Api Porprov XVI disulut di Nagari Tuo Pariangan

Seorang penghulu melakukan prosesi pengambilan api Porprov. (ist)
BATUSANGKAR – Api Porprov XVI disulut di Nagari Tuo Pariangan, Rabu (30/9) melalui prosesi sakral dan  ritual pada  lapangan Sutan Suri Maharajo Dirajo.
Prosesi pengambilan api itu menjadi bagian penting dari rangkaian menuju pelaksanaan Porprov yang  berlangsung  pada 2-14 Oktober.
Api itu dikirab di Nagari Tuo Pariangan menuju ke Kota Padang untuk prosesi pembukaan.
Ketua KONI Sumatera Barat Hamdanus menyatakan  apresiasi dan terima kasih pada berbagai pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap prosesi pengambilan api Porprov.
Menurut Hamdanus, pengambilan api di Nagari Tuo Pariangan memiliki makna yang lebih luas dari sekadar seremoni. Api tersebut menjadi simbol semangat yang akan menyatukan seluruh daerah di Sumatera Barat.
Katanya, api tersebut harus dijaga agar tetap menyala dan menjadi simbol semangat olahraga di daerah ini .
“Api ini adalah api yang mempersatukan 19 kabupaten dan kota. Kita ingin api ini kita jaga, jangan sampai padam. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk perjalanan olahraga Sumatera Barat ke depan,” kata Hamdanus.
Sekdakab Abdurrahman Hadi mengatakan dipilihnya Nagari Tuo Pariangan sebagai lokasi pengambilan api memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat.
“Prosesi ini merupakan penghormatan terhadap sejarah, akar budaya, dan nilai-nilai luhur yang ada di Pariangan,” ujar Abdurrahman Hadi.
Katanya, prosesi pengambilan api sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan olahraga dan menjadi momentum untuk memperkenalkan Nagari Tuo Pariangan pada masyarakat yang lebih luas.
“Api yang diambil dari Nagari Tuo Pariangan diharapkan membawa semangat pantang menyerah, sportivitas, persatuan, dan kesadaran bersama,” ujarnya.
Sementara, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat Adib Alfikri, mengatakan prosesi pengambilan api itu mengandung nilai sejarah yang kuat.
Ia mengenang prosesi serupa yang pernah dilaksanakan pada 2018. Tradisi pengambilan api tersebut kemudian kembali dilakukan sebagai bagian dari rangkaian Porprov.
Menurutnya, Nagari Tuo Pariangan dipilih bukan tanpa alasan. Pariangan merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya penting bagi Sumatera Barat.
“Pariangan adalah kawasan yang bersejarah di Sumatera Barat. Karena itu, pengambilan api dari Pariangan merupakan bentuk penghormatan terhadap asal-usul dan tradisi yang ada di daerah ini,” katanya.
Menurut Api obor ini merupakan simbol kebersamaan dan kekayaan budaya Sumatera Barat yang harus terus dilestarikan.
Api tersebut juga dimaknai sebagai lambang semangat yang tidak pernah padam, daya juang, sportivitas, dan energi positif bagi insan olahraga. (ydi)