Opini  

Cari Ibumu, Minta Doanya agar Corona Menjauh

Nasi kapau yang terkenal itu, adalah masakan ibu. Di kadai nasi kapau, Bukittinggi, tetap pakai masker dan jaga jarak (kj)

Khairul Jasmi

TAKKALA lebaran tiba, setiap anak bersimpuh dengan takzim di depan ibunya. Kini ketika wabah bersimaharajelela, Anda lupa ibunda? Cari beliau, minta padanya agar corona menjauh dari negeri ini. Agar Anda semua, suami-istri, anak beranak, adik-beradik, selamat melintasi badai abad baru ini.

Atau, pijak gas mobilmu,pergilah ke desa, bezuk ibumu,sedang apa beliau sekarang. Bisa jadi ia sedang berdoa untuk anak-anaknya. Ibu punya bahasa sendiri untuk anaknya agar selamat dari wabah. Ibu mendoakan anaknya, adalah jalan tol pada Tuhan.

Batin anak terpaut di dapur ibunya. Semua anak pasti menyukai masakan ibu. Sejak pandai makan nasi, hingga berpisah tempat tinggal — biasanya kuliah atau beristri/suami — anak hampir tiap hari menyantap masakan ibu. Ketika Covid-19, kau mau menjerumuskan ibumu ke ruang isolasi? Dingin. Sendiri, tak pada siapa kata akan disampaikan.

Tiap orang dewasa adalah anak. Karena itu, ia merindukan masakan ibu. Ada suami, yang meminta secara khusus pada istrinya, agar ia dibuatkan masakan seperti masakan ibunya. Pada beberapa kasus, ada anak yang sampai beranak pula, tak bisa lepas dari masakan ibunya. Lalu ketika corona, menyebar lidah mautnya, engkau tak mau mendengar nasihat ibumu?

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anaknya. Barangkali, ini menjadi salah sebab kenapa Minang memakai garis keturunan ibu. Kau mau melukai hati matriakat, hanya karena kau membandel sendirian pada suasana kelam ini? Corona kau abaikan?

Orang yang sedari kecil ditinggal mati ibu ibunya, akan diberi Tuhan kebahagiaan lain. Mungkin lewat ayah atau nenek atau saudara perempuannya dan saudara laki-lakinya. Lalu apakah kau tak mau berbakti pada ibumu yang telah tiada. Jika beliau hidup sekarang, ia akan mengemasi anak-anakmu, cucunya. Habis harinya untuk cucu, dia kamban cucunya, agar terjauh dari wabah. Beliau marahi anaknya,kamu. “Cucu saya jangan dibiarkan saja tak pakai masker, main-main sama temannya.”

Ibu adalah payung bagi anak-anaknya. Ibu adalah juga tiang kokoh tempat anak berpagut. Ibu adalah ayunan sang anak ketika lelap. Ibu adalah peradaban. Peraban itulah yang mesti dijaga dengan menjaga diri sendiri: Menjaga jarak kalau sama orang lain, adab bersin, adab batuk. Pakai masker. Dan, hindari keramaian, sebab di sana ada-ada saja yang akan terjadi.

Seorang teman yang lama di rantau bercerita kepada saya tentang kerinduannya akan masakan ibu. Ceritanya bercampur baur dengan kerinduan pada kampung halaman. Tapi, pada saat bersamaan ia menyampaikan keluh kesahnya tentang telah terjadinya berbagai perubahan di kampung halaman. Perubahan itu saja, orang rantau risau, apalagi kalau sakit. Kau dengar lagu Minang yang menyayat kantong air mata.Jangan sampai ada lagu musibah corona kampuang awak. Membuat lagu sekejap saja, menjaga kesehatan, itu yang lama dan berat.

Ia tak menyangka sama-sekali, di Padang remaja berpacaran sembari berpegangan tangan di jalan raya. Ia tak menyangka banyak hal. Kalau yang ini, sudahlah ya, jangan diperbuat juga, betapa malunya, si A masuk rumah sakit,positif covid karena pacaran di taplau. Tepi laut itu, adalah kisah peradaban, bukan kisah kematian karena wabah.

Kebudayaan dan tradisi-tradisi bergerak seperti bola besar, menggelindingi di lantai kehidupan. Ada saatnya ia tergilas dan ada waktunya bertahan. Setiap detik di dunia terjadi perubahan. Pada detik yang sama ada satu kata tak diucapkan lagi oleh penuturnya dan kemudian pada detik berikut, kata itu, mati, lenyap dan punah. Kata-kata saja yang tak berjawa bisa mati, apalagi anak-anak bundo. Ketika kau pergi ke rantau dekat atau jauh, dilepas ibumu di desa, seperti biasa saja kan? Tidak, kawan, ibunda bergegas ke biliknya, ia menangis di sana. Ibu adalah samudera yang dalam sedalam matanya. Air matanya ia surukkan agar tak tampak oleh anak-anaknya.Sekarang jangan Anda semua membuat ibumu menangis hanya karena Anda anggap enteng corona.

Cinta pada pasangan
Pun dengan cinta. Tiap orang mungkin berbeda memaknai dan menafsirkan cinta. Menurut sebuah penelitian, cinta pertama adalah yang paling agung di antara cinta sesama manusia. Karena itu, pesan si peneliti, jangan biarkan pasangan Anda pergi reuni SMA sendirian, sebab bisa jadi di sana cinta pertamanya sedang menunggu. Betapa cintanya pasanganmu, jika kau pergi dikepak sayap maut corona, maka pasanganmu akan bengkak matanya menangis. Cinta kalian jagalah, jangan serampangan, sebab di luar rumah lidah maut mengintai.