LUBUK SIKAPING – Hujan begitu lebat ketika mobil yang saya kemudi melintas, membela hutan Cagar Alam, Rimbo Malampah, Kabupaten Pasaman pada Minggu (24/10) kemarin.
Hutan yang dulu terkenal angker itu terasa kembali menakutkan, ketika saya melihat air mengalir deras dari tebing-tebing tinggi di sisi kiri jalan. Tingginya debit air hingga tampak tidak tertampung oleh drainase.
Pada beberapa titik, air itupun terlihat meluap dan menggenangi badan jalan, sebelum kemudian meluncur deras di jurang-jurang dalam yang terdapat di sisi kanan badan jalan.
Satu hal yang saya takutkan adalah terjadinya longsor. Disamping terbannya badan jalan dan, atau bertumbangannya pohon-pohon besar. Bisa-bisa kami tertimbun, tertimpa pohon dan, atau terjebak disitu.
Tapi yang pasti, siang itu, suasana di ruas jalan yang sepi tersebut benar-benar terasa mencekam. Isteri saya yang baru terbangun dari tidurnya dibangku belakang kemudi juga takut dan dia mengajak saya kembali saja ke Lubuk Basung, ibukotanya Kabupaten Agam.
“Tidak,” kata saya. “Kita sudah di tengah hutan. Kembali belum tentu yang terbaik karena kondisi jalan yang akan dilewati juga penuh rintangan. Jadi, lebih baik diteruskan. Berdoa sajalah kepada Allah, semoga perjalanan kita dilancarkan dan diselamatkan sampai ke tujuan.”
Alhamdulillah, hujan pun mulai meredah setelah kami keluar dari kawasan hutan cagar alam. Mengingat kawan-kawan telah lama menunggu, saya kembali memilih jalan pintas agar bisa lebih cepat sampai di Lubuk Sikaping, kota dimana saya dulu pernah dibesarkan.
Dari Simpati (Simpang Alahan Mati) ke Lubuk Sikaping kami lewati labuah puncak Koto Tangah. Keluar di daerah Bateh, Muaro Mangguang, Nagari Tanjuang Baringin.
Hanya beberapa menit, saya bersama istri dan anak akhirnya sampai juga di Perumnas, Benteng. Rumah salah seorang teman, tempat kawan-kawan alumni menggelar pertemuan.
Bertemu kawan-kawan yang diantaranya ada yang sudah lebih 31 tahun tidak pernah berjumpa terasa benar-benar menyenangkan. Ada rasa bahagia disitu. Lebih senangnya, ada pula guru kami yang hadir, yaitu Pak Yohanes dan Mayzamri.










