Banjir Besar Sekejap, Kerugian Rp31 Miliar

oleh
Seorang pengungsi korban banjir Lareh Sago Halaban, menangis saat ditemui Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi kemarin. Mereka menyebut, banjir di sana sudah terjadi sejak 1991 silam. Sebahagian besar diantara pengungsi, memilih meninggalkan tenda bencana dan kembali ke rumah. Muhammad Bayu Vesky
LIMAPULUH KOTA-Ratusan pengungsi bencana banjir Limapuluh Kota kembali ke rumah. Musibah itu, meski sebentar menimbulkan kerugian Rp31 miliar, sebuah bilangan yang tak sedikit.
Warga harus menata kembali kehidupan rumah tangganya. Pengeluaran dalam beberapa bulan ke depan akan besar. Ini karena banyak perkakas dan isi rumah yang mesti dibeli.
Seperti baju anak, buku sekolah, karpet dan barang elektronik. Catatan Kepolisian terkait surat menyurat kendaraan yang rusak, juga melonjak sejak bencana. Para korban mengurus surat kendaraan yang sudah basah, remuk bahkan hanyut.
Kerusakan jalan dan jembatan di banyak titik, menurut Kepala BPBD Limapuluh Kota Jhoni Amir dan Kadis PU Yunire Yunirman, menelan kerugian material cukup besar.
“Untuk kerusakan jalan, jembatan dan irigasi, itu (kerugian,_red) melebihi Rp26 miliar,” sebut Jhoni dan Yunire Yunirman, sepulang dari Rumah Dinas Bupati Irfendi Arbi, di Labuah Basilang Payakumbuh sore kemarin.
Selain itu, bencana banjir dan longsor di Limapuluh Kota juga menimbulkan kerugian besar di sektor pertanian dan lahan perkebunan warga. Termasuk, sektor perikanan.
“Untuk sektor perikanan, kerugian hampir Rp1,7 miliar. Kemudian, di sektor pertanian itu, juga sama. Kisaran Rp1,5 miliar,” sambung Jhoni Amir, yang mengaku, seluruh laporan kerugian itu sudah dia kirim ke Pusat, termasuk ke Provinsi.
Untuk kerugian fasilitas umum dan rumah penduduk yang diranahi BPBD, kerugian tercatat menembus angka Rp1,5 miliar. “Paling parah, kawasan terdampak bencana adalah Lareh Sago Halaban dan Harau,” tukuk Kepala BPBD.
Masalah Serius
Sementara itu, Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi menyebut, banjir dan longsor adalah bencana serius yang terjadi di daerah setempat setiap tahun.
Walau tidak sampai mengganggu aktifitas Pemerintahan, namun bencana ini perlu penanganan dari hulu. “Mitigasi banjir secara struktural dan non struktural, perlu diseriusi, secara komprehensif,” kata Bupati Irfendi Arbi, terpisah.
Bupati tidak menampik, ada potensi bencana susulan terjadi di Limapuluh Kota. Tapi dia meminta, masyarakat tidak panik. Alias tetap waspada.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) StasiuinMinangkabau, sampai akhir tahun ini, potensi hujan dengan intensitas tinggi, masih terjadi pada hampir seluruh  kabupaten/kota di Sumatera Barat.
“Analisis terakhir kami, potensi hujan masih terjadi. Terutama di daerah yang berada di sepanjang Pesisir Barat, daerah perbukitan, dan agian Timur Sumbar.Dengan potensi hujan yang meningkat ini,  potensi terjadinya cuaca ekstrim (banjir) juga masih tinggi. Karena kondisi tanah yang tidak mampu lagi menyerap hujan yang turun hampir setiap hari,” kata Kepala BMKG Minangkabau Irman Sonjaya dan Kasi Observasi BMKG Yudha Nugraha, terpisah.
Senin (5/11).
Dewan Pakar Pusat Studi Lingkungan Hidup, Universitas Andalas, Profesor Bujang Rusman mengatakan, banjir yang terjadi di Sumbar, bukan masalah lokal lagi. Tapi, sudah terkait dengan skala ekosistem, yakni anomali iklim di planet ini.
“Ini bukan lagi masalah lokal. Tapi sudah skala global. Terkait dengan perubahan iklim. Terkait dengan anomali iklim. Apalagi, Indonesia dilalui garis Khatulistiwa. Sekarang, kapan musim hujan dan kapan musim kering, tak bisa lagi diprediksi. Dalam musim hujan, ada kering (cuaca panas). Dalam musim kering, turun hujan,” kata Profesor Bujang Rusman.
Ironisnya, menurut Bujang Rusman, dalam masalah global yang kian mengkhawatirkan ini, pemerintah daerah di Sumbar, masih saja bertindak lokal. Bahkan, masih bertindak seperti pemadam kebakaran.
“Ketika banjir terjadi, semuanya fokus perhatian ke sana. Tapi setelah banjir surut, masalah global ini tak lagi diabaikan. Padahal, ruang lingkup yang dilakukan pemerintah daerah, harusnya juga global. Tidak bisa dalam skala lokal saja,” ujar Bujang.
Semen Padang Peduli
Rasa empati terhadap bencana di sumbar, juga mengalir dari PT Semen Padang. Komisaris Semen Padang, Khairul Jasmi menyebut, sejumlah daerah yang ditimpa bencana kemarin, turut dibantu oleh Semen Padang. Di Kota Padang, Komisaris PT. SP bersama gubernur ikut turun melihat dampak peristiwa ini ke lapangan.
Di Limapuluh Kota seharian kemarin, Komisaris Semen Padang yang juga Pimred Harian Singgalang Khairul Jasmi, juga meninjau sejumlah wilayah terdampak banjir. (208)
Loading...