Limapuluh Kota – Selama bertahun-tahun jalan utama di Jorong Lakuang, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, rusak parah. Akibatnya, akses masyarakat dari dan akan menuju ke daerah itu jadi terkendala. Walau sudah berulangkali diusulkan perbaikannya melalui Musrenbang, namun tetap saja Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Limapuluh Kota belum bisa menitik. Selain itu, di jorong itu terdapat Panti Jompo Jasa Ibu yang sering dikunjungi tamu dan masyarakat dari berbagai daerah.
Kondisi jalan utama di Jorong Lakuang yang rusak parah dan tidak kunjung diperbaiki Pemda, tidak membuat warga setempat menanam batang pisang atau melepas bibit ikan seperti satire yang banyak ditemukan di berbagai daerah belakangan ini. Sebaliknya, warga dan perantau Jorong Lakuang, dengan inisiatif mereka sendiri, justru bergotong-royong memperbaiki jalan yang rusak parah itu.
“Alhamdulillah, berkat swadaya masyarakat dan perantau Jorong Lakuang, termasuk berkat dukungan dari Niniak Mamak 24 (Niniak Mamak di Jorong Lakuang-red), serta dari Pemerintah Nagari Situjuah Batua. Kini jalan di Jorong Lakuang itu, sudah dapat diperbaiki sepanjang lebih kurang 220 meter. Rencananya, perbaikan jalan ini akan kita lanjutkan lagi,” ujar Kepala Jorong Lakuang, Romel S. Fernandes, kepada wartawan, Sabtu (2/7).
Romel yang baru dua bulan menjabat kepala jorong itu, menambahkan, proses perbaikan jalan di Jorong Lakuang, dilakukan warga dan perantau dengan swadaya murni. Mantan pesepakbola Semen Padang FC, Hendra ‘Mamak’ Mahyuni dan Hakim Agung Republik Indonesia asal Jorong Lakuang, Haswandi Dt. Rajo Rambaian, serta puluhan perantau dan tokoh masyarakat lainnya, termasuk mantan Ketua PA Tanjungpati Hj. Nini dan mantan Kabag Umum Payakumbuh Supriadi Dt. Rangkayo Mulie, ikut andil dalam perbaikan jalan itu.
“Dalam perbaikan jalan tahap pertama sejauh 220 meter, kita menghabiskan 315 zak semen dan 20 truk kerikil. Semuanya, merupakan sumbangan dari perantau dan masyarakat. Sedangkan pengerjaannya, dilakukan dengan gotong-royong (goro) sebanyak 3 kali. Sekali goro, dihadiri 400-an orang. Goro dari pagi sampai sore. Konsumsi goro juga swadaya dari ibu-ibu Jorong Lakuang,” tambahnya.
Sementara itu, Walinagari Situjuah Batua Dhon Vesky Dt. Tan Marajo, yang dihubungi terpisah, mengaku bersyukur dan berbesar hati, melihat tingginya swadaya masyarakat bersama perantau Jorong Lakuang. Menurut Tan Marajo, semangat bergotong-royong dan bekerja keras seperti ini, ditemukan hampir di seluruh jorong yang ada di Nagari Situjuah Batua. Bahkan, dalam setahun terakhir ini saja, sudah enam ruas jalan rusak parah di Nagari Situjuah Batua yang diperbaiki warga dan perantau secara swadaya atau bergotong-royong.
Sebelum warga Jorong Lakuang memperbaiki sendiri jalan yang rusak parah, warga Jorong Tangah bergotong-royong mengecor ruas Jalan Gang Melayu dan Jalang Kampung Tanjuang Ateh Balai. Kemudian, warga Jorong Tepi, juga mengecor jalan dari Simpang Jorong Tepi ke Gedung Serbaguna dan Jalan Menuju Surau Dalimo. Sedangkan warga Jorong Koto, juga mengecor Jalan dari Kapalo Koto.
“Jika dihitung, nilai swadaya warga dan perantau ini, sudah lebih dari setengah miliar rupiah. Hampir separuh dari Dana Desa yang kami terima setiap tahun. Ini semakin membuktikan, bahwa dari zaman Belanda sampai sekarang, masyarakat Situjuahbatua adalah masyarakat pejuang yang rela berkorban apa saja untuk nagari dan negara,” kata Tan Marajo.
Dia menyebut, Pemerintah Nagari Situjuah Batua bersama Pucuk Adat Ka Ampek Suku, Bamus dan seluruh lembaga nagari, sangat berharap kepada Pemkab Limapuluh Kota dan Pemprov Sumbar, agar dapat memberikan stimulus atas tingginya nilai swadaya dan gotong-rotong masyarakat Situjuah Batua. Stimulus itu diharapkan dalam bentuk pembangunan makam pahlawan serta pembangunan infrastruktur jalan, irigasi, dan plat duicker yang pengerjaannya tidak bisa lagi dengan gotong royong. 207












