Belajar Daring di Siberut tak Maksimal, Begini Curahan Hati Kepala Sekolah

  • Whatsapp
Wagub Sumbar, Nasrul Abit saat mendengarkan curhat unsur pendidik di Siberut yang tak mampu melaksanakan PBM via daring. Ist

SIBERUT-Hampir tiga bulan proses belajar mengajar di Sumbar dilakukan lewat online. Bagi daerah perkotaan sistim ini mungkin bisa berjalan dengan maksimal. Tidak begitu di daerah pelosok apalagi kepulauan. Jaringan internet yang sulit, memupus keinginan pelajar di daerah pelosok tersebut. Seperti halnya di Siberut Kepulauan Mentawai. Di sana proses belajar mengajar belajar via daring tidak berjalan sesuai harapan.

Itu diungkapkan Kepala SMAN 1 Siberut selatan Kristin Filiana Br. Maringga, S.Pd, kepada Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit yang melakukan kunjungan kerja ke Siberut selama tiga hari belakang. Tujuannya mempersiapkan segala sesuatu pelaksanaan perubahan tatanan kehidupan baru produktifitas aman covid (new normal) yang bakal diterapkan pemerintah pusat disegala sektor, termasuk sektor pendidikan.

“Kami sangat khawatir, kalau terlalu lama libur bisa-bisa anak-anak didik akan bodoh, ditambah kendalanya siswa di sini (Siberut-red) tidak bisa melakukan pendidikan melalui daring karena daerah sini sangat susah. Murid-murid kami juga tidak semua punya telepon pintar,” jelas Kristin.

Kristin bercerita, sekolah yang dia pimpin punya sarana komputer yang terbilang cukup. Sayangnya tidak dilengkapi jaringan internet.

“Kami sangat berharap pemprov Sumbar bisa memperhatikan kebutuhan pendidikan di sini (Siberut-red). Kami juga berharap bantuan dana transportasi bagi guru. Di sini semua serba tergolong mahal,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diutarakan Kepala Sekolah SMKN 2 Siberut Selatan, Amati Telaumbanua. Dia meminta pemprov Sumbar memenuhi segala sarana prasana di sekolah tersebut. Mulai dari perlengkapan sekolah hingga akses jalan dengan tanjakan tinggi dan menyulitkan siswa mereka menuju sekolah.

“Jalan ke sekolah kami sangat kecil. Hanya bisa dilewati roda dua. Itu pun harus berhati-hati melewatinya. Jika tidak bisa berisiko,” katanya.

Keterbatasan fasilitas internet di Siberut, membuat belasan siswa mereka memilih untuk pulang ke kampung masing-masing. Sebab, jika pun mereka bertahan, tak juga bisa menjalankan proses berlajar via daring.

“Siswa kami rata-rata dari pulau-pulau kecil di sekitar Siberut. Jadi mereka memilih untuk pulang kampung dari pada harus bertahan namun tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar.

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, pun tak menapik, kondisi pendidikan di Siberut Selatan masih jauh dari harapan pemerintah provinsi. Dia pun memimpin rapat terbatas dengan para guru dan kepala sekolah untuk mencari solusi terbaik dari berbagai keluhan yang disampaikan pendidik di daerah kepulauan tersebut.

“Kita harus carikan solusi berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan di Siberut. Harapannya pelajar di daerah ini bisa mendapat hak yang sama dengan pelajar yang dekat dengan berbagai akses,” ujar Nasrul Abit.

Menurutnya, berdasarkan hasil laporan para guru dan kepala sekolah, proses belajar aring di sana hanya berjalan sekitar 10 persen dari total yang diharapkan. Itu karena sulitnya jaringan internet dan tidak semua guru serta siswa punya telepon pintar. Akibatnya guru tidak bisa menerima tugas siswa. Sebaliknya siswa tidak bisa mengirim tugas kepada gurunya. Jalan terbaik pun sedang disiapkan, agar guru dan siswa sama-sama bisa menjalan hak dan kewajiban masing-masing. 107

Pos terkait