PPDB Centang – Prenang

  • Whatsapp

PADANG – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP, SMA/SMK tahun Pelajaran 2020/2021 dinilai centang-perenang. Banyak orang tua siswa kecewa dengan sistem penerimaan berdasarkan usia dan zonasi.

“Inilah pertama kali dalam sejarah dunia, masuk sekolah diukur dengan kilometer, besok-besok kita harus bawa meteran,” kata seorang bapak yang sudah naik darahnya di Padang.

Bacaan Lainnya

“Besok kalau mau menikah, tampaknya harus
konsultasi dulu ke Kementerian Pendidikan, biar umur anak masuk sekolah pas dan kita minta pemerintah membuat sekolah di tiap kelurahan, biardekat,” kata sejumlah orang tua murid, jengkel, di Padang, Senin (6/7).

Betapa takkan jengkel, seorang anak, rumahnya berjarak kurang 1 km dari SMA 5 Padang, nilai oke, tapi usianya, kurang beberapa hari. Ia ditolak.

Kisah lain, tak ada sekolah yang dekat rumahnya, minimal jarak 2 Km, lalu kemana anaknya akan dimasukkan.

“Jadi beginilah bangsa kita, makin hebat, makin
kusut, sansai kami oleh pemerintah,” kata seorang ibu.

Nan lalok makanan nan jago, ada juga, walau rumahnya jauh dari sekolah, tapi tiba-tiba bisa dekat saja, karena ada surat dari kelurahan.

“Bukan kami yang salah, tapi sistem ini yang tidak benar,” kata orangtua murid lainnya
yang sedang berusaha “mendekatkan” anaknya ke sekolah impian.

Sistem baru PPDB, banyak yang salah sebut dengan PSBB, itu wajar karena tiap tahun sebutan diganti.

Bertukar programnya tukar pula sebutan itu, belum lagi sebelum ini ada PSPB, pelajaran sejarah.

Antah halah gunoe tu, baganti-ganti bagai, heran wak,” warga yang berkerumun di Diknas Sumbar, sedang berciloteh sesamanya.

PPBD itu, memang mengatur usia tertinggi didahulukan diterima. Selanjutnya jalur zona terdekat dari rumah. Sementara siswa yang
nilainya tinggi dan umurnya kecil di bawah 12
tahun hanya bisa gigit jari.

Menunggu setahun alias tidak bersekolah atau pilih swasta. Salah seorang orang tua siswa, Usi sungguh kecewa.

Begitu susah benar masuk sekolah. Padahal slogan pemerintah wajib belajar. Apalagi SMP dan SMA.

“Anak saya umurnya 11 tahun 10 bulan. Sementara nilai pun di atas 85. Masuk jalur pretasi ada namanya. Sayangnya hari kedua na-
manya tergencit alias hilang digeser anak usia 12 tahun ke atas, dengan nilai dibawah 85. Jalur lain afirmasi, saya tak punya kartu PKH ataupun kartu pintar lainnya.

Minggu (5/7) dini hari, ia mendaftar jalur zonasi. Sayangnya nama tak masuk pula,” ucap Usi yang sehari-hari berjualan lontong itu.

Kemana anak Usi harus mendaftar. Ia bingung. “Kalau bisa anak saya masuk sekolah negeri. Bia-
ya ringan,” harapnya.

Ia mengharapkan pemerintah merevisi atau membuka tahap dua pendaftaran bagi anak-anak yang ingin sekolah.

Sementara itu, orangtua calon siswa SMA/SMK, Dodit juga mempertanyakan aturan PPDB SMA/SMK.

Nasib siswa SMA/SMK di zaman new normal
diukur dengan kilometer. Jarak terdekat calon siswa dari sekolah satu kilometer.

“Kalau tak sekolah dengan jarak segitu dari rumahnya, kemana dia akan belajar,” tanya Dodit.

Nah, bagi pasangan yang baru menikah, disaran untuk program kehamilan. Kalau perlu berkonsultasi ke Dinas Pendidikan setempat, agar anaknya bersekolah.(tim topsatu.com)

Pos terkait