PADANG – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai atau telepon seluler di lingkungan sekolah yang diterapkan sejumlah pemerintah daerah mendapat perhatian dari Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Mastilizal Aye.
Ia menilai kebijakan tersebut masih menyisakan persoalan di lapangan karena belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan bahwa pembatasan penggunaan gawai di sekolah sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2025 tentang Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Dalam Jaringan. Namun, Mastilizal Aye melihat adanya ketidaksesuaian dalam penerapannya.
“Di satu sisi anak dibatasi menggunakan HP di sekolah, tapi di sisi lain saat ujian atau tes tertentu justru diminta menggunakan HP. Ini tentu kontradiktif. Aturan yang dibuat harus menyesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, kebijakan larangan penggunaan ponsel di sekolah bukan hal baru. Namun dalam praktiknya, aturan tersebut kerap tidak berjalan efektif karena kebutuhan komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua tetap mengandalkan perangkat digital.
“Dulu juga pernah ada larangan, tapi pada akhirnya tidak berjalan maksimal. Karena bagaimanapun, HP ini juga menjadi alat komunikasi penting antara guru dengan murid, dan antara sekolah dengan orang tua,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penggunaan ponsel di sekolah seharusnya tidak sepenuhnya dilarang, melainkan diatur secara bijak dan proporsional agar tetap mendukung proses pembelajaran.
“Boleh saja digunakan, tetapi harus ada batasan yang jelas. Karena sebaik apapun pengawasan di sekolah, HP itu tetap dibawa pulang dan digunakan di rumah, bahkan sampai ke kamar,” katanya.
Lebih lanjut, Mastilizal Aye menekankan pentingnya edukasi digital bagi anak-anak agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara positif.
Ia menyebut, pengawasan tidak cukup hanya di sekolah, tetapi juga harus diperkuat di lingkungan keluarga.
“Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak diberi pemahaman untuk menggunakan HP secara bijak. Gunakan untuk belajar, membaca, dan hal-hal yang bermanfaat,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengajak orang tua untuk lebih aktif membangun komunikasi dengan anak, termasuk membahas penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
“Peran orang tua sangat penting. Diskusi di rumah, bahkan di meja makan, itu bisa menjadi cara sederhana untuk membentuk karakter anak. Kalau tidak, anak bisa tumbuh tanpa arah dalam penggunaan teknologi,” tutupnya. (*)












