Padang  

Almasri: Cegah “Cakak” Antar Sekolah, Putus Mata Rantai Permusuhan Turun-temurun

Almasri

PADANG –  Cakak  antar sekolah yang sekarang disebut tawuran telah menimbulkan kekhawatiran bersama. Tawuran antar sekolah bukan sekarang saja terjadi,  huru hara  ini sepertinya sudah menjadi budaya dan “pusaka”  turun temurun. Namun  “perang”  antar sekolah beberapa tahun belakangan  jauh berbeda dengan cakak antar sekolah tempo  doeloe.

Kalau dulu,  tawuran antar sekolah paling mengakibatkan kepala bengkak atau luka lecet,  karena dilakukan dalam bentuk adu pukul, bertinju atau saling lempar dengan batu. Kalau sekarang anak-anak sudah menggunakan senjata tajam,  dengan ciri khasnya clurit.

Penggunaan senjata tajam inilah yang  menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan. Karena karakteristik cakak antar sekolah ini sudah sangat membahayakan,  maka “budaya cakak banyak”  ini harus dihapuskan.

Bagaimana menghapuskannya? Harus  dipahami dulu, budaya cakak banyak ini anut siswa SMK teknik yang dulu disebut STM atau Sekolah Teknik Menengah. Sejak dulu,  tak ada yang membantah,  kalau soal “cakak ” antar sekolah, STM memang ditakuti,  entah memang hobby atau kebanggaan, sekolah sekolah lain STM  seperti SMA dan SMEA,  tak mau meladeni anak STM,  kecuali jika diserang.  Kenyataan ini menimbulkan kebanggaan tersendiri,  kebanggaan ini lah yang dipelihara secara turun temurun.

Baca Juga  Anggota Koperbam Demo di DPRD Padang

Praktisi pendidikan sekaligus guru SMA Negeri 10 Padang,  Drs. H. Almasri M Pd mengatakan  ada  persoalan permusuhan yang  dibangun sejak dulu oleh “alumni” yang tidak  bertanggung jawab. Itu ditanamkan pada setiap siswa yang baru masuk pada  suatu  sekolah, sehingga tawuran selalu melegenda di Kota Padang.

” Hal ini saya dangar langsung dari salah seorang alumni STM katika  menjadi  kepala sekolah dulu. Mata rantai ini  yang harus kita  putus  melalui silaturrahmi  antar alumni SMK  di kota Padang”  kata Almasri mantan Kepala SMA S Pembangunan UNP.

Sikaturrahmi antar alumni adalah strategi membangun kebersamaan antar anak anak SMK. Wujud silaturrahmi ditingkat pelajar kata Almasri adalah lomba dan pertandingan antar sekolah.  “Saya usul, harus ada  pembiasaan lomba antar SMK  se Kota Padang, apakah olahraga, seni dan kreatifitas lainnya, sehingga mereka biasa bertemu dan sekolah berbeda tidak  merasa saling bermusuhan, pada awalnya perlu penjagaan yg ketat”  katanya.

Baca Juga  4 RT Zona Orange, Koto Panjang Ikur Koto Lakukan Tes Rapid Antigen

Dari pihak guru kata Almasri, harus  dirubah paradigma  bahwa  persoalan siswa di luar sekolah bukan urusan guru. “Seharusnya selagi jam pelajaran siswa harus menjadi tanggung jawab guru, guru tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya walau siswa berada di luar lokasi sekolah,   artinya guru bisa mengendalikan siswanya,  kalau mereka keluar sekolah pada jam belajar,  sekolah dan guru harus memastikan aktifitas mereka di luar sekolah tidak tawuran”  kata Almasri guru senior di SMA 10 Padang itu. (M.Khudri)