57 Tahun Bank Nagari Membangun Sumbar Sepenuh Hati

oleh -1.838 views
Hendri Nova
Wartawan topsatu.com
Tua-tua kelapa, makin tua makin berminyak. Inilah pepatah yang paling cocok untuk Bank Nagari yang sudah berumur 57 tahun.
Kenapa buah kelapa ? Karena buah kelapa yang sudah tua, semua unsur yang ada di dalamnya berguna, tak ada satupun yang terbuang.
Jika dikupas, maka sabutnya bisa menjadi bahan membuat sapu, alas kaki dari ijuk kelapa, atau pilihan terakhir sebagai bahan bakar. Sementara tempurung kelapa juga bisa diolah menjadi kerajinan, alat mainan, atau terakhir sebagai bahan bakar untuk masak, menggosok dengan bara tempurung kelapa ataupun untuk bakar ikan, sate, dan lainnya.
Isinya bisa diambil airnya menjadi santan kelapa untuk memasak, bisa juga diolah menjadi minyak kelapa, dengan sisa ampas minyaknya diolah jadi pelet.  Sementara ampas perasan kelapa, bisa untuk pakan ternak seperti untuk campuran makan itik ataupun makanan lele. Semuanya ludes bisa dimanfaatkan.
Itulah dia Bank Nagari, di usia ke-57 makin memperlihatkan kesungguhannya membangun Sumatera Barat (Sumbar). Semua produk yang dihasilkan, ditujukan untuk kemajuan sumbar.
Di usia ke-57, Bank Nagari menjelma menjadi bank yang makin matang dengan komitmen membangun Sumbar yang semakin tinggi. Masyarakat pun makin tersadarkan akan pentingnya besar bersama Bank Nagari, karena uang yang mereka investasikan di Bank Nagari akan dikembalikan ke nagari, untuk membangun nagari. Dengan arti kata, dari nagari, oleh nagari, untuk nagari.
Maka tak berlebihan jika semua rakyat Sumbar, bersungguh-sungguh mempercayai Bank Nagari agar baktinya pada nagari menjadi lebih tinggi. Beda dengan bank lain, dana yang mereka himpun, bisa dibawa ke daerah tempat bank tersebut berasal, sehingga manfaat bagi Sumbar jadi berkurang.
Kiprah Bank Nagari
Selama ini, kiprah Bank Nagari dalam komitmennya membangun nagari, tak perlu diragukan lagi. Dikutip dari Harian Singgalang, Direktur Utama Bank Nagari, Dedy Ihsan, mengatakan bahwa total alokasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk bank milik daerah ini di 2018 sebesar Rp1,1 triliun.
Ia mengatakan, target Bank Nagari untuk alokasi KUR Rp1,1 triliun selesai disalurkan sampai Desember 2018. Alokasi KUR disalurkan untuk mendukung pengembangan UMKM Sumbar, terutama yang bergerak di bidang usaha perdagangan, pertanian, perikanan dan usaha-usaha lainnya yang mendukung pariwisata menjadi lebih
maju dan mendunia.
Tidak hanya itu, di 2019 ia berharap alokasi KUR masih tetap tinggi, karena dari data yang berhasil dikumpulkan, masih banyak pelaku usaha di Sumbar yang belum mendapatkan akses permodalan bank, dan mereka memerlukan pinjaman ringan untuk mengembangkan usaha.
Sementara Kepala Humas Bank Nagari, Zulfahmi, seperti dikutip dari moneter.id menuturkan, bahwa di 2019 pertumbuhan total kredit direncanakan sekitar 9,38%. Dari jumlah itu, untuk pertumbuhan kredit produktif direncanakan sekitar 24,03%. Rencana penyaluran kredit produktif tetap lebih diarahkan ke pembiayaan UMKM.
Ia mengatakan, Sumbar menyimpan potensi penyaluran kredit UMKM yang sangat besar dan tentunya sangat menjanjikan. Apalagi sampai saat ini, baru 30% dari sekitar 500.000 UMKM di Sumbar yang baru mendapat akses pembiayaan melalui perbankan, maupun lembaga keuangan lainnya.
Pihaknya juga akan bekerja sama dengan Lembaga Penyalur Dana Bergulir (LPDB), untuk penyaluran kredit kepada UMKM yang tentunya dengan persyaratan dan tarif yang ringan.
Penyaluran KUR akan tetap mendominasi portofolio kredit perseroan, karena mendapat tempat tersendiri pada pelaku usaha. Tidak hanya itu, bagi yang tidak lolos persyaratan administrasi KUR, disiapkan jalan melalui skema non-KUR, agar tetap dapat memperoleh dana untuk memajukan usaha.
Prestasi Bank Nagari dalam penyaluran KUR sangat membanggakan, yakni  berada di peringkat keempat secara nasional setelah BRI, Mandiri, dan BNI. Bahkan jika dibandingkan dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) lainnya di Indonesia, Bank Nagari menduduki peringkat teratas dalam penyalurah KUR.
Agar penerima KUR tidak salah sasaran, pihaknya telah menyiapkan 250 analis kredit UMKM. Tujuannya tidak lain agar lebih proaktif, sehingga proses menyaluran kredit mikro dan kecil menjadi lebih mudah dan cepat.
Para analis harus menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL), alih-alih hanya ekspansi kredit dalam indeks performa para analis.
Untuk masalah NPL ini, hingga September 2018, NPL gross Bank Nagari turun tipis 8 basis poin (bps) menjadi 3,11%. Adapun, NPL net susut 43 bps menjadi 1,67%. Lalu, portofolio kredit perseroan tumbuh 8,43% menjadi Rp16 triliun dari Rp14,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kemudian, dana perseroan naik tipis 0,01% menjadi Rp18,5 triliun. Pertumbuhan tersebut menjadikan aset perseroan naik 3,43% menjadi Rp24,6 triliun dari Rp23,8 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan triwulan III/2018 perseroan, kredit UMKM berkontribusi sebesar 26,05% atau sejumlah Rp4 triliun kepada 29,56% dari total debitur perseroan. Selain itu, kredit kepada usaha mikro menyumbang 18,47% ke portofolio kredit atau senilai Rp2,8 triliun.
Bertabur Penghargaan
Bukti kinerja perusahaan yang terus meningkat, dibuktikan dengan meraih berbagai penghargaan di setiap tahunnya. Terbaru, seperti dikutip dari infopublik.id, Bank Nagari kembali menerima penghargaan bergengsi “Infobank Award 2018” dengan predikat “Sangat Bagus” dalam penilaian kinerja keuangan tahun 2017 untuk bank dengan aset Rp10 Triliun hingga Rp25 Trilyun
Penghargaan diserahkan Direktur Bisnis Infobank, Dwi Setiawati, kepada Direktur Operasional Bank Nagari, Syafrizal saat Malam Penganugerahan “Infobank Awards 2018” di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (14/8).
Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan penilaian stabilitas dan kemampuan meningkatkan kinerja keuangan bank yang dilakukan oleh Biro Riset dan Penelitian Majalah Infobank pada tahun 2017.
Menurut hasil kajian bertajuk “Rating 115 Bank 2018” yang dilakukan oleh Biro Riset Infobank, 64 bank berhasil mengukir kinerja cemerlang dengan predikat sangat bagus termasuk Bank Nagari.
Direktur Operasional Bank Nagari, Syafrizal  menyebutkan, tahun 2017 pihaknya juga mendapatkan penghargaan yang sama. Di tengah perlambatan ekonomi nasional dan global yang mendera, Bank Nagari terbukti masih mampu mempertahankan kinerja terbaiknya.
Kriteria penilaian penghargaan tersebut di antaranya meliputi kinerjanya tumbuh sangat baik, serta mampu memberikan laporan keuangan dengan baik. Kemudian mampu memanajemen resiko dengan baik, serta  baik dalam pengelolaan Good Corporate Governance (GCG).
Syafrizal mengatakan, salah satu upaya untuk maju tersebut adalah dengan melakukan transformasi atau perubahan yang lebih baik di bidang information technology (IT) yang menjadi prioritas utama bank  Nagari saat ini.
Beberapa inovasi produk berbasis IT sudah diluncurkan Bank Nagari.  Diantaranya layanan Nagari Cash Management (NCM) untuk personal dan corporate yang sudah bisa dinikmati nasabah sejak Mei lalu.
“Ada juga yang namanya Nagari e-Money. Transaksi ini melibatkan penggunaan jaringan internet dengan fitur-fitur yang ditawarkan pun sesuai kebutuhan nasabah,” katanya.
Bank Nagari juga memiliki produk Nagari Auto Debet. Ini adalah layanan pembayaran secara otomatis sesuai periode yang disepakati nasabah dan dilakukan dengan menggunakan sistem. Nagari Portal Payment, sistem yang dapat digunakan oleh mitra untuk mengelola pembayaran atas tagihan dari pihak kedua mitra tersebut tanpa harus menyediakan sistem informasi Host to Host.
Untuk melayani kepentingan pemerintah daerah, Bank Nagari juga menyediakan SP2D Online yang memungkinkan Bank Nagari mempercepat pencairan SP2D.
Selain itu, Bank Nagari juga menjadi salah satu dari 81 bank meraih penghargaan mBanking Telkomsel Bank Award 2019, kategori Kelas Bank Daerah dengan pertumbuhan transaksi tertinggi dan pertumbuhan pengguna aktif tertinggi.
Penghargaan tersebut diterima mewakili direksi, Pemimpin Divisi Dana dan Jasa Bank Nagari, Sania Putra didampingi Pemimpin Grup Pemasaran & Ebisnis, Herifitrianto dan diserahkan VP Digital Advertising and Banking Telkomsel Harris Wijaya di Sakala Resort Bali, beberapa waktu lalu.
Direktur Utama Bank Nagari, Dedy Ihsan, mengatakan penghargaan ini menjadi sebuah spirit bagi Bank Nagari untuk menjaga kepercayaan dan amanah yang diberikan nasabah. Inovasi MBanking (Mobile banking) memungkinkan nasabah melakukan transaksi secara sederhana, cepat, dan fleksibel.
Bank Nagari mencatat pertumbuhan transaksi tertinggi di 2018 mencapai 3.911.832 transaksi dan pertumbuhan pengguna tertinggi di tahun 2018 mencapai 72.638 pengguna. Bank Nagari juga telah meluncurkan beberapa inovasi produk berbasis IT. Di antaranya SMS Banking, SMS Notifikasi, Nagari Virtual Account, Nagari Money. Kemudian, Nagari Cash Management (NCM), Nagari Auto Debet dan  Nagari Portal Payment.
Sementara VP Digital Advertising and Banking Telkomsel, Harris Wijaya, mengatakan mBanking Telkomsel Bank Award 2019 merupakan sebuah penghargaan didedikasikan khusus kepada mitra perbankan dengan pencapaian terbaik untuk setiap kelas bank maupun kategori selama tahun 2018.
Membangun Sumbar Sepenuh Hati
Apa yang telah dicapai Bank Nagari sejauh ini harus disyukuri dan harus ditingkatkan di masa datang. Apalagi tingkat persaingan juga semakin tinggi dengan berbagai tawaran menggiurkan bagi para nasabah.
Bank Nagari harus terus mengikuti kemajuan di dunia perbankan, dengan tetap memantau ketat tren selera nasabah. Apalagi akhir-akhir ini gerakan tinggalkan riba semakin menggema, dengan dikomandoi Ustadz-Ustadz dan ulama-ulama kondang di televisi dan media sosial.
Tak sedikit yang sudah mengalihkan dananya ke bank syariah dan menutup habis rekeningnya di bank konvensional. Menghadapi fenomena ini, maka Bank Nagari juga harus berbenah, menjadi bank yang seperti harapan nasabah.
Untunglah, petunjuk ke arah itu makin terlihat. Bank Nagari disebut-sebut akan menjadi bank ketiga setelah Bank Aceh dan Bank NTB yang total menjadi bank syariah.
Sebagaimana dikutip dari bisnis.com, sebagian besar pemegang saham PT BPD Sumbar alias Bank Nagari sepakat untuk melakukan konversi dari bank konvensional menjadi bank syariah.
Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah, menyebutkan pihaknya mendukung penuh konversi Bank Nagari menjadi bank syariah, mengingat potensi pengembangan sektor syariah di Sumbar juga sangat besar.
Apalagi, daerah setempat sudah dijadikan sebagai salah satu daerah tujuan wisata halal Indonesia, sehingga perbankan syariah diperlukan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata tersebut.
Mahyeldi yang juga menjabat Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumbar menyebutkan, masyarakat Sumbar khususnya etnis Minangkabau yang bisa dibilang 100% adalah muslim sudah akrab dengan sistem syariah, sehingga penyediaan perbankan syariah bakal mempercepat pengembangan bank milik daerah tersebut.
Sebagai salah satu pemegang saham [mewakili Pemkot Padang], Mahyeldi mengungkapkan seluruh pemerintahan daerah di Sumbar sudah sepakat memilih melakukan konversi Bank Nagari ke syariah, bukan melakukan spin off.
Sebelumnya, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyebutkan pemerintah setempat menargetkan konversi Bank Nagari ke syariah dilakukan 2019, setelah melalui perencanaan dan persiapan yang matang.
Irwan mengatakan, pemegang saham sepakat untuk konversi ke syariah, Pemprov juga sudah dorong manajemen untuk mempercepat proses konversi.
Irwan mengakui potensi pengembangan Bank Nagari bakal lebih cerah jika mengambil segmen syariah, sebab selain masyarakat Sumbar sudah akrab dengan sistem syariah, daerah itu juga tengah giat mengembangkan pariwisata halal yang memerlukan dukungan perbankan syariah.
Dengan begitu, maka konversi Bank Nagari ke syariah dinilai tidak akan menemui hambatan dan bisa diterima semua pihak.
Adapun, untuk mempercepat proses konversi tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat telah memasukan agenda pembahasan peraturan daerah mengenai konversi Bank Nagari dalam agenda legislasi tahun 2019.
Direktur Utama Bank Nagari, Dedy Ihsan, menyebutkan pada langkah awal ada dua opsi yang disiapkan untuk pengembangan Bank Nagari ke depan, yaitu spin off unit usaha syariah menjadi dua bank atau melakukan konversi ke syariah.
Semua pilihan yang ada tergantung pemegang saham. Tentu dipilih yang paling baik, tugasnya adalah menjalankan.
Dia mengungkapkan dari dua opsi tersebut, pilihan konversi memang lebih realistis karena untuk spin off memerlukan tambahan modal yang cukup besar, mengingatkan OJK mensyaratkan modal inti minimal Rp500 miliar.
Sedangkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumbar, Darwisman menyebutkan hingga saat ini pihaknya masih menunggu penilaian tim independen terkait kelaikan konversi Bank Nagari ke syariah. Jika hasil sudah keluar, maka segera diputuskan pemegang saham, apakah dikonversi ke syariah atau tidak.
Darwisman menyebutkan jika pemegang saham sepakat untuk konversi ke syariah, maka Bank Nagari akan menjadi BPD ketiga yang beralih ke syariah, setelah sebelumnya dilakukan Bank Aceh dan Bank NTB.
Untuk diketahui, saat ini pemegang saham terbesar Bank Nagari adalah Pemprov Sumbar sebesar 31%, diikuti Pemkab Tanah Datar sebesar 7,7%, Pemkab Kepulauan Mentawai 5,5%, Pemkab Sijunjung 5,2%, dan Pemkot Padang 4,9%.
Kemudian, Pemkot Solok sebesar 4,8%, Pemkot Sawahlunto 4,5%, Pemkab Pasaman 4,4%, Pemkab Agam 4,%, dan Pemkab Pasaman Barat sebesar 3,4%.
Sisanya hanya memegang saham rerata 1% dan 2%. Mereka adalah Pemkot Pariaman, Pemkot Bukittinggi, Pemkot Payakumbuh, Pemkab Limapuluh Kota, Pemkab Pesisir Selatan, Pemkab Padang Pariaman, Pemkab Solok, Pemkab Solok Selatan, dan Pemkab Dharmasraya.
Jika konversi ke syariah terwujud, Bank Nagari tinggal menggerakkan seluruh potensi yang ada di Sumbar, untuk membesarkan Bank Nagari menjadi lebih besar lagi. Merangkul alim ulama, Ninik Mamak, Cadiak Pandai, adalah langkah strategis untuk membesarkan Bank Nagari.
Bank Nagari Syariah nantinya juga diminta menjadi garda depan, untuk menghapus stigma bahwa antara bank konvensional dan bank syariah itu hanya beda di akad saja, sementara dalam praktek hanmpir tak ada beda.
Terutama dalam hal penyaluran kredit dengan anggunan tanah maupun bangunan. Jika sudah bermerek syariah, jangan lagi ada stigma sita jaminan, agar kesan sama saja dengan bank konvensional jadi sirna.
Adopsi saja sistem gadai dengan jaminan barang yang telah lama dipraktekkan di Ranah Minang. Di mana masyarakat yang sudah tidak mampu membayar angsuran, asetnya dikelola Bank Nagari untuk dijadikan produktif.
Dari laba yang dihasilkan, untuk bagi hasil bagi pemilik tanah atau bangunan, digunakan untuk mengangsur utangnya. Jika dalam masa jaminan dikelola itu, nasabah sanggup melunasi, maka ia tidak dikenakan biaya apapun lagi alias setelah lunas, hak pemilik dikembalikan.
Cara ini, akan menjadi pembeda yang sangat berharga dan khas yang hanya dimiliki Bank Nagari. Dengan demikian tak ada masyarakat Minang yang menangis, karena tanah atau bangunannya disita Bank Nagari.
Bank Nagari hadir sebagai solusi bukan sebagai rentenir yang mengincar harta masyarakat yang tak sanggup melunasi kredit. Dengan demikian, masyarakat jadi semakin percaya pada Bank Nagari, sehingga rasa memilikinya pada Bank Nagari semakin besar.
Selain itu, rasa memiliki Bank Nagari Syariah di hati masyarakat harus dipupuk sejak dini sampai ke usia produktif lainnya. Pesan jika Bank Nagari besar maka Sumbar makin maju harus terus ditanamkan di benak masyarakat.
Dimana dana yang mereka percayakan pada Bank Nagari nantinya akan tetap berada di Sumbar dan sepenuhnya dikembalikan kepada rakyat Sumbar untuk membangun perekonomian.
Dengan demikian, Bank Nagari bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi market leader di tanah sendiri. Bravolah Bank Nagari. (*)
Loading...