Bentengi Civitas Akademika dari Dampak Negatif Medsos, UIN Imam Bonjol dan LSF RI Teken MoU

PADANG – Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) terus bergerak masif memperluas jaringan edukasi publik demi meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah tontonan sesuai klasifikasi usia.

Melalui program strategis LSF Goes to Campus, lembaga ini menggelar sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di Gedung J Aula Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Kamis (25/6/2026).

Agenda berskala nasional yang berlangsung maraton sejak pukul 09.30 WIB hingga 12.30 WIB ini sukses memikat perhatian. Sedikitnya 500 peserta dari kalangan dosen dan mahasiswa memadati ruangan, siap memperkuat literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Darurat Konten Digital: Melindungi Tanpa Membatasi
Ketua LSF RI, Dr. Naswardi, dalam sambutan pembukanya menegaskan bahwa penyensoran merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Regulasi ini mewajibkan setiap karya film yang akan diedarkan mengantongi Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

Di era gempuran internet dan platform digital saat ini, batasan ruang dan waktu telah runtuh. Menonton film tidak lagi terbatas pada layar bioskop konvensional atau televisi, yang berarti risiko anak-anak mengonsumsi konten dewasa—mulai dari pornografi, kekerasan, perjudian, hingga penodaan agama—menjadi kian besar.

Baca Juga  Gubernur Mahyeldi Apresiasi Gelaran Lokakarya Pengetahuan Lokal untuk Mengurangi Risiko Bencana

“LSF berkomitmen melindungi masyarakat dari dampak buruk film dan iklan film. Kami konsisten melakukan sosialisasi penggolongan usia agar dapat dijadikan panduan bagi penonton untuk memilih tayangan yang aman dan berkualitas,” tegas Dr. Naswardi.

Sinergi Akademisi dan Pemerintah Daerah
Langkah LSF RI ini mendapat sambutan hangat dari dunia pendidikan dan birokrasi:

Prof. Martin Kustati (Rektor UIN Imam Bonjol Padang): Mengapresiasi penuh inisiatif ini karena bernilai sangat strategis dalam membentengi civitas akademika dari paparan dampak buruk konten media digital yang bersirkulasi tanpa sekat.

Rudy Rinaldy (Kadis Kominfotik Sumbar): Mewakili Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, ia menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah. Panduan menonton yang sehat dinilai esensial bagi warga Kota Padang guna menghadapi terpaan arus media yang kian bebas.

Dialog Dua Arah untuk Industri Perfilman yang Kuat
Dari sisi teknis, Ketua Sub Komisi Sosialisasi LSF RI, Titin Setiawati, memaparkan bahwa penggolongan usia wajib dipahami sebagai alat pelindung, bukan pembatas kreativitas. Sementara itu, anggota Sub Komisi Dialog LSF RI, Widayat S. Noeswa, menambahkan bahwa LSF tidak bergerak kaku.

Baca Juga  Hilang Kamis, Warga Garagahan Ditemukan Meninggal

“LSF selalu mengedepankan prinsip dialog kepada semua pemangku kepentingan dalam industri perfilman supaya menjadi industri yang kuat dan mampu bersaing dengan film-film asing,” tutur Widayat.

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, acara ini juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) resmi antara LSF RI dengan UIN Imam Bonjol Padang untuk melahirkan kolaborasi berkelanjutan di ekosistem pendidikan tinggi.

Kejutan dari Layar Lebar: Kehadiran Film “Jangan Buang Ibu”
Menariknya, pelaksanaan LSF Goes to Campus kali ini bertepatan langsung dengan hari peluncuran resmi film “Jangan Buang Ibu” di bioskop tanah air.

Untuk memeriahkan acara, penulis film tersebut, Saskia Chadwick, hadir langsung di atas panggung. Saskia membagikan pengalaman seru selama proses syuting sekaligus membagikan kiat awal merintis karier di industri sinema nasional, yang sukses memantik inspirasi dan riuh antusiasme dari ratusan mahasiswa yang hadir.