Bangkitnya Skuad “Kabau Sirah” yang Dirindukan Pencinta Bola Ranah Minang

oleh -1.517 views
Semen Padang FC dilaga pekan ke 14 sangat beruntung, bagaimana tidak skuad 'bukit karang putih' itu hanya menang tipis 1-0 pada Liga 1 2019, Jumat (16/8). rahmat zikri

Ditulis oleh: Rahmat Zikri

Kemenangan Semen Padang FC atas PSIS Semarang digadang-gadang sejumlah pihak sebagai momen bangkitnya skuad ‘Kabau Sirah’ dari puasa kemenangan di ajang kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia. Liga 1 2019, benarkah itu?

Semen Padang FC dilaga pekan ke 14 sangat beruntung, bagaimana tidak skuad ‘Bukit Karang Putih’ itu hanya menang tipis 1-0 dan mendapat tambahan poin tiga, itupun tercipta pada menit 90′ berkat tendangan bebas tidak langsung Dedi Hartono dan Irsyad Maulana.

Bola yang disodorkan Dedi berhasil dieksekusi Irsyad dengan sepakan keras, sebelum masuk ke gawang Joko Ribowo bola yang ditendang Irsyad sempat mengenai punggung salah satu pemain PSIS. Pantulan bola itulah yang membuat Joko Ribowo terpedaya.

Gemuruh Stadion H. Agus Salim Padang Jumat (16/8) terasa cukup untuk mengobati kerinduan kemenangan perdana itu. Kemenangan yang bisa-bisa saja dipersembahkan sebagai kado Hari Kemerdekaan Republik Indinesua ke 74.

Dilihat dari kualitas pemain dan permainan, baik SPFC maupun PSIS memiliki kualitas yang hampir mirip.

Dari kaca mata penulis Semen Padang FC belum banyak berubah sejak ditinggal Syafrianto Rusli. Permainan, daya juang dan kekurangannya masih seperti itu saja.

Keberuntungan Semen Padang FC dilaga tersebut sejatinya telah dimulai kala sang pelatih kepala PSIS yaitu Jafri Sastra dipecat dari komando Laskar Mahesa Jenar jelang menghadapi SPFC.

Andai saja Jafri Sastra masih bersama PSIS tentu ceritanya akan berbeda. Bagaimana tidak, Jafri sangat banyak tau tentang kelemahan SPFC karena ia adalah mantan pemain dan pelatih yang juga sahabat karib pelatih kepala SPFC saat ini yaitu Weliansyah.

Namun dengan dipecatnya Jafri tentu sebagai mantan yang pernah mencicipi kebersamaan dan kebahagian serta sebagai warga minang Jafri tentu tidak akan tinggal diam melihat mantan timnya (SPFC.red) terus porak-poranda didasar kelasemen sementara.

Usut punya usut dan diakui pula oleh Weliansyah usai laga bahwa ia dan Jafri jelang laga pekan ke 14 itu intens berkomunikasi. Jafri cukup banyak memberikan tips ditambah usai menang Jafri menjadi yang pertama memberi selamat.

Cukup dramatis, komunikasi yang dijalin Weli dan Jafri boleh-boleh saja terjadi namun apapun tips dan trik yang dibagi hal itu tentu tidak banyak memberikan kontribusi karena gol semata wayang SPFC tercipta dari tendangan bebas tidak langsung.

Dilihat dari segi peluang gol, PSIS memiliki lebih banyak hanya saja tumpulnya lini serang PSIS mengakibatkan bola selalu mentah. Harus diakui, dari segi permainan, lini serang PSIS tak setajam lawan-lawan yang SPFC sebelumnya. Kualitas PSIS beda tipis-lah dengan kondisi SPFC saat ini.

Keberuntungan SPFC lainnya datang dari sang mantan penjaga gawang ‘kabau sirah’ yang cidera. Ia adalah ‘sigondrong’ Jandia Eka Putra. Sekitar pada menit ke 20 ia mengerang kesakitan hingga akhirnya harus ditandu dan diganti Joko Ribowo.

Dengan digantinya Jandia, karteker PSIS Semarang Widyantoro terpaksa menjalankan rencana B karena pergantian penjaga gawang jelas merugikan tim. Rencana awal terpaksa berubah sehingga slot pergantian untuk menggempur-pun berkurang.

Hal itu diakui coach Wiwid yang dilaga tersebut terpaksa menjalankan rencana B dan menilai anak asuhnya kurang beruntung dan pulang tanpa poin. Kendati demikian ia mengaku cukup bangga dengan penampilan dan kerja keras anak asuhnya memproses gol hanya saja PSIS bermasalag di finishing akhir.

Kemenangan perdana SPFC ini belum berpengaruh banyak karena meski menang, pada posisi klasemen sementara Liga 1 2019 anak asuh Weliansyah masih tertahan di dasar klasemen sementara.

Kembali pada kemenangan, bahagia tentu boleh saja, tapi tentu jangan berlebihan juga seperti yang dilakukan aknum suporter di tribun selatan. Melihat gol Irsyad, lima flare menyala, alhasil asapnya membubung ke udara. Polisi berseragam lengkap-pun mencoba mendekat. Mereka berteriak, mewanti-wanti agar flare segera dimatikan.

Setelah laga usai, disaat para pemain lainnya dan pelatih berpelukan Irsyad terlihat langsung berlari menyalami teman-temannya dan langsung mengarah keruang ganti. Irsyad sempat melempar ban kapten yang ia pakai. Hingga seluruh pemain meninggalkan lapangan tak terlihat batang hidur Irsyad. Kemana dan entah bagaimana dan apa maksud dari hal itu masih menjadi tanda tanga besar.

Nilai plusnya tentu kemenangan akan mendongkrak mental pemain SPFC untuk laga selanjutnya kontra Nil Maizar dan anak asuhnya pada tanggal 20 Agustus mendatang. Benarkah menjadi momen bangkit atau kesenangan sesaat saja?

Mari nantikan bersama-sama!

Loading...