PARIAMAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur Padang menggelar Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN) bagi 35 nelayan Kota Pariaman di Aula Balai Kota Pariaman, Rabu (14/10).
Kegiatan bertema “Nelayan Hebat, Selamat dan Sejahtera” tersebut dibuka secara resmi oleh Wali Kota Pariaman Yota Balad. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman nelayan dalam membaca informasi cuaca dan kondisi laut guna mendukung keselamatan saat melaut serta meningkatkan hasil tangkapan.
Yota Balad mengatakan, Kota Pariaman memiliki potensi kelautan dan perikanan yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Namun, aktivitas penangkapan ikan sangat dipengaruhi kondisi cuaca, tinggi gelombang, kecepatan dan arah angin, arus laut, serta faktor alam lainnya.
Perubahan kondisi tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi keselamatan pelayaran, keberhasilan penangkapan ikan, hingga pendapatan nelayan.
“Oleh karena itu, pengetahuan tentang cuaca dan kondisi laut bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan kebutuhan penting bagi setiap nelayan,” ujarnya.
Ia menilai program SLCN sejalan dengan upaya memperkuat pemanfaatan teknologi dan mitigasi maritim di Kota Pariaman.
Yota juga berharap BMKG dapat mengaktifkan perangkat HR Radar yang berada di Taman Anas Malik, Kota Pariaman. Menurutnya, perangkat tersebut diharapkan dapat mendukung informasi cuaca bagi nelayan sekaligus membantu mendeteksi keberadaan kumpulan ikan di laut.
“Kalau ini aktif, kami yakin nelayan bisa sejahtera,” ungkapnya.
Yota berpesan agar seluruh peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan serius sehingga tidak hanya mengetahui prakiraan cuaca, tetapi juga mampu membaca, memahami, dan memanfaatkan informasi yang tersedia sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum melaut.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur Padang, Sahat Mauli Pasaribu, menjelaskan bahwa pelaksanaan SLCN merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BMKG untuk mengurangi risiko kecelakaan saat bekerja di laut.
Melalui kegiatan tersebut, nelayan dibekali pengetahuan mengenai cara membaca data cuaca, memahami pergerakan arus laut, serta memanfaatkan peta sebaran ikan.
Menurut Sahat, edukasi tersebut penting untuk menekan risiko kecelakaan laut akibat cuaca ekstrem sekaligus membantu nelayan menentukan waktu dan lokasi penangkapan ikan secara lebih tepat.
Dengan peningkatan literasi cuaca dan maritim, para nelayan diharapkan dapat melaut dengan lebih aman, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kesejahteraan keluarga. (agus)












