Aslan, Kisah Inspiratif Gharin Masjid Tamat Kuliah S2

  • Bagikan
Yuni Aslan bersama sejumlah murid MDTA Masjid Imaduddin. (ist)

PADANG – Pekerjaan sebagai gharin masjid kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, meski tugasnya mulia di mata Allah SWT.

Namun, Yuni Aslan mampu mengangkat marwah gharin. Ia mampu menamatkan kuliah di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang.

Pria kelahiran Kuraba Pasaman 25 Juni 1993 ini sehari-hari bekerja sebagai gharin di Masjid Imaduddin di Komplek Griya Lestari RT 05 RW 05 Lubuk Begalung, Padang. Ia juga mengajar di mengajar MDTA di masjid tersebut.

“Alhamdulillah, saya dapat menamatkan kuliah Program Magister Pendidikan Agam Islam di UIN Imam Bonjol tahun 2020 lalu, ujar Yuni Aslan kepada topsatu.com di Padang, Selasa (23/11).

Sudah sepuluh tahun, ia mengabdi di masjid tersebut. Di samping menjadi salah satu penjaga rumah Tuhan dan penanggung jawab segala ritual ibadah seperti adzan lima waktu, menjadi imam cadangan dan juga khatib cadangan, dia juga mengabdi untuk pendidikan anak bangsa di SDN 11 Ampang.

Gharin yang akrab disapa Aslan ini pun harus pandai-pandai membagi waktu dalam tiga pekerjaan yang dilakoninya. Seusai menjalankan tugasnya di Masjid Imaduddin, pagi-pagi sekali ia harus mempersiapkan diri untuk mengajar sebagai guru mata pelajaran Agama Islam di SDN 11 Ampang.

Sedangkan pada Senin malam hingga Jumat mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Masjid Imaduddin, dan aktif pula membina wirid remaja tiap hari Sabtu dan Minggu.

Menurutnya, meskipun ia mendapat gaji Rp300 ribu per bulan dari iuran siswa MDTA, namun dirinya tetap happy dan ikhlas menjalankan tugas mulianya.

“Rezeki sudah Allah yang atur, saya tinggal mensyukurinya,” ucapnya.

Aslan menceritakan pengalaman 10 tahun mengabdi sebagai gharin.

“Ada suka dan dukanya. Pada tiga tahun pertama menjadi gharin saya bolak-balik dari masjid saya bekerja ke kampus UIN Imam Bonjol Jalan Prof Mahmud Yunus Lubuk Lintah, Anduring, Kecamatan Kuranji, pakai sepeda. Ada juga orang yang mencemooh saya bersepeda. Saya tidak marah, tapi jadi motivasi bagi saya bagaimana bisa menamatkan kuliah S1 dan ingin meneruskan ke jenjang S2,” katanya.

Bahkan, Aslan harus membawa bekal nasi plus lauk-pauk yang sudah dingin untuk makan siang di masjid. Itu dilakukannya penghematan keuangannya.

Aslan juga ingin seperti teman-teman kuliah lainnya memiliki sepeda motor. Honor sebagai gharin, ceramah agama dan dario wirid ditabungnya.

Akhirnya, ia bisa mewujudkan mimpinya membeli sepeda motor bekas. Meski kendaraan roda duanya tidak sebagus milik teman-temannya ia sangat bangga bisa membeli dengan hasil keringatnya sendiri.

Bagaimana dengan uang kuliah selama ini. Aslan menuturkan, biaya kuliah bersumber dari honor sebagai gharin, memberikan ceramah agama, dan sempat mendapat bantuan selama dari Baznas Kota Padang yang saat itu dipimpin Maigus Nasir (ketika kuliah program S1). Dan, biaya kuliah S2 dengan biaya sendiri.

Aslan juga mendapatkan honor sebanyak Rp50 ribu perbulan sebagai imam masjid dari Pemko Padang.

Kini, Aslan pun hidup bahagia bersama sang pujaan hati, Aulia Mailana, SPd. Ia telah melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaannya Minggu lalu. Dan, ia tinggal di kediaman isterinya di kawasan Lubuk Buaya.

Drs. Ali Abuzar, Ketua Masjid Imaduddin dan juga pemuka masyarakat setempat sangat mengapresiasi perjuangan Aslan.

“Dia tidak hanya sekedar gharin, tapi sudah seperti anak kandung bagi anak saya. Perjuangannya untuk bisa selesai studi sampai ke S2 dan mengabdi menjadi gharin bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk pengembangan diri mereka,” katanya. (*)

  • Bagikan