tradisi balimau hingga sekarang masih tetap dilakukan masyarakat Minang, khususnya masyarakat di Dharmasraya,” ungkap salah seorang Bundo Kanduang, Rasmawati di sela sela kegiatan itu.

Tradisi balimau juga dijadikan sebagai bentuk mempererat silaturahmi. Setelah melakukan balimau, para pemuka masyarakat dan ninik mamak yang ada beserta masyarakat, saling bersalam-salaman dan saling bermaaf-maafan.

Rajo Pulau Punjung, Abdul Haris Tuanku Sati mengucapkan terima kasih atas kehadiran tiga raja dan 12 datuak dalam kegiatan itu. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Walinagari IV Koto Pulau Punjung, David Iskan dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga yang telah ikut mendukung acara balimau tersebut.

“Semoga kegiatan ini menjadi ajang mempererat silaturahmi antar warga, masyarakat dan pemerintah daerah,” katanya.

Sementara Bupati Sutan Riska Tuanku Kerjaan yang juga Rajo Koto Besar itu mengatakan, patut kiranya masyarakat bersyukur atas nikmat kesehatan yang diberikan Allah, sehingga masih dipertemukan dengan Ramadhan 1440 hijriah tahun 2019 ini.

“Tradisi balimau bertujuan untuk mensucikan diri dalam rangka menyambut Ramadhan. Tidak hanya itu, tradisi balimau juga sebuah bentuk menjalin silahturahmi antar masyarakat baik itu ninik mamak, tokoh masyarakat dan juga dari pemerintah daerah sendiri,” ujarnya.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada ninik mamak dan masyarakat yang telah konsisten dalam melestarikan budaya balimau di dalam menyambut bulan suci Ramadhan serta mensukseskan Pemilu 17 April lalu.

“Pemilu sudah selesai, jangan ada lagi perbedaan. Mari kita sambut bulan Ramadhan dengan hati yang suci,” katanya.

Pada kesempatan itu bupati juga memaparkan sejumlah capaian program yang telah dilaksanakan. “Semoga apa yang kita harapkan untuk menjadikan Dharmasraya ” Mandiri dan Berbudaya” bisa terwujud,” pungkasnya. (ron)

 

Loading...