BUKITTINGGI – Suasana khidmat Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan ke-XII UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi pada Rabu (15/4) mendadak riuh penuh semangat. Kehadiran Wakil Gubernur DKI Jakarta, H. Rano Karno, sebagai tamu kehormatan berhasil menyuntikkan motivasi luar biasa bagi 821 wisudawan yang bersiap melangkah ke dunia kerja.
Aktor legendaris yang kini merambah dunia birokrasi tersebut hadir tidak hanya untuk memberikan selamat, tetapi juga menyampaikan ‘orasi budaya’ yang sarat akan makna dan bekal pengalaman hidup.
Membuka sambutannya, Rano Karno mengaku sangat emosional ketika mendengar lagu tema Si Doel Anak Sekolahan dikumandangkan di ruang sidang. Ia teringat akan perjuangan tokoh fiksi “Bapaknya Si Doel” (Sabeni) dan ibunya yang bersusah payah mengantar anak mereka meraih gelar sarjana, sebuah potret yang ia lihat nyata di wajah para orang tua wisudawan hari itu.
“Hari ini saudara-saudari tidak sekadar menamatkan studi. Gelar bukanlah mahkota, melainkan amanah dan tanggung jawab yang lebih besar untuk menjawab panggilan Indonesia,” ujar Rano dengan nada tegas namun bergetar.
Rano Karno menekankan ijazah dan gelar sarjana yang baru saja diraih bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah permulaan.
”Adik-adik mahasiswa yang saya cintai, ketahuilah, ijazah itu ibarat kunci. Dia membuka pintu kesempatan,” ujar pria yang akrab disapa Bang Rano tersebut dengan nada mantap.
Namun, ia mengingatkan agar para wisudawan tidak terlena dengan “kunci” tersebut. Tantangan sesungguhnya ada di balik pintu yang akan mereka buka.
Wagub DKI ini juga menyoroti pentingnya menjaga integritas budaya di tengah arus globalisasi. Ia berpesan agar generasi muda, khususnya lulusan UIN Bukittinggi yang kental dengan nilai-nilai keislaman dan keminangkabauan, tidak kehilangan jati diri.
”Era globalisasi ini tantangannya luar biasa. Budaya luar masuk begitu deras. Jangan sampai kita didikte oleh budaya asing,” katanya.
Rano Karno menekankan Bukittinggi bukan sekadar kota, melainkan “ruang batin” Indonesia. Ia mengajak para wisudawan untuk merefleksikan nilai-nilai integritas, kejujuran, dan kesederhanaan dari tokoh-tokoh besar asal Sumatra Barat yang telah mewakafkan hidupnya untuk Republik, seperti Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Buya Hamka, hingga Mohammad Natsir. Tokoh sastra seperti Marah Rusli, Abdul Muis, hingga Taufiq Ismail.
Ia mengingatkan perjuangan tidak selalu berarti pertempuran fisik, tetapi bisa hidup melalui kata-kata, puisi, dan keberanian menyuarakan kebenaran.
Ia juga mengutip pepatah Minang, “Karantau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun,” Rano mendorong para lulusan untuk berani keluar, menguji ilmu, dan kembali dengan membawa manfaat bagi tanah pusaka.
Wisuda angkatan XII ini yang diikuti sebanyak 821 lulusan dari berbagai disiplin ilmu.
Sebelum prosesi wisuda dilaksanakan, Rano Karno juga ikut meresmikan penyematan nama ayahnya, Soekarno M.Noer sebagai nama salah satu gedung di Kampus UIN Bukittinggi itu
Terkait dengan penyematan nama ayahnya itu, Rano Karno merasa terhormat atas apresiasi pihak kampus terhadap almarhum ayahnya. karena baginya, nama itu bukan sekedar indentitas, melainkan sebuah kenangan, pelajaran dan cinta yang tidak pernah selesai.
Sementara Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si., mengungkapkan bahwa pemilihan nama gedung dilakukan secara selektif berdasarkan keahlian dan ketokohan figur asal Minangkabau. Ia menekankan bahwa kampus Islam harus menyentuh aspek kesenian untuk membentuk karakter mahasiswa yang kreatif.
Dalam penjelasannya, Prof. Silfia mengaku sangat terinspirasi oleh rekam jejak perjuangan Soekarno M. Noor yang sangat gigih. Almarhum dikenal sebagai sosok yang tangguh, pernah berjuang membawa hasil bumi (telur dan lada) dari Bonjol ke Lubuk Sikaping dengan berjalan kaki demi menyambung hidup. Soekarno merupakan tokoh Minang yang sukses meraih reputasi besar di dunia seni peran nasional. Nama memiliki korelasi kuat dengan dunia pendidikan dan budaya, yang tercermin dalam keberhasilan anak-anaknya di dunia kreatif.
Kehadiran Rano Karno dalam peresmian ini mempertegas pesan yang ingin disampaikan kampus mengenai pentingnya menghargai akar sejarah. Prof. Silfia berharap UIN Bukittinggi bisa menjadi “Kampus Sejuta Tokoh”.(gdo)












